
TINJAU – Seperti biasa, pagi ini aku bangun dan menjalani rutinitas yang kusukai. Setelah membuka mata, aku berolahraga ringan di samping tempat tidur, lalu bersiap untuk mandi. Selesai mandi, aku berpakaian dan keluar dari kamar menuju ruangan yang setiap pagi kukunjungi. Di sana, aku mencari kursi favoritku, tempat di mana aku selalu duduk sejenak sebelum memulai hari. Duduk di kursi itu selalu memberikan kenyamanan yang sama, tak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Namun, ada yang berbeda pagi ini. Semalam, kamu menelponku—bahkan kita melakukan video call. Kamu, yang ribuan mil jauhnya dariku, memintaku untuk menemanimu. Sebuah permintaan yang sudah lama tak kudengar darimu. Kita bercengkerama, saling berbagi cerita, tertawa bersama, dan menguatkan satu sama lain. Hal-hal yang telah lama tidak kurasakan, apalagi dengan jarak yang kini memisahkan kita. Tetapi, jarak itu tidak berarti ketika aku masih bisa mendoakanmu dari sini, dari tempatku. Bukankah doaku untukmu adalah cara diam-diamku mencintaimu?
Di kursi ini, pagi ini, aku kembali teringat momen semalam saat kamu menelpon. Ada sesuatu yang mungkin tak pernah kamu sadari: hingga saat ini, aku tetap mencintaimu, tetap mengagumimu, dan tetap mendoakanmu. Meskipun berat bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa, bahkan tidak akan pernah, memilikimu.
Aku paham konsekuensi dari keputusanku saat itu. Aku tak bisa lagi berada di sisimu, menemanimu, atau bahkan melihatmu setiap hari. Kamu tahu betapa sulitnya bagiku. Tapi, aku tahu ini adalah bagian dari rencana-Nya, dan aku yakin Tuhan tahu bahwa di dalam hatiku, aku selalu mencintaimu.
“Sekarang aku sudah punya empat anak. Selang-seling, laki-laki dan perempuan. Kamu harus bertemu mereka, mereka lucu-lucu. Yang paling besar sangat mengidolakanmu, mungkin ia ingin mengikuti jejakmu. Namanya Ignas. Anak keduaku, Natasya, sekarang SMA, dia suka dance dan ingin ikut olimpiade akuntansi. Samuel, anak ketiga, masih SD dan suka bermain sulap, seperti hobimu dulu. Kamu masih suka main sulap? Hehehe… Anak bungsuku, Samantha, pemalu tapi suka mencoba hal baru. Aku yakin kamu akan suka dengan mereka. Kapan kamu bisa bertemu mereka? Aku yakin mereka juga akan menyukaimu!” ceritamu sambil tertawa kecil.
Aku bahagia mendengar ceritamu semalam. Tak terasa, video call kita berlangsung hampir empat jam. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Pagi ini, aku akan berdoa secara khusus untukmu, untuk keluargamu, untuk suamimu, dan tentu saja, untuk anak-anakmu. Betapa ingin rasanya aku segera datang mengunjungimu, tetapi aku sadar akan tugas dan tanggung jawabku. Meski begitu, aku akan menjadwalkan waktu untuk mengunjungi kalian semua.
Aku bahagia atas pertemuan kita, atas kebersamaan yang masih terjalin hingga kini, meskipun dulu kamu dengan berat hati menolak keputusanku dan memelukku sambil menangis. Aku ingat betul, bajuku basah oleh air matamu saat itu. Aku membalas pelukanmu dan dengan suara lirih, kujelaskan bahwa ini adalah keputusan yang harus kuambil. Pelukanmu semakin erat, dan aku pun ikut menangis. Kita tidak bisa egois, kataku, Tuhan punya rencana untuk kita berdua.
“Kalau sainganku adalah perempuan lain, aku pasti akan berusaha menjadi lebih baik darinya. Tapi kali ini, sainganku adalah Tuhan… Aku bisa apa? Aku tetap mencintaimu…” ucapmu sambil terisak. Aku memelukmu lebih erat dan kamu membalasnya. Perlahan-lahan, kamu mulai menerima keputusanku. Aku menghapus air matamu, dan kita saling tersenyum. Sebelum berpisah, kamu mengecup kedua pipiku, dan aku mengecup keningmu. Hampir bersamaan, kita mengucapkan, “Aku mencintaimu.”
Sampai detik ini, pagi ini, aku tetap mencintaimu meski kita tak bisa selalu bersama. Rasanya cukup hanya dengan mendengar kabar dan kebahagiaan keluargamu. Bukankah cinta yang tulus bukan soal memiliki, tetapi tentang memberi yang terbaik bagi orang yang kita cintai?
“Selamat pagi, Romo. Ada intensi hari ini? Dari umat yang hadir misa pagi, tidak ada yang menyerahkan intensi,” sapa koster yang masuk ke ruang sakristi.
“Tidak apa-apa, saya punya intensi pribadi. Misa sebentar lagi dimulai ya. Kalau mau, silakan bunyikan lonceng Angelus,” jawabku sambil beranjak dari kursi itu, siap mengenakan stola dan kasula.
Penulis: Ignatius Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









