Hari Suci Siwaratri: Menyucikan Diri
Hari Suci Siwaratri adalah hari tatkala Dewa Siwa beryoga semadi, harapannya seluruh umatnya melakukan hal yang sama, upacara dan sembahyang di Pura.
Denpasar – Umat Hindu di Bali merayakan Hari Siwaratri dengan serangkaian upacara dan sembahyang di rumah serta di Pura.
Mengingat Dewa Siwa beryoga semadi, harapannya seluruh umatnya melakukan hal yang sama.
Inti makna dari perayaan Siwaratri adalah penyucian diri, baik itu pikiran, perkataan, hingga perbuatan (Tri Kaya Parisudha).
Saat penyucian diri dapat terlaksana, harapannya umat bisa fokus pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Menjalankan ajaran agama sesuai dengan Dharma, dan menjauhi larangan yang menyebabkan karma buruk.
Untuk itu, saat Siwaratri seharusnya umat manusia, khususnya umat Hindu memusatkan pikiran dan konsentrasi memikirkan Dewa Siwa sebagai salah satu manifestasi Tuhan itu sendiri.
Dewa Siwa adalah salah satu bagian dari Tri Murti dan bertugas melebur segala yang ada di dunia ini. Sakti beliau adalah Dewi Uma, yang kita kenal sebagai Dewi Durga tatkala tinggal dalam istana Prajapati, Pura Dalem.
Untuk mencapai tujuan baik tersebut, ada tata cara dalam melaksanakan perayaan hari suci Siwaratri.
Ihwal puasa atau brata adalah penjelasan dalam lontar terkait Siwaratri. Monabrata adalah hal yang harus terjadi saat Siwaratri oleh brata. Monabrata artinya tidak berbicara dan berdiam diri.
Lalu Upawasa, yakni tidak makan dan tidak minum.
Brata yang menjadi ciri khas Siwaratri adalah Jagra, yakni tidak tidur dan terjaga sepanjang malam.
Tapa brata menjadi penting, karena hari suci Siwaratri terjadi hanya dalam waktu tertentu yakni setahun sekali saja. Besar harapan umat manusia khususnya umat Hindu memanfaatkan situasi ini sebaik-baiknya.
Tata cara lainnya
Tata cara lainnya, adalah dengan maprayascita atau pembersihan diri baik pikiran (batin) dan raga (jasmani). Menghaturkan banten pejati di Sanggah, sembari sembahyang kehadapan Sang Surya.
Konon Dewa Surya adalah dewa kesayangan Dewa Siwa, sehingga mendapat sebutan Siwa Raditya dan Surya Raditya. Kemudian sembahyang ke hadapan leluhur, memohon tuntunan dalam mengarungi kehidupan di dunia.
Juga ada ritual menghaturkan banten pejati di hadapan Dewa Siwa, yang bisa ditempatkan di Palinggih Padmasana atau di Piasan merajan dan sanggah. Kemudian sembahyang ditujukan ke hadapan Dewa Siwa agar ia memberikan anugerah kepada umat.
Demikian pula jika sembahyang di pura, agar tetap memohon kepada Dewa Siwa, Dewa Surya, dan Dewa Samodaya. Setelah prosesi sembahyang selesai, umat bisa melakukan tapa semadi dan menjaga agar tetap Jagra dan Upawasa.
Untuk melaksanakan puasa terhitung dari pagi hari pada panglong ping 14 sasih kapitu, sampai keesokan harinya (pagi) selama 24 jam.
Setelah itu bisa memakan nasi putih, dan minum air putih, bisa pula ditambahkan garam. Jagra sendiri dimulai pada panglong ping 14, dan berakhir pada keesokan harinya pukul 18.00 WITA.
Melakukan cara ini sebanyak tiga kali, yakni menjelang malam panglong ping 14 sasih kapitu, pada tengah malam, dan besoknya menjelang pagi.
Editor: Michael Ckow









