Eri Cahyadi Beberkan Penanganan Stunting di Depan Mega dan Menkes
Eri Cahyadi membeberkan penanganan stunting di Kota Surabaya. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Surabaya tercatat di level 4,8 persen, terendah di Indonesia. .
Surabaya, tinjau.id – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membeberkan program penanganan stunting di forum nasional yang digelar lintas kementerian/lembaga.
Forum itu bertajuk “Kick Off Meeting Pancasila dalam Tindakan: Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, KDRT, dan Mengantisipasi Bencana.”
Forum itu dihadiri Presiden ke-5 yang Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Menkes Budi Gunadi Sadikin. Mensos Tri Rismaharini. Menteri PANRB Azwar Anas, Menteri PPPA Bintang Puspayoga, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Panglima TNI Yudo Margono, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dan sejumlah pejabat lainnya.
Menurut Eri Cahyadi, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Surabaya tercatat di level 4,8 persen, terendah di Indonesia.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Secara nasional, rata-rata stunting masih berada di level 21 persen. Adapun bila berdasarkan bulan penimbangan serentak, prevalensi stunting di Surabaya pada 2022 hanya tinggal 1,22 persen.
“Sejak awal menjabat wali kota, kami langsung tancap gas soal stunting. Presiden Jokowi dan Ibu Megawati selalu pesan soal pentingnya penanganan stunting. Karena ini soal masa depan generasi penerus. Setelah menjadi yang terendah se-nasional tahun 2022, tahun 2023 ini kami mohon doa restu Surabaya bisa zero stunting,” kata Eri Cahyadi.
Penanganan Stunting
Eri Cahyadi menjelaskan, usai dilantik langsung menjalankan sejumlah program penanganan stunting.
Eri Cahyadi memulai dari pendataan. Pihaknya melakukan pendataan kesehatan setiap calon pengantin. Semua data terintegrasi antara Kantor Kementerian Agama dan Puskesmas.
“Jadi langsung ketahuan, bagaimana lingkar lengan atas dan indeks masa tubuh calon pengantinnya. Ini penting untuk tahu apakah ada risiko kekurangan energi kronis atau kekurangan gizi, sehingga ada antisipasi. Di situlah Pemkot Surabaya melalui Puskesmas melakukan intervensi, bisa berupa tambahan gizi dan sebagainya,” kata Eri Cahyadi.
Basis data tersebut sangat penting untuk memastikan penanganan stunting bisa lebih efektif. “Bayangkan kalau rata-rata 2 juta orang se-Indonesia yang menikah per tahun kita punya data kesehatannya, dan itu terintegrasi dari KUA sampai Puskesmas seperti di Surabaya, tentu kita punya peluang besar untuk menyelamatkan anak bangsa dari potensi stunting,” kata Eri Cahyadi.
Dari sisi pendataan, dia juga mengandalkan gotong royong warga Surabaya. Di antaranya melalui aplikasi “Sayang Warga” di mana para kader kesehatan, RT/RW, dan warga bisa mendata dan melaporkan kondisi balita di sekitarnya.
“Berkat kehebatan gotong royong inilah, semua permasalahan terdeteksi dan kita beri solusi. Tidak hanya stunting, ada soal rumah tidak layak huni, masalah pendidikan, sosial, dan sebagainya. Bahkan di tingkat RW ada dapur umum di mana warga gotong royong saling bantu untuk pemberian makanan bagi balita di wilayahnya,” katanya.
Pihaknya juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan balita stunting secara intensif, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
Pemkot Surabaya memberikan bantuan makanan tambahan kepada para ibu hamil berisiko tinggi dan balita stunting.
“Artinya sejak dalam kandungan, kesehatan janin sudah diperhatikan. Kami juga memberikan bantuan makanan tambahan rutin ke puluhan ribu pelajar PAUD untuk menjaga tumbuh kembangnya,” imbuh Eri Cahyadi.
Tanaman Pangan Alternatif
Eri Cahyadi menambahkan, Surabaya juga berinovasi dalam hal pemenuhan gizi stunting dengan memasifkan penanaman tanaman pangan alternatif.
Hal tersebut bermula dari pertemuannya dengan Megawati yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Maret 2022.
Megawati meminta dia untuk menanam tanaman pangan alternatif.
Pihaknya langsung memetakan. Ternyata kita bisa tanam di 1.169 hektare lahan aset Pemkot Surabaya yang idle.
Pemkot menanam ketela pohon, ketela rambat, jagung, hingga sorgum. Yang mengelola 2.087 warga.
Total panen 18 ton pada 2022. Pihaknya juga mengelola budidaya ikan. Sehingga komplet.
“Ada pangannya, ada proteinnya. Hasilnya untuk menambah pendapatan warga pengelola, sebagian untuk pemenuhan gizi keluarga termasuk balita dan anak-anak masyarakat sekitar,” pungkas Eri Cahyadi.
Editor: Rully Satriadi









