TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Minggu Paskah V, 18 Mei 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 42 Detik

TINJAU – “Kasih yang Tak Pernah Gagal”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Kis. 14:21b-27

Bacaan II        : Why. 21:1-5a

Bacaan Injil    : Yoh. 13:31-33a.34-35

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan pada hari ini berbicara mengenai perintah baru yang Yesus ajarkan kepada kita, para murid-Nya, yakni Kasih. Ajaran mengenai kasih ini tentu sudah bukan hal yang asing atau hal yang baru bagi kita. Bahkan, Yesus sendiri adalah wujud sempurna dari Kasih Allah kepada manusia.

Dalam pembicaraan rohani dengan Yesus, Sang Guru, saya bertanya mengenai bagian awal dari Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan itu. Dikisahkan bahwa Yudas meninggalkan ruang perjamuan. Kalau kita membaca secara lengkap perikop dari Yohanes 13, kita tahu bahwa Yesuslah yang meminta Yudas melakukan apa yang harus Yudas lakukan, yakni menjual Yesus pada orang Farisi dan Ahli Taurat seharga 30 keping perak. Saya bertanya pada Yesus apakah Yesus marah atau kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Yudas atau tidak.

Saat Yesus menanggapi pertanyaan saya itu, Yesus tersenyum lalu bertanya kepada saya apakah saya pikir bahwa Yesus tidak mengasihi Yudas. Lalu Yesus menerangkan bahwa sampai saat ini pun, Yesus tetap mengasihi dan mencintai Yudas Iskariot, salah satu rasul-Nya yang akhirnya berbalik mengkhianati Yesus. Yesus menjelaskan bahwa kasih dan pengampunan itu justru pertama-tama diberikan pada mereka yang kita anggap paling sulit untuk dikasihi dan diampuni. Hal ini dikarenakan semakin sulit orang mengasihi sesamanya, orang tersebut akan semakin tertutup pada proses pengenalan akan Allah yang adalah Kasih itu sendiri. Bahkan, Yesus mengajak saya untuk merenungkan bahwa tanpa kasih, seseorang tidak mungkin berbicara atau berdiskusi mengenai Allah. Kenapa? Karena Kasih itu perlu dialami terlebih dahulu oleh manusia, lalu mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari. Setelah itu, barulah seseorang akan memahami, mengenal, dan mau semakin mendekatkan diri pada Allah.

Jika seseorang tidak mengalami kasih dan mau mempraktekkannya pada sesamanya, bahkan, pada orang-orang yang menurut manusia tidak layak dikasihi atau diampuni, seseorang tidak mampu mengenal Allah yang adalah Kasih itu. Bukti nyatanya, sampai sekarang banyak orang yang justru mendoakan orang-orang yang menyakiti hati mereka agar Tuhan memberikan balasan yang setimpal pada mereka. Doa justru digunakan untuk niat jahat. Niat membalas luka yang telah ditorehkan oleh orang itu. Ini bukan kasih, melainkan balas dendam. Balas dendam justru menjadi penyakit mematikan, layaknya kanker, dalam diri seseorang.

Obat dari itu semua adalah kasih dan pengampunan. Saat orang berbicara kasih artinya orang itu juga berbicara mengenai pengampunan. Tidak ada kasih tanpa pengampunan. Tidak ada pengampunan tanpa kasih. Allah tidak bisa didekati, dirasakan, dan dipahami melalui olah intelektual semata. Allah perlu dialami secara nyata melalui kasih dan pengampunan.

Yesus kembali menegaskan kepada saya bahwa Ia tetap mencintai dan mengasihi Yudas Iskariot. Hanya saja yang disayangkan oleh Yesus adalah Yudas memilih jalan yang keliru, yakni mengakhiri hidupnya sendiri. Padahal, jika Yudas mau datang, menyesali perbuatannya, dan bertobat, serta meminta pengampunan, Yesus akan mengampuni kesalahan Yudas tersebut. Bahkan, seraya tertawa kecil, Yesus mengatakan sepertinya jika Yudas memilih jalan pertobatan, Yudas akan menjadi Santo yang terkenal dikalangan murid-murid Yesus sampai hari ini.

Kasih dan pengampunan ini menjadi jalan seseorang untuk mengenali Allah karena jalan pengenalan akan Allah akan salah jika hati seseorang dipenuhi dengan rasa benci tanpa mau memaafkan dan mengampuni orang-orang yang sudah melukai hatinya. Memang tidak mudah menjalankan hal ini, tetapi tentu hal ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dijalankan dan dilakukan. Memang memerlukan proses yang panjang untuk dapat mengasihi dan mengampuni orang-orang yang telah melukai hati kita sedemikian rupa. Namun, bukankah jalan pengenalan kita akan Allah juga merupakan jalan yang panjang yang harus dilalui melalui kasih dan pengampunan?

Mari kita bayangkan, jika setiap murid Yesus mau mempraktekkan kasih dan pengampunan ini, betapa indahnya hidup di dunia ini. Bahkan, bisa dikatakan bahwa melalui perjuangan untuk kasih dan pengampunan, setiap murid Yesus mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini, yang ditandai dengan damai dan sukacita. Inilah jalan yang harus ditempuh karena pada dasarnya Allah ingin dikenal oleh umat-Nya melalui kasih dan pengampunan, bukan melalui kebencian dan perdebatan kosong yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu, perintah baru yang diajarkan kepada kita adalah untuk saling mengasihi.

Selamat berproses.

Selamat mengasihi.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button