TinjauAds
Tinjau

Pembakaran Al-Qur’an Di Swedia, Turkiye Marah Besar

Dibaca dalam waktu2 Menit, 11 Detik

Pembakaran Al-Qur’an di Swedia oleh politikus sayap kanan Rasmus Paludan membangkitkan amarah Turkiye. Swedia sedang butuh dukungan Turkiye untuk bergabung dengan aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Aksi ini kemungkinan besar mempersempit dukungan itu.

Jakarta – Aksi pembakaran salinan Al-Quran oleh politikus sayap kanan Rasmus Paludan telah menimbulkan kemarahan besar di Turkiye.

Paludan membakar salinan Al-Qur’an saat Swedia tengah mengandalkan dukungan Turkiye untuk bisa bergabung dengan aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Aksi ini terjadi pada saat demonstrasi anti-Turkiye di Stockholm, Swedia.

Aksi pembakaran salinan Al-Qur’an tersebut telah meningkatkan ketegangan antara Swedia dengan Turkiye. Paludan, yang juga berkewarganegaraan Swedia, ternyata pernah menggelar sejumlah demonstrasi di masa lalu. Ketika itu dia juga melakukan hal yang sama: membakar Al-Qur’an.

Paludan belum dapat terhubung bahkan melalui email untuk memberikan komentar mengenai aksinya itu. Dalam izin yang polisi berikan, katanya protes ia kemukakan terhadap Islam dan upaya Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan untuk memengaruhi kebebasan berekspresi di Swedia.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Turkiye tuduh Swedia terlibat pembakaran Al-Qur’an

Menteri Luar Negeri (Menlu) Turkiye Mevlut Cavusoglu menyebut pemerintah Swedia terlibat dalam aksi pembakaran Al-Quran dalam unjuk rasa di Stockholm akhir pekan lalu.

Melansir CNN, Jumat (27/1/23), Cavusoglu menyalahkan pemerintah Swedia setelah Kepolisian Stockholm mengizinkan unjuk rasa oleh Paludan. Cavusoglu meminta pemerintah Swedia bertanggung jawab atas aksi pembakaran Al-Quran oleh Paludan dalam unjuk rasa itu.

Menurut Kantor Berita Anadolu Agency, Cavusoglu menyebut pemerintah Swedia ‘turut terlibat dalam kejahatan ini dengan membiarkan aksi keji ini’ berlanjut. Aksi itu memicu kemarahan besar. Di Ankara, demonstran turun ke jalanan dan membakar bendera Swedia di luar kantor Kedutaan Besar Swedia sebagai balasan.

Menurut Cavusoglu, insiden itu merupakan ‘serangan rasisme’ yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan berpikir.

Cavusoglu menyarankan Swedia untuk ‘membersihkan ranjau’ pada jalan menuju keanggotaan NATO atau berisiko merusak kesempatannya dengan ‘menginjak ranjau-ranjau itu’.

Erdogan ancam Swedia soal keanggotaan NATO

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan sudah angkat bicara terkait pembakaran salinan Al-Qur’an oleh Paludan. Swedia menurutnya jangan lagi berharap dukungan dari Turkiye untuk masuk menjadi anggota NATO.

“Mereka yang mengizinkan penistaan agama seperti itu terjadi di depan kedutaan kita tidak lagi bisa mengharapkan dukungan kita untuk keanggotaan NATO mereka,” kata Erdogan dalam pidatonya setelah rapat kabinet pada Senin (23/1/23).

“Jika Anda memang sangat mencintai anggota organisasi teroris, musuh Islam, bahkan melindungi mereka, maka kami sarankan Anda untuk meminta dukungan mereka saja demi keamanan negara Anda,” tambah Erdogan merujuk pada kelompok pro-Kurdi di Swedia.

Menteri Luar Negeri Swedia Tobias Billstorm menolak mengomentari pernyataan Erdogan tersebut.

“Swedia akan menghormati kesepakatan yang ada antara Swedia, Finlandia, dan Turkiye, mengenai keanggotaan NATO kami,” ujarnya.

Editor: Michael Ckow

Back to top button