Kulit Bundar Dan Hantu Tak Terlihat
Balsamus Pieter Dwiwasa | tinjau.id
Jakarta – Momen indah dan tak terlupakan ialah ketika pemain profesional merayakan gol yang diciptakan ke gawang lawan dalam pertandingan terutama dalam Piala Dunia. Menjadi suatu kenangan tersendiri yang tak akan pernah dilupakan, ketika seorang pemain berhasil mencetak gol, dan gol itu menjadi penentu bagi tim yang ia bela.
Pada partai hidup mati, antara lolos grup atau tidak, semua orang berusaha menjadi “pahlawan” yang membuat timnya berhasil meraih kemenangan.
Masih terngiang dibenak kita, beberapa pemain yang menjadi “pahlawan” bagi timnya.
Nacer Chadli misalnya, pemain Belgia yang mencetak gol kemenangan negaranya itu, berandil besar saat mengatasi Jepang pada Piala Dunia 2018.
Kita ingat juga Lionel Messi yang berhasil mencetak gol terakhir bagi Barcelona pada 2016, kala itu Barca dan Madrid bermain 2-2 sampai pada menit 90. Waktu itu, wasit memberikan perpanjangan waktu selama 2 menit, dan Messi berhasil mencetak gol pada menit 91.50, mengantar Barca menumbangkan Madrid 3-2.
Prestasi Nacer dan Messi menjadi impian hampir semua pencinta sepak bola. Tetapi mereka manusia biasa yang kapan saja dapat didatangi masalah, apalagi ketika memiliki beban hidup.
Tinjauan Terkait: (Sepak Bola Indonesia) Mengikuti Arab Saudi, Sanggupkah?
Lari dari beban hidup bagi pemain sepak bola bisa jadi pintu masuk bagi hantu yang menjerumuskan.
Ada yang melampiaskannya dengan hal positif, tak jarang ada pula yang memilih pergi ke kafe dan diskotik, dan membiarkan dirinya pada ketergantungan akan alkohol hingga seks bebas maupun obat-obatan terlarang.
Setiap 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia.
Peringatan ini adalah gong pengingat. Membiarkan diri terjerumus ke dalam gaya hidup bak hantu-hantu itu, dapat berarti membuka diri pada potensi terkena penyakit berbahaya seperti HIV.
Ancaman HIV Kini
Di Jakarta, Ruang Carlo RS Saint Carolus mencatat, ada 6 persen perempuan yang mengikuti konseling dan tes HIV, akhirnya memeroleh hasil positif HIV.
Secara global, HIV masih menjadi hantu tak terlihat yang menakutkan.
Tahun 2021, ada 38,4 juta orang hidup dengan HIV (ODHA). 25,6 juta kasus berada di Afrika. Ada 19,7 juta perempuan dan 16,9 juta laki-laki di seluruh dunia yang menjadi ODHA.
Hapus Stigma Dengan Gaya Hidup Sehat
Menjadi ODHA bukanlah hidup yang diinginkan setiap orang. Banyak orang menghindar semata-mata karena jijik, tetapi tidak sedikit yang mulai peduli dengan pentingnya cek rutin HIV.
ODHA tidak harus tersingkir dari masyarakat. Itulah menghapus stigma.
Hari ini yang diperlukan ialah kepedulian terhadap diri, baik itu kesadaran cek rutin HIV, maupun mengubah cara pandang kita mengenai gaya hidup yang harus di jalani.
Setiap manusia ingin berprestasi. ODHA semacam Thabang Sefatsa, pemain sepak bola Afrika Selatan dapat menjadi model mengenai upaya sadar manusia memperhatikan status HIV-nya sekaligus mengubah gaya hidup untuk menjadi semakin sehat.
Tinjauan Terkait: Jerman-Jepang Di Atas Rumput: Spirit Lapuk vs Spirit Teh
Kesadaran tentang status dan gaya hidup sehat seharusnya lebih dominan sebagai isu yang perlu dipromosikan ketimbang memelihara stigma negatif terkait HIV.
Sefatsa bukan saja berupaya sadar dan mengubah gaya hidup. Ia menjadi pelopor bahwa kesadaran mengenai status HIV merupakan upaya melindungi keluarga.
Indonesia kini menyediakan fasilitas pengecekan status HIV secara gratis bahkan hingga di seluruh Puskesmas. Beranikah kita mengecek status HIV kita?









