Renungan Katolik Minggu Paskah III, 4 Mei 2025

TINJAU – “Relasi Dengan Sang Guru”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Kis. 5:27b-32.40b-41
Bacaan II : Why. 5:11-14
Bacaan Injil : Yoh. 21:1-19
Dalam salah satu seminar Kitab Suci mengenai Injil Yohanes, seorang Bapak bercerita sekaligus bertanya kepada saya mengenai karya pelayanan yang ia jalankan. Bapak ini menceritakan betapa ia berjuang sungguh untuk dapat menjalankan karya pelayanannya dengan baik. Bahkan, ia rela mengorbankan waktu, tenaga, usaha, sampai materi agar karya pelayanannya berjalan dengan baik. Lalu, Bapak ini bertanya mengapa setelah segala sesuatu yang ia perjuangan, ia korbankan, dan ia usahakan, hatinya tetap tidak damai dan sukacita, meskipun karya pelayanannya itu terlaksana dengan baik. Saat saya menanggapi sharing dan pertanyaan itu, saya bertanya apa yang Bapak pahami mengenai pelayanan. Bapak itu menjawab bahwa bagi dirinya, pelayanan adalah untuk kemuliaan Tuhan dan mengusahakan segala sesuatunya agar pelayanan itu berjalan dengan baik. Setelah saya mendengar jawaban tersebut, saya mengatakan bahwa apa yang disampaikan sebagai jawaban itu adalah konsep pelayanan. Namun demikian, ada yang terlewat sehingga pelayanan yang Bapak itu kerjakan hanya menjadi suatu kelelahan yang tidak membawa pada sukacita.
Berbicara mengenai karya pelayanan, kita tidak bisa melewatkan sesuatu yang penting dan mendasar dari pelayanan itu, yakni relasi kasih yang intim, personal, dan mendalam dengan Yesus, Sang Guru, yang memberikan tugas perutusan kepada kita para murid-Nya. Hal ini dipaparkan oleh Injil Yohanes yang baru saja kita dengarkan. Dalam Bacaan Injil hari ini, Yohanes mengisahkan mengenai penampakkan Yesus kepada 7 murid-Nya dan ditutup dengan percakapan antara Yesus dengan Petrus. Dalam kisah epilog atau penutup Injil Yohanes ini, kita dapat memahami, terutama dalam percakapan antara Yesus dengan Petrus, bahwa tugas perutusan diberikan kepada para murid, bukan karena seseorang itu berbakat atau memiliki kedudukan tertentu, melainkan tugas perutusan diberikan karena para murid pertama-tama mampu hidup dalam relasi kasih dengan Yesus. Dapat kita lihat, Yesus bertanya kepada Petrus apakah Petrus mengasihi Yesus, lalu ketika Petrus menjawab bahwa ia mengasihi Yesus, barulah Yesus memberikan tugas perutusan kepada Petrus.
Oleh karena itu, kita keliru memahami makna pelayanan jika karya pelayanan hanya dilihat dan dipahami sebagai suatu pekerjaan semata. Karya pelayanan pertama-tama didasarkan pada relasi kita dengan Yesus. Dalam bahasa lain, biasanya saya mengatakan karya pelayanan adalah cara kita untuk mengasihi Yesus. Dengan demikian, fokus utama dalam karya pelayanan, bukan semata pada keberhasilannya, melainkan apakah melalui karya pelayanan itu, kita semakin mampu mengasihi Yesus, Sang Guru lalu apakah relasi kita dengan Yesus semakin erat atau justru semakin jauh. Contoh nyatanya adalah ada orang yang begitu giat dalam Perayaan Ekaristi. Bahkan, bisa saja seseorang terlibat dalam pelayanan itu sampai mengharuskan dirinya mengikuti 3-5 kali Perayaan Ekaristi. Pertanyaannya adalah apakah dalam Perayaan Ekaristi yang ia ikuti itu, ia sungguh bertemu dengan Tuhan Yesus atau tidak? Jangan-jangan orang itu tidak bertemu dan berelasi dengan Tuhan Yesus secara personal, intim, dan mendalam. Alih-alih semakin mampu berelasi dengan Yesus, Sang Guru, orang tersebut hanya memahami Perayaan Ekaristi sebagai ritual atau pekerjaan yang harus dijalankan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa relasi kasih dengan Yesus, Sang Guru tidak terjalin dan orang tersebut hanya mendapatkan kelelahan.
Tentu menjadi pertanyaan tersendiri, apakah karya pelayanan bisa semakin menjauhkan kita dengan Yesus, Sang Guru? Jawabannya adalah sangat mungkin bisa. Hal itu terjadi saat kita menjalankan karya pelayanan, kita hanya melakukan pekerjaan semata tanpa mau menjalin relasi dengan Yesus, Sang Guru. Alhasil, karya pelayanan bukan untuk semakin besarnya kemuliaan Tuhan, melainkan kita hanya mencari nama dan kemuliaan pribadi.
Belajar dari pengalaman seorang Bapak yang bertanya pada saya itu, kita dapat berefleksi secara pribadi dan bertanya pada hati kita sendiri apakah karya pelayanan yang kita kerjakan sudah mempererat relasi kita dengan Yesus, Sang Guru atau justru semakin menjauhkan relasi kita dengan Yesus, Sang Guru?
Selamat merenungkan karya pelayanan yang kita jalani.
Selamat menjalin relasi dengan Yesus, Sang Guru.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









