TinjauAds
Tinjau

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara: “Jembatan Serong” Menuju Pencerahan

Dibaca dalam waktu3 Menit, 19 Detik

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, yang terletak di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, memiliki sejarah panjang dan penuh warna sebagai lembaga pendidikan yang menjadi wadah pemikiran dan perjuangan intelektual.

JAKARTA, Tinjau.id Dikenal sebagai sekolah mazhab “jembatan serong,” institusi ini memainkan peran penting dalam perkembangan filsafat dan pemikiran di Indonesia. Salah satu tokohnya yang terkemuka adalah Franz Magnis Suseno, yang telah menjadi figur sentral dalam gerakan reformasi setelah kejatuhan rezim Orde Baru.

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara didirikan pada tahun 1970 sebagai tanggapan terhadap kebutuhan akan tempat diskusi dan refleksi filsafat di Indonesia. Nama “Driyarkara” diambil dari nama seorang filsuf Indonesia, N. Driyarkara, yang terkenal karena pemikirannya yang mendalam. Sejak awal, misi sekolah ini bukan hanya menjadi lembaga akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk merumuskan pemikiran kritis yang bisa menghadirkan perubahan positif dalam masyarakat.

[custom-related-posts title=”Baca Juga” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Filsafat “Jembatan Serong”

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dikenal dengan istilah “jembatan serong,” karena letaknya berada dekat jembatan serong di kawasan Cempaka Putih. Tetapi pada akhirnya istilah ini kemudian menjadi sebuah konsep filsafat yang mencerminkan sikap kritis terhadap berbagai paradigma dan ideologi. “Jembatan serong” bukan sekadar metafora fisik, melainkan representasi sikap intelektual yang berani menyeberang ke berbagai arah, mengeksplorasi ide-ide yang mungkin dianggap tidak biasa atau tidak konvensional. Filsafat ini memberikan kebebasan untuk berpikir di luar batas-batas yang mungkin telah ditetapkan oleh masyarakat atau kebudayaan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Salah satu ciri khas dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara adalah kurikulumnya yang berbasis kritis. Filsafat di sini tidak diajarkan sebagai serangkaian doktrin yang harus dihafal, tetapi sebagai alat untuk menganalisis dunia dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis, mempertanyakan otoritas, dan menggali akar dari berbagai masalah sosial dan politik yang ada di masyarakat.

Peran dalam Perjuangan Reformasi

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara bukan hanya tempat pembelajaran filsafat, tetapi juga menjadi pusat intelektual yang aktif terlibat dalam perjuangan reformasi. Pada masa Orde Baru, di bawah kepemimpinan Soeharto, banyak lembaga pendidikan dan pemikiran diawasi dengan ketat, dan kebebasan akademik sering kali terbatas. Namun, Driyarkara tetap berdiri teguh sebagai tempat di mana gagasan-gagasan kritis dan tajam dapat berkembang.

Franz Magnis Suseno, seorang rohaniwan Katolik yang juga merupakan dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menjadi salah satu tokoh sentral dalam perjuangan reformasi. Ia tidak hanya menggunakan panggung akademisnya untuk menyebarkan gagasan-gagasan kritis, tetapi juga secara aktif terlibat dalam aksi-aksi pro-demokrasi di jalanan. Keberaniannya untuk berbicara terbuka dan menentang rezim otoriter membuatnya menjadi sosok yang dihormati dan diikuti oleh banyak kalangan.

Peninggalan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara tidak hanya terlihat dalam lulusan-lulusannya yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang filsafat, tetapi juga dalam peranannya sebagai agen perubahan sosial. Kontribusi mereka terhadap gerakan reformasi tidak dapat diabaikan. Setelah runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998, Driyarkara menjadi simbol keberanian intelektual dalam menghadapi ketidakadilan dan penindasan.

Pengaruh dari pendekatan filsafat “jembatan serong” terus terasa dalam pemikiran dan tindakan para alumni. Mereka tidak hanya melanjutkan tradisi intelektual kritis, tetapi juga terlibat aktif dalam mengatasi berbagai tantangan sosial dan politik yang dihadapi oleh Indonesia. Sebagai sarana pencerahan, Driyarkara terus menjadi tempat di mana ide-ide segar dan inovatif dapat berkembang.

Masa Depan yang Penuh Tantangan

Meskipun telah mencapai sejumlah pencapaian dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam sejarah Indonesia, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara tidak terlepas dari tantangan masa depan. Perubahan dinamis dalam dunia pendidikan dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks menuntut adaptasi dan inovasi yang terus-menerus.

Sekolah ini harus tetap menjadi tempat yang menginspirasi generasi-generasi mendatang untuk berpikir kritis, bertindak adil, dan menghadapi berbagai perubahan dengan kepala tegak. Selain itu, peran Driyarkara sebagai agen perubahan sosial perlu terus diperkuat, sehingga gagasan-gagasan kritis dapat diubah menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak positif pada masyarakat.

Dengan warisan “jembatan serong” yang unik dan peran sentral dalam perjuangan reformasi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara tetap menjadi kekuatan yang mendorong pemikiran bebas dan bertanggung jawab di Indonesia. Dengan semangat filsafat yang terus berkembang, Driyarkara akan terus menjadi “jembatan” menuju pemikiran yang lebih luas dan pencerahan bagi masyarakat Indonesia.

Back to top button