Alvin Tedjo, Keturunan Indonesia yang Terpilih Jadi Wali Kota Mississauga, Kanada
TINJAU, Jakarta – Dari seorang anak yang tumbuh dengan pemandangan balai kota di depan rumahnya, Alvin Tedjo kini bersiap memimpin Kota Mississauga, Kanada.
Pria berusia 43 tahun keturunan Tionghoa-Indonesia itu terpilih sebagai wali kota setelah mengungguli dua tokoh politik yang lebih berpengalaman, yakni petahana Carolyn Parrish dan mantan wali kota Bonnie Crombie.
Dalam pemilihan yang berlangsung pada 26 Oktober 2026 waktu setempat, Tedjo meraih 74.479 suara atau 39,2 persen. Sementara itu, Parrish memperoleh 51.853 suara atau 27,3 persen, disusul Crombie dengan 43.191 suara atau 22,7 persen.
Kemenangan tersebut menandai babak baru bagi Mississauga, kota di Provinsi Ontario yang selama puluhan tahun dipimpin oleh sejumlah tokoh politik senior.
Tedjo menjadi orang keempat yang menduduki jabatan wali kota dalam kurun waktu hampir setengah abad.
“Merupakan suatu kehormatan seumur hidup bisa berdiri di sini sebagai wali kota Mississauga yang berikutnya. Ini adalah tanggung jawab besar yang tidak saya anggap mudah,” ujar Tedjo dalam pidato kemenangannya.
Dari Depan Balai Kota ke Panggung Politik
Perjalanan Tedjo menuju kursi wali kota berawal jauh sebelum dirinya terjun ke dunia politik. Orang tuanya, yang merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia, menetap di Mississauga ketika ia berusia empat tahun.
Tedjo tumbuh di pusat kota dengan balai kota yang terlihat dari depan rumahnya. Ketertarikannya terhadap kehidupan publik mulai berkembang sejak masa sekolah.
Saat duduk di bangku SMA, ia pernah menjabat sebagai ketua pelajar sekaligus menjadi anggota komite penasihat pemuda untuk wali kota.
Pada pertengahan 1990-an, Tedjo bertemu dengan Hazel McCallion, wali kota Mississauga yang saat itu telah menjadi figur penting dalam pemerintahan kota tersebut.
Pertemuan itu terjadi setelah Tedjo menerima penghargaan Young Citizen of the Year. Tedjo kemudian mengenang pesan McCallion yang mendorongnya terjun ke politik.
“Terjunlah ke dunia politik, anak muda,” ujar Tedjo, menirukan ucapan McCallion saat itu.
Puluhan tahun kemudian, dorongan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya hingga terpilih sebagai pemimpin kota tempat ia dibesarkan.
Sebelum menjabat sebagai wali kota terpilih, Tedjo membangun karier di bidang kebijakan publik, hubungan pemerintahan, strategi, dan komunikasi.
Ia pernah bekerja sebagai penasihat dan staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Ontario.
Setelah itu, ia menghabiskan empat tahun menangani hubungan pemerintahan di Sheridan College sebelum memimpin bidang strategi dan komunikasi di Toronto Metropolitan University.
Tedjo juga memiliki pengalaman langsung dalam pemerintahan lokal. Pada 2022, ia terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mississauga dan pernah menjadi anggota dewan direksi Clarkson Village Business Improvement Area (BIA).
Latar belakang pendidikannya turut mencakup gelar sarjana Ilmu politik dari Queen’s University, disertai Sertifikat Studi Internasional. Ia juga meraih gelar master di bidang Desain Media Digital dari Harvard University serta sertifikat pascasarjana di bidang Desain dan Teknologi Pembelajaran.
Sepanjang kariernya, Tedjo terlibat dalam berbagai upaya yang berkaitan dengan kepentingan keluarga, lingkungan, dan pendidikan melalui pekerjaannya di lembaga pendidikan maupun pemerintahan Provinsi Ontario.
Dukungan Meningkat Menjelang Pemilihan
Perjalanan kampanye Tedjo tidak berlangsung tanpa tantangan. Jajak pendapat Liaison Strategies pada Agustus menempatkannya di posisi keempat, dengan dukungan sekitar 12 persen di antara pemilih yang telah menentukan pilihan atau cenderung memilihnya.
Namun, dukungannya meningkat menjelang pemungutan suara. Pada 22 Oktober, angka tersebut mencapai 31 persen, melampaui Parrish yang berada di angka 28 persen dan mendekati Crombie dengan 35 persen.
Tedjo mengakui bahwa sejak awal, kampanyenya menghadapi keraguan dari berbagai pihak.
“Saat kami memulai langkah ini enam bulan lalu, kami tahu perjuangan ini akan berat. Banyak orang mengatakan kami tidak mungkin menang dan sebaiknya tidak ikut serta,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan keinginannya untuk memperjuangkan kepentingan kota tersebut. “Saya ingin berjuang demi kota ini,” ujarnya.
Parrish dan Crombie mengakui Tedjo sebagai anggota dewan yang baik, meskipun keduanya mempertanyakan apakah pengalamannya sudah cukup untuk memimpin kota. Menanggapi keraguan tersebut, Tedjo memberikan jawaban singkat: “Lihat saja nanti.”
Setelah pengumuman hasil pemilihan, Parrish menyampaikan harapan baik kepada Tedjo dan menawarkan dukungan berupa saran apabila diperlukan.
Kini, perjalanan Tedjo memasuki tahap baru. Dari masa kecil yang diwarnai kedekatan dengan balai kota hingga pengalaman bekerja di pemerintahan dan lembaga pendidikan, ia akan membawa rekam jejak tersebut ke jabatan tertinggi di pemerintahan Mississauga.
Kemenangannya sekaligus menghadirkan babak baru dalam kepemimpinan kota tersebut, dengan Tedjo bersiap menjalankan tanggung jawab sebagai wali kota setelah memperoleh mandat dari para pemilih.









