TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Hari Raya Pentakosta, Minggu 8 Juni 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 27 Detik

TINJAU – “Menjadi Arang yang Menyala oleh Api Roh Kudus”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Kis. 2:1-11

Bacaan II        : Rm. 8:8-17

Bacaan Injil    : Yoh. 14:15-16.23b-26

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Salah satu makanan favorit saya adalah sate. Apapun dagingnya, yang penting dimasak sate. Entah itu daging ayam; daging sapi; maupun daging kambing. Sate yang paling nikmat untuk saya adalah yang dimasak menggunakan arang. Saya lebih menikmati sate yang dimasak menggunakan arang daripada sate yang dimasak menggunakan teflon atau panggangan dengan api. Kenapa? Karena selalu ada makna saat menyantap sate yang dimasak menggunakan arang. Apalagi sate yang saya santap itu juice dari dagingnya keluar, dagingnya tidak dry, dan smoky daging yang menambah cita rasanya. Nikmat sekali.

Dari proses memasak sate menggunakan arang, kita dapat belajar dari arang yang membara pada panggangan sate. Biasanya saat seseorang menyalakan api arang, orang akan fokus pada 1 arang. Lalu, arang yang sudah menyala akan didekatkan pada arang-arang lainnya agar arang-arang yang lainnya juga ikut menyala. Inilah gambaran kesatuan dalam hidup kita. Saat seseorang memiliki semangat dan sukacita, hal itu harus dibagikan pada orang yang sedang kurang semangat. Mengapa? Karena semangat dan sukacita itu akan menular dari satu orang ke orang yang lainnya. Sama seperti arang yang menyala ikut menyalakan arang lain yang baru didekatkan padanya.

Dalam mata rohani, kita dapat melihat dan merefleksikan bahwa arang itu adalah kita. Api yang menyalakan arang itu adalah Roh Kudus yang turun dicurahkan pada kita oleh Bapa dan Yesus sebagai Sang Paraklētos dalam hidup kita. Api Roh Kudus ini tidak menghanguskan kita, melainkan menyalakan dan mengobarkan hati kita untuk dapat menyalakan dan mengobarkan semangat dan sukacita orang-orang di sekitar kita. Sama seperti yang dilihat oleh Musa kala itu. Api yang menyalakan semak-semak tetapi tidak menghanguskan semak itu.

Api Roh Kudus yang menyala dan mengobarkan hati kita inilah yang memampukan kita untuk berbahasa dengan bahasa yang mudah untuk dipahami. Inilah semangat dan spirit pewartaan yang dilakukan oleh para rasul kala itu. Dengan api Roh Kudus yang menghangatkan itu, para rasul mewartakan cinta Allah melalui bahasa yang mudah dipahami. Bahasa yang mudah dipahami adalah bahasa cara hidup kita. Kita tahu bahwa sabda Yesus, Sang Guru, mengenai cinta kasih, pengampunan, kerendah-hatian, ketaatan, dan pengorbanan itu sulit untuk dipahami. Oleh karena itu, para rasul mewartakan pengajaran dari Yesus, Sang Guru, bukan sekadar melalui kata-kata semata, melainkan juga melalui tindakan dan cara hidup mereka. Inilah yang dimaksud dengan bahasa yang mudah dipahami.

Mari kita masuk ke dalam relung hati kita masing-masing lalu merenung dan merefleksikan pengalaman Pentakosta ini. Apakah selama ini, hidupku sudah mampu menjadi bahasa pewartaan pengajaran Yesus? Apakah bahasa itu sudah mudah dipahami atau rumit untuk disampaikan? Semoga tindakan dan bahasa kita selama ini bukan sekadar pembenaran dari kekeliruan yang kita lakukan, melainkan menjadi sarana bagi kita mewartakan ajaran Yesus, Sang Guru. Jangan takut melakukan dan mengakui jika memang ada kekeliruan selama ini. Toh ada Roh Kudus, Sang Paraklētos yang menemani dan mendampingi hidup kita.

Sama seperti arang. Terkadang jika arang itu tertutup debu, arang menjadi tidak mudah untuk dinyalakan. Nah, abu atau debu yang menutupi arang itu, dalam mata rohani, dipahami sebagai dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, mari kita membersihkan diri kita dari dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Jika tidak dibersihkan, kita akan kesulitan untuk dinyalakan. Cara membersihkannya ya mudah, simple, dan sederhana, yakni dengan cara menyadari, mengakui, dan meminta Sakramen Rekonsiliasi agar hati dan diri kita menjadi bersih kembali dari abu dan debu yang menutupi kita.

Mari kita menyadari, merasakan, dan mengalami Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Pada hari Pentakosta ini, Roh Kudus sudah dicurahkan lagi dalam hati kita sebagai pembaharuan Sakramen Penguatan bagi kita. Semoga Roh Kudus menyalakan dan memberikan sukacita padamu sama seperti api yang menyalakan dan mengobarkan arang.

Selamat merayakan Pentakosta.

Selamat merasakan Roh Kudus dalam dirimu.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button