TinjauAds
Tinjau

Kasus Stunting di Balikpapan Meningkat

Dibaca dalam waktu1 Menit, 24 Detik

Kasus stunting di Balikpapan terus meningkat. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan stunting di Kota Balikpapan meningkat dari 17 menjadi 19 persen.

Balikpapan – Meningkatnya jumlah kasus stunting di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, terungkap saat pemkot setempat menggelar rapat koordinasi penurunan kasus stunting tahun anggaran (TA) 2023 di Balai Kota, Selasa (31/1/23) siang.

Rapat yang melibatkan berbagai elemen dan instansi terkait tersebut membahas tingginya kasus stunting yang melanda Balikpapan dalam kurun waktu 2022.

Kepala DP3AKB Balikpapan, Alwiati menjelaskan kasus stunting di Kota Balikpapan naik dari 17 menjadi 19 persen.

“Berdasar hasil survei SSGI, Kota Balikpapan mengalami peningkatan jumlah kasus stunting. Dari sebelumnya hanya 17 persen, naik menjadi 19 persen,” ujar Alwiati.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Naiknya jumlah kasus stunting ini pun menjadi perhatian serius Pemkot Balikpapan.

“Data itu otomatis menjadi warning bagi kita semua untuk melakukan percepatan penurunan stunting,” kata Alwiati.

Padahal menurutnya, berdasarkan pengumpulan data di puskesmas-puskesmas, jumlah stunting di Balikpapan justru mengalami penurunan. Dari yang semula 2.190 kasus di tahun 2021, turun menjadi 1.458 kasus di tahun 2022 lalu.

Meski demikian, Pemkot Balikpapan tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi lonjakan stunting pada 2023. Caranya, dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,9 miliar untuk penanggulangan stunting yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Anggaran tersebut khusus untuk pembiayaan transportasi Tim Pendamping Keluarga.

Sementara itu, hingga kini Pemkot Balikpapan belum memiliki anggaran pemberian makanan tambahan bagi keluarga yang berisiko stunting.

“DP3AKB telah mengalokasikan anggaran Rp1,9 miliar untuk penanggulangan stunting Kota Balikpapan yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2023. Alokasi anggaran itu digunakan khusus untuk pemberian transportasi bagi petugas tim pendamping keluarga beresiko stunting. Sedangkan, anggaran pemberian makanan tambahan bagi keluarga beresiko stunting hingga kini masih belum ada,” tutupnya.

Editor : Stebby Julionatan

Back to top button