TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Minggu Paskah VII, 1 Juni 2025

Dibaca dalam waktu2 Menit, 43 Detik

TINJAU – “Kesatuan, Bukan Keseragaman”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Kis. 7:55-60

Bacaan II        : Why. 22:12-14.16-17.20

Bacaan Injil    : Yoh. 17:20-26

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Selama kurang-lebih 5 bulan saya bertugas di Paroki Bunda Maria, Cirebon, saya masih mengagumi salah satu kuliner khas Cirebon, yakni nasi jamblang. Nasi jamblang adalah nasi pulen yang disajikan bersama dengan beberapa lauk seperti terung balado, perkedel kentang, tempe dan tahu goreng, pepes telur asin, cumi hitam, daging sapi, paru, hati ayam, jengkol dan sambal goreng cabai. Perpaduan yang pas dan nikmat disantap ketika lapar. Dari itu semua, hal yang menyatukan adalah nasi pulen yang dibungkus dengan daun jati. Nasi ini memiliki aroma yang khas yang menambah kenikmatan saat menyantap nasi jambalng itu.  Nasi jamblang terasa nikmat karena adanya kesatuan dalam satu piring yang disajikan. Nasi jamblang tidaklah memaksakan keseragaman, melainkan keberagaman yang saling melengkapi.

Hal ini jugalah yang diajarkan kepada kita pada hari ini, yakni kesatuan bukan keseragaman. Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mendengarkan bahwa Yesus mendoakan kita kepada Bapa-Nya agar terjadi kesatuan yang indah dan mengagumkan di antara kita, sama seperti kesatuan antara Yesus dengan Bapa serta Roh Kudus. Kesatuan yang diikat oleh kasih antar satu sama lain. Dalam kesatuan itu, karakter dan keunikan masing-masing pribadi tidak hilang dan melebur, melainkan menonjol dan memberi warna tersendiri dalam kesatuan yang terwujud sebagai murid-murid Yesus.

Acapkali kita keliru mengartikan doa Yesus ini. Kekeliruan itu terjadi karena kita memaksakan agar terjadinya keseragaman di antara para murid Kristus. Tentu hal ini adalah sesuatu yang menyimpang jauh dari apa yang dimaksud oleh Yesus sebagai kesatuan. Ketika keseragaman yang terbentuk. keunikan dan karakter masing-masing pribadi akan hilang dan melebur sehingga sulit dikenali. Jika hal itu yang terjadi, maka keberagaman tidak dapat ditolerir sehingga segala sesuatunya harus dibuat seragam.

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, jika demikian mana yang dipilih oleh Gereja, kesatuan atau keseragaman? Tentu jawabannya Gereja memilih kesatuan. Terbukti memang segala komando dalam Gereja muncul dari hirarki, tetapi dalam pelaksanaannya, masing-masing Gereja lokal menjalankan komando itu dengan baik tanpa kehilangan kekhasannya masing-masing. Keberagaman yang ada dalam kesatuan Gereja jugalah yang seringkali membantu Gereja menghadapi tantangan zaman yang semakin hari semakin rumit dan perlu untuk dihadapi agar keberadaan Gereja semakin relevan dengan kebutuhan zaman yang ada.

Nah, bagaimana dengan kita?

Apakah kita selama ini terpaku menekankan diri pada keseragaman atau kesatuan? Semoga kita semua terbuka pada kesatuan seperti yang telah didoakan oleh Yesus, yakni agar terciptanya kesatuan di antara kita para murid, sama seperti kesatuan antara Bapa dan Yesus. Semangat kesatuan ini juga tersurat dalam semangat atau motto penggembalaan Bapa Suci Leo XIV, yakni “In Illo Uno unum” yang artinya Di dalam kesatuan, kita adalah satu. Sama seperti seporsi nasi jamblang, ia terdiri dari berbagai komponen yang berbeda, tetapi menjadi satu. Bukan seporsi nasi jamblang yang seragam. Bagaimana mungkin kita dapat menikmati seporsi nasi jambalng, jika isinya semuanya seragam?

Selamat mengusahakan kesatuan di antara kita.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button