TinjauAds
Tinjau

Curah Hujan Tinggi, Waspadai Penyakit Leptospirosis

Dibaca dalam waktu1 Menit, 16 Detik

Saat curah hujan tinggi kita patut mewaspadai leptospirosis. Pasalnya, kita bisa tertular penyakit mematikan tersebut jika kontak dengan air –berupa genangan, banjir, becek, maupun tanah lumpur, yang mengandung bakteri leptospira.

Probolinggo, tinjau.id Saat musim penghujan, bakteri yang tumbuh subur dalam lingkunan yang lembab tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka/lecet. Sumbernya, berasal dari air kencing hewan, terutama tikus.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Saleh, dr. Rizki Habibie, Sp.PD, penderita leptospirosis ada yang ringan dan berat.  Leptospirosis ringan, ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri perut, mual dan muntah. Yang khas adalah nyeri otot, terutama di betis.

Leptospirosis berat komplikasinya variatif. Bisa menyerang otak, gagal hati (kuning karena tidak berfungsi livernya), penurunan fungsi ginjal, perdarahan di paru, komplikasi di jantung hingga bisa kematian.

“Tahun lalu di Kota Probolinggo ada pasien yang meninggal dunia (karena leptospirosis). Untuk itu, tidak bisa dianggap sepele penyakit ini.  Januari lalu saya juga menangani pasien dengan kategori berat, sehingga harus merujuknya ke RS Saiful Anwar Malang,”ujarnya.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Penanganannya,  pertama dengan terapi cairan. Misal memberi infus agar pasien tidak dehidrasi. Selanjutnya, pemberian antibiotik golongan penisilin, dan yang paling sering adalah memakai golongan doksisiklin.

Pasien kategori ringan hingga sedang kondisinya bisa segera pulih dengan masa pengobatan sekitar seminggu. Namun jika kategori berat ada komplikasi, tidak bisa diprediksi waktu penyembuhannya.

Untuk preventif,  pekerja yang beresiko karena aktifitasnya di air, bisa mengkonsumsi profilaksis doksisiklin. Dosisnya 1 kali 100 mg selama 1 minggu.  Obat ini dikonsumsi saat turun ke daerah genangan, khawatir ada indikasi bakteri leptospira.

 

 

 

Back to top button