TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik, Pesta Keluarga Kudus, Minggu 29 Desember 2024

Dibaca dalam waktu4 Menit, 12 Detik

TINJAU – “Meneladani Keluarga Kudus: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Mendengarkan dengan Hati”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : 1 Sam. 1:20-22.24-28

Bacaan II        : 1 Yoh. 3:1-2.21-24

Bacaan Injil    : Luk. 2:41-52

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus : Yesus, Maria, dan Bapa Yosef. Keluarga yang sederhana namun dipilih dan dipersiapkan langsung oleh Allah menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang. Hari ini saya mengajak untuk merenungkan sisi manusiawi dari keluarga kudus ini. Jika kita hanya memandang dari sisi rohani, rasanya permenungannya akan mandeg. Tetapi, justru banyak hal menarik yang bisa direnungkan saat kita mencoba melihat sisi manusiawi dari keluarga kudus ini.

Salah satu peribahasa dalam Bahasa Indonesia mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Artinya, setiap tindakan, perilaku, karakter, bahkan kebiasaan seorang anak tidak jauh dari tindakan, perilaku, karakter, dan kebiasaan orangtuanya. Oleh karena itu, mudah sekali menilai apakah pasangan-pasangan sungguh menjadi orangtua yang baik atau tidak, hanya dengan melihat tingkah laku anak-anak mereka. Kalau tidak ada kejadian yang sangat ekstrem, tentu tingkah laku seorang anak akan sama, bahkan persis dengan tingkah laku orangtuanya. Maksud dari kejadian yang ekstrem adalah jika orangtuanya adalah mafia, lalu anaknya mengalami pertobatan, pasti anak itu akan berubah 180° dari apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Nah, berawal dari peribahasa itu, kita dapat melihat, merenungkan, dan akhirnya memahami bahwa Yesus bisa menjadi pribadi yang luar biasa, tentu karena pola asuh yang diterima-Nya dari Bapa Yosef dan Bunda Maria. Yesus menjadi pribadi yang hebat karena orangtua yang mengasuh-Nya pun hebat. Terlihat dalam bacaan Injil pada hari ini yang mengisahkan Yesus hilang dan diketemukan dalam Bait Allah. Bapa Yosef dan Bunda Maria memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada Yesus. Oleh karena itu, Yesus dapat melakukan segala sesuatu sesuka hati-Nya, namun tetap bertanggungjawab. Hal ini terlihat dari rombongan keluarga mereka yang berjalan pulang ke rumah setelah perayaan Paskah di Yerusalem.

Kebiasaan keluarga-keluarga Israel yang pergi dan pulang ke Yerusalem, mereka akan membentuk kelompok berdasarkan jenis kelamin. Hal ini dapat dipahami karena ibadah di Bait Allah pun ada sekat-sekat bagian untuk perempuan dan bagian untuk laki-laki. Bapa Yosef berada bersama kelompok laki-laki dan Bunda Maria berada bersama kelompok perempuan. Sedangkan anak-anak diberi kebebasan mau berada bersama dengan kelompok laki-laki atau dengan kelompok perempuan. Barulah dalam perjalanan pulang, masing-masing akan kembali ke keluarga mereka. Dalam perjalanan, kita mengetahui Bapa Yosef tidak khawatir karena merasa bahwa Yesus ada bersama Ibu-Nya. Bunda Maria pun tidak khawatir karena merasa bahwa Yesus ada bersama Bapa Yosef. Rupanya, Yesus memilih tinggal di Bait Allah di Yerusalem dan bertukar pikiran dengan para alim-ulama.

Setelah 3 hari mencari, Bapa Yosef dan Bunda Maria tentu khawatir karena Yesus masih berusia 12 tahun. Nah, setelah Yesus diketemukan, apakah Bapa Yosef dan Bunda Maria memarahi Yesus? Tidak. Bapa Yosef dan Bunda Maria hanya menanyakan alasan mengapa Yesus melakukan hal yang demikian? Bapa Yosef dan Bunda Maria mau mendengarkan apa yang menjadi alasan Yesus berbuat demikian. Lalu, meski tidak dikisahkan, Bapa Yosef dan Bunda Maria memberi nasehat kepada Yesus.

Nah, bagaimana dengan kita?

Seringkali kita berdoa agar keluarga kita dapat meneladani Keluarga Kudus Nazareth ini. Namun, agaknya kurang ada usaha yang dilakukan untuk meneladani Keluarga Kudus. Salah satu contoh sederhananya adalah apakah kita sungguh mau mendengarkan dan mendukung keputusan anak-anak kita? Atau jangan-jangan selama ini kita menutup telinga dan tidak mau mendengarkan pemikiran atau alasan mengapa anak-anak kita melakukan ini atau memilih itu? Atau lebih parah, kita seolah-olah mendengarkan anak-anak, tetapi sebenarnya kita sedang memaksakan pemikiran kita sendiri kepada anak tanpa peduli dengan perasaan, pertimbangan, dan pemikian anak-anak. Alasannya bisanya karena mereka masih kecil dan belum paham.

Hasilnya, tentu luka batin dalam diri anak. Buktinya saja banyak anak muda di zaman sekarang kurang mahir dalam mengambil keputusan. Alasan yang paling mendasarnya adalah karena mereka tidak diberi kesempatan untuk memilih; tidak diberi kesempatan untuk berbicara; dan orangtua cenderung dengan berbagai cara memaksakan pilihan mereka kepada anak-anaknya.

Tentu pola asuh semacam ini agaknya sudah kurang relevan lagi untuk mendidik dan mengasuh anak-anak zaman sekarang. Zaman ini, anak-anak lebih perlu untuk didengarkan apa yang menjadi isi hati, pemikiran, dan pertimbangan mereka. Sebagai orangtua, kita hanya bisa memberi masukkan dan mengembalikan lagi bahwa anak-anak yang memutuskan serta perlu konsisten dan komitmen dalam menjalankan keputusan itu. Bahkan, perlu siap untuk menghadapi resiko atas pilihannya itu.

Semoga keluarga-keluarga sungguh mampu belajar dan meneladani Keluarga Kudus Nazareth. Belajar dan meneladani dari hal yang sederhana, yakni mau mendengarkan apa yang menjadi isi hati, pemikiran, dan pertimbangan anak. Dengan demikian, anak-anak ke depannya akan lebih percaya diri dengan keputusan yang mereka ambil.

Selamat Pesta Keluarga Kudus.

Kalau sempat, pada Pesta Keluarga Kudus ini, ajaklah keluargamu datang ke Kandang Natal dan berdoa sebagai satu keluarga di sana.

Salam dan doaku.

Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button