TinjauAds
BeritaPilihan Redaksi

531 Karya Bersaing dalam FFI 2026, Ini Daftar Lengkap Nominasinya

Dibaca dalam waktu6 Menit, 50 Detik

TINJAU, Jakarta – Ajang penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia kembali memasuki babak penting. Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2026 mengumumkan daftar nominasi penerima Piala Citra pada Senin (12/10/2026) malam, menandai dimulainya persaingan karya dan pelaku industri film dalam memperebutkan penghargaan bergengsi tersebut.

Tahun ini, persaingan berlangsung di tengah penyempurnaan sistem penjurian yang diharapkan dapat menghadirkan proses seleksi lebih efektif, partisipatif, dan objektif. Sebanyak 531 karya didaftarkan dalam FFI 2026, mencakup film cerita panjang, film pendek, animasi, dokumenter, hingga karya kritik film.

Ketua Bidang Penjurian FFI 2026, Budi Irawanto, mengatakan komite melakukan sejumlah penyesuaian dalam sistem penjurian dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak. Meski demikian, prinsip demokratis, partisipatif, dan objektif tetap menjadi landasan dalam menentukan nominasi hingga pemenang.

Budi menyebutkan, besarnya jumlah karya yang didaftarkan menunjukkan beragamnya produksi dan ekspresi kreatif dalam perfilman Indonesia.

Dari total 531 karya, sebanyak 93 merupakan film cerita panjang, 177 film cerita pendek, satu film animasi panjang, 57 film animasi pendek, 20 film dokumenter panjang, 73 film dokumenter pendek, serta 110 karya kritik film.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Proses penjurian melibatkan unsur profesional perfilman dalam beberapa tahap. Budi menjelaskan, seleksi awal tahap kedua melibatkan 35 perwakilan dari 13 asosiasi profesi, sedangkan penentuan nominasi dilakukan oleh 85 anggota Akademi Citra.

Tahun ini, panitia juga memangkas tahapan penjurian dari empat menjadi tiga tahap, yakni seleksi awal, tahap nominasi, dan tahap penentuan pemenang.

Penyederhanaan tersebut diharapkan dapat mendukung proses penilaian yang lebih efektif sekaligus menghasilkan pemenang dengan kualitas teknis, artistik, dan tematik yang kuat.

Menurut Budi, penyempurnaan sistem penjurian FFI 2026 tidak hanya menyentuh tahapan seleksi, tetapi juga sejumlah ketentuan terkait kelayakan karya dan kategori penghargaan.

Untuk film cerita panjang, salah satu ketentuan yang diperjelas adalah bahwa film yang memenuhi syarat merupakan film yang diproduksi oleh perorangan atau badan hukum Indonesia lainnya.

“Yang pertama adalah bahwa ketentuan film yang boleh atau bisa mendapat adalah film yang diproduksi oleh perorangan atau badan hukum Indonesia lainnya,” ujar Budi.

Kolaborasi produksi dengan perusahaan asing tetap diperbolehkan. Namun, sebagian besar unsur kreatif dalam film tersebut harus dikerjakan oleh warga negara Indonesia.

Perubahan juga diterapkan pada kategori penghargaan musik. Kategori yang berkaitan dengan penciptaan lagu kini menggunakan nama Pencipta Lagu Tema Asli Terbaik. Penyesuaian ini ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada pencipta lagu yang turut berkontribusi dalam perkembangan perfilman nasional.

Sementara itu, karya yang didaftarkan harus telah ditayangkan dan disaksikan masyarakat melalui bioskop maupun platform digital lainnya dalam periode 1 September 2025 hingga 31 Agustus 2026.

Pada kategori film noncerita panjang, terdapat pula penyesuaian batas durasi minimal film dokumenter pendek. Jika pada FFI 2025 batas minimalnya 15 menit, tahun ini durasi minimal ditetapkan menjadi 10 menit.

Berbagai perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya penyempurnaan penyelenggaraan FFI, sekaligus menjaga kualitas proses penilaian terhadap karya-karya yang bersaing.

Persaingan Piala Citra

Dalam kategori Film Cerita Panjang Terbaik, lima film masuk dalam daftar nominasi, yakni Dopamin, Ghost in The Cell, Na Willa, Operasi Pesta Copet, dan Para Perasuk.

Persaingan juga berlangsung pada kategori individu, mulai dari sutradara, pemeran utama, pemeran pendukung, penulis skenario, hingga para pekerja kreatif di balik layar.

