TinjauAds
Tinjau

Pesan Sampah Dari Cireundeu: Pilah Atau Petaka

Dibaca dalam waktu2 Menit, 24 Detik

Cimahi, tinjau.id 21 Februari 2005 silam, 157 orang warga Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat, hilang meregang nyawa. Ia tertimbun longsor ribuan ton sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah.

Dini hari tragedi lingkungan itu terjadi. Longsor terpicu ledakan gas metan tumpukan sampah warga Bandung Raya. Sampah menimpa pemukiman warga kampung Cireundeu, Cilimus dan kampung Pojok.

Kenangan pahit warga adat Cireundeu pada tragedi kelam itu tak mudah terhapus. Tragedi ini pula yang menjadi cikal bakal ditetapkannya 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Selasa 21 Februari 2023 pagi, warga adat Cireundeu bersiap merangkai ritual tahunan peringatan HPSN. Sekaligus juga mengenang 18 tahun kepergian sanak keluarga korban tragedi sampah.

Duduk bersila di balai pertemuan berseragam pakaian adat pangsi hitam dan ikat kepala, warga melengkapi ritual dengan kembang setaman dan kendi berisi air.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Abah Widiya, salah seorang sesepuh adat membuka ritual dengan memanjatkan doa-doa, puluhan warga lainnya mengamini. Setelahnya, Abah membuka kisah kelam bagaimana tragedi sampah terjadi.

Kampung adat Cireundeu berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Umumnya kampung adat di tatar pasundan,  Cireundeu memiliki lahan hutan larangan, pemukiman dan garapan.

Tahun 1982, pemerintah membuka 10 hektar lahan hijau menjadi tempat pembuangan sampah limbah rumah tangga masyarakat di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Lahan TPA itu tepat berada di atas perkampungan adat, awal TPA beroperasi tidak ada masalah bagi warga adat yang menjadikan singkong sebagai makanan pokok.

Gunungan sampah tanpa pengolahan itu mulai bermasalah, air lindi mencemari sumber air bersih bahkan puluhan mata air hilang tertelan tumpukan sampah.

Sejak saat itu, warga adat berupaya mengingatkan pemerintah untuk segera menutup TPA atau memperbaiki tata kelola TPA, namun teriakan rakyat jelata tetap saja terabaikan.

Pemerintah terus membuang sampah ke Leuwigajah, hingga puncaknya petaka bencana longsor terjadi menimpa warga. Ratusan nyawa melayang bahkan sebagian jasadnya hilang hingga kini.

“Air ini dari mata air atah seke Gunung Pasir Panji, Mata air itu dulu tercemar air lindi. Seiring berjalannya waktu, alam memulihkan diri sendiri,” ucap Abah Widi menerangkan sesajian apa saja pelengkap ritual hari itu.

Tempat ritual berada di tepi tebing puncak salam, nampak lahan kosong hijau di seberang tebing berdampingan dengan permukiman warga.

Lahan kosong yang sudah menghijau itu dulunya area TPA.

“Dua kampung hilang dari peta, tertimbun longsor sampah waktu itu. Sekarang bekas tumpukan sampah telah menghijau,” ucapnya

Usai memanjatkan doa, sesajen dilarung sebagai persembahan pada warga adat Cireundeu yang telah mangkat akibat tragedi.

“Kami tidak akan pernah bisa lupa perihnya kehilangan keluarga dan saudara. Makanya tiap tahun akan selalu memeringati kejadian ini secara sederhana,” terang Abah Widi.

Melalui rangkaian ritual ini, masyarakat adat Cireundeu mengirim pesan akan pentingnya menjaga lingkungan. Mereka mengingatkan pemerintah tidak semena-mena pada kebijakan.

“Kenapa bisa terjadi?, Ternyata ini kan ada aturan yang dilanggar, konsep yang tidak benar oleh pengelola TPA ini. Dengan ritual, tujuannya mengingatkan agar kejadian 18 tahun lalu, jangan sampai terulangi lagi. Jangan tunggu petaka,” ucapnya.

Back to top button