Tidak Ada Hidup yang Sempurna
Tidak ada hidup yang sempurna. Keindahan sejatinya terletak pada kesederhanaan. Hal yang luar biasa tidak membutuhkan ornamen atau hiasan. Sesuatu yang berlebihan justru tampak tidak indah, harmonis dan alami.
Jakarta – Menikmati hidup. Jadi hal penting saat ini. Maknanya, tidak sama dengan bertahan hidup. Di mana letak perbedaannya?
Ketika kita menikmati hidup, segalanya menjadi lebih maksimal. Hidup terasa lebih indah karena kita bisa merespon setiap emosi. Begitu inti dari buku Kintsugi yang ditulis oleh seorang psikolog, Tomas Navarro. Navarro membagikan berbagai situasi yang ia temui dalam praktik profesional. Semuanya merupakan kasus nyata.
Kintsugi memiliki arti perekat bersepuh emas, merupakan seni Jepang kuno untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Ketika sebuah keramik pecah, para ahli kintsugi memperbaikinya dengan emas dan membiarkan jejak rekonstruksinya terlihat jelas. Bagi mereka, potongan yang mereka rekonstruksi adalah simbol kerapuhan, kekuatan, sekaligus keindahan.
Lebih jauh, Navarro menjelaskan bahwa keramik bersifat rapuh, tetapi juga kuat dan indah. Keramik tersebut baginya sebenarnya sama dengan manusia. Manusia dapat hancur berkeping-keping namun dapat pulih jika tahu cara tepat untuk memperbaikinya.
Penulis menyebut bahwa hidup maksimal adalah kehidupan yang autentik. Menjadi sosok yang berbeda adalah hal terbaik yang pernah dialami manusia. Jika itu dijalankan, seseorang manusia tak perlu menjadi seperti orang lain. Keunikan yang ada di dalam diri sebaiknya tidak disembunyikan atau ditinggalkan. Karena hal itulah yang membuat seseorang menjalani kehidupan tidak seperti yang orang lain jalankan.
Penderitaan Adalah Jalan Untuk Tumbuh
Selama ini, seseorang jarang belajar dari kehidupannya yang penuh tantangan dan masalah. Atau, bahwa pengelolaan masalah yang tepat ternyata bergantung pada kebahagiaan. Sebaliknya, seseorang dibuat percaya bahwa hidup harus bisa menjadi tempat yang mendatangkan hal-hal membahagiakan dan memberikan kenyamanan. Padahal gagasan itu benar-benar irasional dan bias.
Navarro yang saat ini bermukim di Girona dan Barcelona juga mengajarkan bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia. Ia memanfaatkan penderitaan justru untuk tumbuh.
Buku terbitan Mahaka Publishing ini, meski penuh perenungan filosofis, tersaji dengan bahasa sederhana. Kintsugi mudah dipahami dan bisa dinikmati sambil bersantai. Pembaca bisa melahap buku setebal 420 halaman ini dari bagian mana pun yang ia suka. Pesan lain bagi pembaca dari Navarro adalah jangan menjalani hidup sendirian.
“Jangan menjalani dengan diam. Jangan malu dan jangan mengisolasi diri. Karena itu tidak pernah menjadi solusi.”
Penulis: Yeti Kartikasari
Editor: Stebby Julionatan