Di kategori Sutradara Terbaik, nama Bernardus Raka, Edwin, Joko Anwar, Kimo Stamboel, dan Wregas Bhanuteja masuk dalam daftar nominasi melalui karya masing-masing.

Sementara itu, kategori Pemeran Utama Pria Terbaik diisi Abimana Aryasatya, Angga Aldi Yunanda, Ardit Erwandha, Marthino Lio, dan Nicholas Saputra.

Adapun kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik menghadirkan Christine Hakim, Luisa Adreena, Marsha Timothy, Meriam Bellina, dan Shenina Cinnamon.

Selain kategori utama, FFI 2026 turut memberikan ruang bagi berbagai bidang teknis dan artistik yang menentukan kualitas sebuah film. Penataan suara, musik, sinematografi, artistik, penyuntingan gambar, efek visual, busana, dan tata rias menjadi bagian dari penghargaan yang diperebutkan.

Kategori film animasi, film dokumenter, film cerita pendek, serta kritik film juga melengkapi daftar nominasi tahun ini.

Kehadiran kategori-kategori tersebut memperlihatkan cakupan apresiasi FFI terhadap berbagai bentuk karya dan kontribusi dalam ekosistem perfilman nasional.

Piala Citra bukan hanya menjadi pengakuan bagi para sineas dan pekerja film, tetapi juga menjadi ruang apresiasi bagi beragam bentuk kreativitas yang memperkaya perjalanan perfilman Indonesia.

Berikut daftar lengkap nominasi penerima penghargaan FFI 2026.

Film Cerita Panjang Terbaik

  • Dopamin
  • Ghost in The Cell
  • Na Willa
  • Operasi Pesta Copet
  • Para Perasuk

Sutradara Terbaik

  • Bernardus Raka – Nobody Loves Kay
  • Edwin – Monster Pabrik Rambut
  • Joko Anwar – Ghost in The Cell
  • Kimo Stamboel – Abadi Nan Jaya
  • Wregas Bhanuteja – Para Perasuk

Pemeran Utama Pria Terbaik

  • Abimana Aryasatya – Ghost in The Cell
  • Angga Aldi Yunanda – Para Perasuk
  • Ardit Erwandha – Tunggu Aku Sukses Nanti
  • Marthino Lio – Badut Gendong
  • Nicholas Saputra – Tukar Takdir

Pemeran Utama Perempuan Terbaik

  • Christine Hakim – Semua Akan Baik-Baik Saja
  • Luisa Adreena – Na Willa
  • Marsha Timothy – Tukar Takdir
  • Meriam Bellina – Senin Harga Naik
  • Shenina Cinnamon – Dopamin

Pemeran Pendukung Pria Terbaik

  • Aming – Ghost in The Cell
  • Didik Nini Thowok – Monster Pabrik Rambut
  • Kristo Imanuel – Operasi Pesta Copet
  • Teuku Rifnu Wikana – Dopamin
  • Yoga Pratama – Ghost in The Cell

Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik

  • Kawai Labiba – Operasi Pesta Copet
  • Lydia Kandou – Ikatan Darah
  • Maudy Ayunda – Para Perasuk
  • Raihaanun – Semua Akan Baik-Baik Saja
  • Sarah Sechan – Tunggu Aku Sukses Nanti

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik

  • Johanna Wattimena dan Bernardus Raka – Nobody Loves Kay
  • Mouly Surya – Tukar Takdir
  • Ryan Adriandhy – Na Willa

Penulis Skenario Asli Terbaik

  • Evelyn Aprilia – Tunggu Aku Sukses Nanti
  • Joko Anwar – Ghost in The Cell
  • Rino Sarjono dan Edy Khemod – Operasi Pesta Copet
  • Teddy Soeria Atmadja – Dopamin
  • Wregas Bhanuteja, Defi Mahendra, dan Alicia Angelina – Para Perasuk

Penata Suara Terbaik

  • Arief Budi Santoso dan Fajar Yuskemal – Abadi Nan Jaya
  • Fery Setiawan – Semua Akan Baik-Baik Saja
  • Siti Asifa Nasution dan Satrio Budiono – Na Willa
  • Sutrisno dan Satrio Budiono – Para Perasuk
  • Waim Ahmad Fahreizi dan Andre Harihandoyo – Tunggu Aku Sukses Nanti

