TinjauAds
Tinjau

Dipicu Adanya Pemukulan Suporter oleh Polisi

Dibaca dalam waktu2 Menit, 15 Detik

Suko Sutrisno menegaskan tragedi di Kanjuruhan dipicu oleh adanya pemukulan suporter oleh oknum Polisi, Itulah keterangan yang diberikannya saat menjadi saksi dalam sidang Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya.

Surabaya – Security Officer Suko Sutrisno memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang Tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya, Kamis (7/2/23). Dalam kesaksiannya, Suko mengatakan peristiwa yang menewaskan 135 orang ini tidak akan terjadi apabila polisi tidak melakukan tindakan represif pada suporter.

Selain Suko Sutrisno, Ketua Panitia Pelaksana Abdul Haris juga dimintai keterangan. Keduanya didatangkan sebagai saksi mahkota dalam sidang Tragedi Kanjuruhan yang mendudukkan tiga terdakwa dari kepolisian. Yakni, Danki 1 Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi.

Berkali-kali Suko Sutrisno dalam persidangan mengatakan bahwa kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan tak akan terjadi apabila polisi tidak memukul suporter

“Ada pemukulan ke suporter oleh Bapak aparat,” ujar Suko, saat memberikan kesaksian.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Lebih lanjut Suko mengatakan, suporter turun ke lapangan sudah biasa terjadi di Malang, mereka hanya memberikan semangat pada pemain Arema.

Saya Sudah Tanya Para Pemain

Keterangan Suko ini berusaha dimentahkan tim kuasa hukum terdakwa dengan mengatakan bahwa ada upaya penyerangan yang dilakukan suporter terhadap para pemain.

“Saksi yakin bahwa suporter yang turun ke lapangan tersebut tidak memukul pemain? Padahal faktanya ada pemukulan yang dilakukan suporter pada pemain. Dalam rekaman video ada suporter Arema tertinggal di lapangan lalu dipukuli suporter,” ujar salah satu kuasa hukum terdakwa.

Mendapat pertanyaan tersebut, Suko menantang balik tim kuasa hukum terdakwa untuk menunjukkan adanya bukti pemukulan yang dilakukan suporter terhadap pemain.

“Saya sudah tanya pemain satu-satu. Apakah ada luka dan apakah ada yang dipukul? Semua pemain tidak ada yang luka maupun dipukul. Bahkan saya meminta agar para pemain untuk visum, dan tidak ada luka pada mereka,” ujar Suko.

Tindakan pemukulan aparat tersebut kata Suko, terlau berlebihan. Sebab, menurutnya aksi suporter yang turun ke lapangan itu sudah biasa terjadi di Malang. Dan hubungan antara steward dengan suporter sudah seperti biasa.

“Bila ada insiden ya insiden kecil. Bisa kita kendalikan. harusnya kalau ada suporter turun dibiarkan nanti akan balik sendiri,” tambahnya.

Bila sudah begitu kata Suko, match steward biasanya juga akan mengarahkan suporter untuk keluar lapangan. Kemudian mereka pulang melalui pintu darurat.

“Kami sudah tahu karakter Aremania, karena kami sudah seperti suadara. Pertandingan sebelum-sebelumnya sama seperti itu juga turun, hanya salaman dengan pemain memberi semangat. Mereka turun, lalu pulang karena pintu darurat sudah dibuka,” ucapnya.

Karena kekerasan dan penembakkan gas air mata, lanjut Suko, suporter pun marah, mereka akhirnya melakukan penyerangan menggunakan sepatu, batu atau botol. Sasarannya, pun sudah jelas bukan steward, melainkan polisi.

“Faktanya steward enggak ada yang dipukuli, yang jadi korban dan sebagaianya. Malah yang jadi kendaraan Bapak aparat,” pungkasnya

Editor: Stebby Julionatan

Back to top button