Jamur Beracun Mirip Jamur Konsumsi, Jangan Termakan!
Jamur beracun mirip jamur konsumsi? Jangan sembarangan agar tidak termakan. Jamur itu ialah ‘Amanita phalloides’ atau ‘Death Cap’ (Payung Maut). Jamur ini mirip jamur konsums. Perhatikan perbedaannya.
Jakarta, tinjau.id – Bagi orang Indonesia, memakan jamur bukanlah yang yang baru. Bukan hanya Indonesia, hampir di seluruh dunia orang memakan jamur. Bahkan hewan sesekali juga memakan jamur.
Tentu tidak semua jenis jamur dapat menjadi santapan yang nikmat. Salah satunya ialah jamur payung maut, atau biasa di kenal Death Cap.
Jamur Payung Maut berasal dari genus Amanita Genus ini berisikan sedikitnya 600 spesies fungi mulai dari yang beracun, hingga beberapa spesies jamur edible yang dapat manusia konsumsi.
Menurut penelitian, kelompok jamur Payung Maut setidaknya bertanggung jawab atas terjadinya 95% kasus keracunan jamur. Ironisnya, 50% dari kasus tersebut pakar ketahui ulah Jamur Death Cap.
Rupa Amanita Phalloides memang unik, tudungnya kehijauan dengan tangkai berwarna putih. Ia mirip jamur konsumsi sehingga banyak masyarakat yang berpikir jika fungi tersebut tidak berbahaya.
Morfologi dan Ciri-Ciri Amanita Phalloldes
Secara morfologi, penampilan Death Cap memang sangat mirip dengan Jamur Kancing (Agaricus bisporus). Keduanya sama-sama memiliki tudung berbentuk payung dengan batang berwarna putih.
Meski begitu, corak tudung Champignon (nama lain Jamur Kancing) cenderung putih bersih atau berwarna krem, la aman untuk manusia konsumsi, bahkan sangat berguna bagi dunia kesehatan.
Berbicara soal struktur tubuh, Amanita Phalloides biasanya pakar identifikasi menjadi beberapa bagian yakni pileus, lamella atau gills, stipe, serta cincin atau annulus. Berikut penjelasannya:
Pileus (tudung); adalah bagian yang ditopang oleh stipe Bagian satu ini dapat kita tandai dari bentuknya yang mirip seperti payung, serta mengandung bilah-bilah pada bagian bawahnya
Lamella atau Gills; merupakan bagian bawah tudung yang berbentuk helaian berbilah-bilah
Stipe (tangkai tuduh buah); adalah massa miselium yang tumbuh tegak dan sangat kompak
Cincin atau annulus terletak di tangkai tudung. Seperti namanya, bagian ini tampak melingkar serta berbentuk seperti cincin
Dalam proses pertumbuhannya, tudung death cap dapat berubah warna dari hijau menjadi merah, cokelat muda, cokelat tua, sampai kuning, la memiliki pola bintik-bintik dengan corak keputihan.
Tampilan menipu
Beberapa jamur beracun lainnya sering menandakan toksisitasnya dengan warna-warna cerah. Penampilan Death Cap cukup sederhana dan dapat dengan mudah menipu manusia atau hewan peliharaan yang mencari camilan enak di hutan atau taman.
Hanya dibutuhkan setengah bagian jamur untuk membunuh seseorang. Tanpa intervensi medis, gejala dapat muncul segera setelah enam jam setelah menelannya, dan potensi gagal hati segera menyusul.
Jelas, penyebaran Death Cap merupakan risiko serius bagi kesehatan manusia dan hewan. Pada tahun 2016, selama wabah Death Cap lokal yang sangat parah di San Francisco, sebanyak 14 kasus keracunan pada manusia dikaitkan dengan jamur. Biasanya di Amerika Serikat, kasus semacam ini hanya ada beberapa tahun.
Sekarang para ilmuwan memiliki wawasan yang lebih baik tentang bagaimana Death Cap menyebar di Amerika Utara, mungkin mereka dapat mulai menyusun strategi untuk menahan risiko tersebut.***









