TinjauAds
Tinjau

Harga BBM Akan Turun di Awal Februari?

Dibaca dalam waktu2 Menit, 44 Detik

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan turun pada awal Februari? Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi rujukan.

Jakarta – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi biasanya berubah setiap tanggal 1 di setiap bulannya. Perubahan harga BBM non subsidi ini biasanya berlangsung rutin, baik oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Pertamina (Persero) maupun badan usaha swasta seperti Shell, BP-AKR, maupun PT Vivo Energy Indonesia.

Tren menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (kurs) dan harga minyak yang relatif masih di sekitar US$ 80 per barel diperkirakan akan mendorong harga BBM non subsidi pada periode Februari 2023 ini bisa lebih rendah dibandingkan Januari 2023.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menyampaikan hal tersebut. Dia menyebut, karena dua faktor tersebut merupakan faktor penentu harga BBM, maka kemungkinan harga BBM di bulan Februari mendatang akan mengalami penurunan.

Pada perdagangan Senin (30/1/23) harga minyak mentah jenis Brent tercatat US$ 84,9 per barel, turun 2,03% dibandingkan posisi sebelumnya. Sementara jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) anjlok 2,23% ke US$ 77,9 per barel.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sementara kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada 30 Januari 2023 tercatat Rp 14.979 per US$, sudah menguat daripada saat awal Januari yang masih berada pada Rp 15.000 per US$, bahkan pada 10 Januari 2023 saja kurs sempat mencapai Rp 15.589 per US$.

BBM non subsidi mungkin turun

“Kalau (BBM) non subsidi perkiraan akan turun karena variabel pembentuk harga keekonomian juga turun. Minyak mentah yang berada di kisaran US$ 80 per barel dan kurs Rupiah yang lebih menguat jadi faktor utama tren harga bbm non subsidi turun pada Februari,” tuturnya.

Perkiraan harga turun BBM non subsidi ini merupakan hal yang positif. Bhima menyebutkan hal ini juga bisa menjadi pergerakan ekonomi pasca pencabutan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) oleh pemerintah.

“Tentu ini positif ya bagi gerak ekonomi paska pencabutan PPKM,” tandasnya.

Menurutnya, harga keekonomian BBM Pertamax (RON 92) bisa turun di kisaran harga Rp 11.900 per liternya.

“Pertamax bisa di bawah 11.900 per liter,” ucap Bhima.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, menyatakan pihaknya masih melakukan review. Review yang akan terjadi dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang melandai dan penguatan kurs rupiah terhadap dolar. Oleh sebab itu, dia belum dapat memastikan apakah harga minyak akan mengalami penurunan pada Februari mendatang.

“Melihat tren harga minyak, MOPS maupun kurs. Ini yang kami review. Kita tunggu hasil reviewnya ya,” kata Irto, Rabu (25/1/23).

Seperti yang kita tahu, badan usaha penyedia BBM belum lama ini kompak menurunkan harga produk BBM-nya pada 3-4 Januari 2023 lalu, termasuk Pertamina.

Pertamina menurunkan harga produk BBM non subsidi Pertamax Cs. Misalnya untuk harga Pertamax di DKI Jakarta turun Rp 1.100 per liter menjadi Rp 12.800 per liter dari sebelumnya Rp 13.900 per liter pada periode Desember 2022.

Sementara untuk Pertamax Turbo turun Rp 1.150 per liter menjadi Rp 14.050 per liter, dari sebelumnya Rp 15.200 per liter. Kemudian untuk produk Dexlite kini seharga Rp 16.150 per liter, turun Rp 2.150 per liter dari sebelumnya Rp 18.300 per liter. Pertamina Dex memiliki harga Rp 16.750 per liter, turun Rp 2.050 per liter dari sebelumnya Rp 18.800 per liter.

Editor: Michael Ckow

Back to top button