Renungan Katolik Minggu Prapaskah III, 13 Maret 2025

TINJAU – “Mencari Akar Dosa”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Kel. 3:1-8a.13-15
Bacaan II : 1 Kor. 10:1-6.10-12
Bacaan Injil : Luk. 13:1-9
Beberapa waktu yang lalu, saya termasuk orang yang suka tanam-menanam. Oleh karena itu, saya pun belajar menanam dengan baik. Mulai dari belajar menanam secara konvensional sampai menanam secara hidroponik. Tentu dalam momen tanam-menanam ini, saya bertemu dengan berbagai kendala penanaman. Misalnya saja saya harus berhadapan dengan tanaman yang sakit atau terserang hama. Ketika saya harus memutuskan bahwa tanaman ini dicabut dan dimusnahkan, muncul rasa sedih karena merasa bahwa segala hal sudah diupayakan agar tanaman tersebut tetap tumbuh, tetapi ternyata hasilnya nihil.
Hal ini juga yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Yesus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan. Kita dapat membandingkan hidup kita sebagai tanaman-tanaman yang dipelihara oleh Allah. Namun demikian, ada penyakit dan hama yang mengganggu pertumbuhan kita. Dengan demikian, seringkali kita menjadi mandeg dan tidak berbuah. Meskipun berbuah, buahnya tidaklah maksimal. Nah, penyakit dan hama dalam diri kita adalah dosa dan kesalahan. Sekecil atau sesederhana apapun dosa, tetaplah itu sebuah dosa. Kita tidak bisa mengatakan bahwa “Ah, ini sih dosa kecil. Jadi, tidak perlu dipikirkan!”. Mau kecil atau besar, dosa tetaplah sebuah dosa. Apalagi seringkali terdengar orang yang mengatakan “Udah gapapa, ini berdosa demi kebaikan!” Tidak pernah ada orang berdosa demi sesuatu yang baik.
Pohon Ara yang dikisahkan oleh Yesus dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan tidak berbuah sama sekali, padahal berada di kebun anggur yang subur. Tanahnya subur, tetapi mengapa pertumbuhannya menjadi tidak maksimal? Ya, karena ada penyakit dan juga mungkin diserang oleh hama. Dalam Bacaan Injil tersebut, kita dapat melihat sisi belas kasih dan kemurahan-hati Allah melalui penggarap kebun itu yang mengatakan “Tuan, biarkanlah dia tumbuh setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!” Kita menemukan bahwa Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk menemukan penyakit dan hama yang mengganggu pertumbuhan diri kita ini.
Bagaimana caranya? Caranya mudah, simple, sederhana. Dosa itu seperti tanaman. Kalau yang kita pangkas adalah ranting-rantingnya saja, tentu ranting-ranting itu akan tumbuh lagi. Oleh karena itu, perlu dicari akarnya. Nah, akar dosa inilah yang perlu dipangkas. Sama seperti penggarap kebun itu yang memerlukan waktu dan tenaga secara lebih demi pohon ara itu berbuah. Begitu juga dengan diri kita. Masing-masing dari kita perlu kerja keras untuk menemukan akar dosa dalam diri kita. Lalu secara tekun memangkasnya. Dengan demikian, ini menjadi cara kita mengobati penyakit dan mengusir hama yang mengganggu pertumbuhan kita.
Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun demikian, inilah ajakan pertobatan untuk kita. Mari kita berjuang bersama-sama untuk menemukan akar dosa kita yang selama ini menghambat kita untuk bertumbuh dan berkembang. Bahkan, menghalangi kita berbuah secara maksimal.
Selamat merenung.
Selamat mencari akar dosa dalam diri.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