Penata Musik Terbaik

  • Aghi Narottama – Ghost in The Cell
  • Aria Prayogi dan Rahardian Winursito – Badut Gendong
  • Yennu Arienrra – Para Perasuk
  • Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli – Nobody Loves Kay
  • Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli – Tukar Takdir

Pencipta Lagu Tema Asli Terbaik

  • Alvin Witarsa – Semua Akan Baik-Baik Saja (Semua Akan Baik-Baik Saja)
  • Arya Aditya Ramadhya, Ilman Ibrahim Isa, dan Anindyo Baskoro – Sikilku Iso Muni (Na Willa)
  • Ipang Lazuardi – Tandeman (Operasi Pesta Copet)
  • Sal Priadi – Kepala, Pundak, Kerja Lagi (Monster Pabrik Rambut)
  • Tony Dwi Setiaji dan Joko Anwar – The Town Was Gone (Ghost in The Cell)

Pengarah Sinematografi Terbaik

  • Gunnar Nimpuno, I.C.S. – Para Perasuk
  • Ical Tanjung, I.C.S. – Ghost in The Cell
  • Vera Lestafa, I.C.S. – Dopamin
  • Yadi Sugandi – Na Willa
  • Yudi Datau, I.C.S. – Semua Akan Baik-Baik Saja

Pengarah Artistik Terbaik

  • Ahmad Zulkarnaen dan Wahyu Efata – Ikatan Darah
  • Dennis Sutanto – Ghost in The Cell
  • Menfo Tantono – Monster Pabrik Rambut
  • Ong Hari Wahyu dan Edy Wibowo – Para Perasuk
  • Rini Sri Handayani – Na Willa

Penyunting Gambar Terbaik

  • Aline Jusria – Dopamin
  • Aline Jusria – Operasi Pesta Copet
  • Cesa David Luckmansyah – Semua Akan Baik-Baik Saja
  • Hendra Adhi Susanto – Senin Harga Naik
  • Ryan Purwoko – Tunggu Aku Sukses Nanti

Penata Efek Visual Terbaik

  • Abby Eldipie dan Kalvin Irawan – Ghost in The Cell
  • Bintang Adi Pradana dan Harris Reggy – Monster Pabrik Rambut
  • David A. Widya P, Concetta CFX, dan Dalang Digital Studio – Na Willa
  • Gaga Nugraha Ramadhan – Badut Gendong
  • Mattebox Visualworks – Abadi Nan Jaya

Penata Busana Terbaik

  • Astrid Rosiana Ishak – Na Willa
  • Gemailla Gea Geriantiana – Badut Gendong
  • Gizza Ossiatzki – Operasi Pesta Copet
  • Monika Paska – Ghost in The Cell
  • Muthiara A. Revana – Monster Pabrik Rambut

Penata Rias Terbaik

  • Aktris Handradjasa – Ikatan Darah
  • Astrid Sambudiono (rias efek) dan Albasirun Ucok – Abadi Nan Jaya
  • Eva Sheba – Monster Pabrik Rambut
  • Gunawan Saragih, Prio Prabu, dan Cherry Irawan (rias efek) – Badut Gendong
  • Novie Ariyanti – Ghost in The Cell

Film Animasi Pendek Terbaik

  • Calabai
  • Drowned in Internet
  • Enigma Wajah Arca
  • Nyanyian di Angkringan
  • Stories of Sahaba: Tahlah Ibn Ubaydullah – The Living Martyr

Film Cerita Pendek Terbaik

  • Amelia, Amelia
  • Dihapus dari Peta
  • Malam Sepanjang Nafas
  • Mothers are Mothering
  • αLPα

Film Dokumenter Panjang Terbaik

  • A Distorted Individual
  • I Saw Her in Motion
  • Planet of Love
  • The Last Supper (Whisper)
  • Tonggo Gedhek

Film Dokumenter Pendek Terbaik

  • Discordia
  • Mae Menjaga Masjid
  • Murdijati Gardjito
  • Shard Objects
  • Sino

Karya Kritik Film Terbaik

  • Antara Adat dan Aparat: Menyisir Spiritualitas dan Represi di Kabut Berduri (2024) – Gladhys Elliona
  • Dunia Setinggi Mata Na Willa – Sony Triantoro
  • Kerja-kerja Sineas Mengekalkan Politik Dinasti di Abadi Nan Jaya – Yulaika Romadhani
  • Melankolia dalam Aruna dan Lidahnya – Anton Kurnia
  • Tubuh dan Ruang yang Hilang dalam Pangku – I Ngurah Gede Adi Putra

Back to top button