TinjauAds
BeritaPilihan Redaksi

Prabowo Terima Menlu Singapura Sore Ini, Kerja Sama Buru Korporasi Pembakar Hutan Jadi Sorotan

Dibaca dalam waktu2 Menit, 55 Detik

TINJAU, Jakarta – Upaya Indonesia dan Singapura menindak perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki babak baru. Setelah kedua negara sepakat membentuk satuan tugas (satgas) bersama untuk memperkuat penegakan hukum,

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menerima Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/10/2026) sore.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pertemuan tersebut dijadwalkan setelah Vivian meminta waktu untuk bertemu Prabowo.

“Selasa (27/10/2026) pagi mendadak Menlu Singapura datang ke Indonesia dan mohon waktu bertemu Pak Presiden, nanti sore akan diterima,” kata Teddy, Rabu.

Rencana pertemuan itu berlangsung sehari setelah Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir bertemu dengan Vivian untuk membahas penanganan karhutla, termasuk langkah bersama menelusuri dan menindak korporasi yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Dalam pertemuan di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026), Indonesia dan Singapura menyepakati pembentukan satgas bersama untuk memperkuat pertanggungjawaban korporasi.

Arrmanatha mengatakan satgas tersebut akan memfasilitasi pertukaran informasi, intelijen keuangan, pengumpulan bukti lintas negara, hingga pemulihan aset apabila memungkinkan.

“Satgas ini akan menghubungkan pertukaran informasi, intelijen keuangan, dan pengumpulan bukti lintas batas, serta jika memungkinkan-pemulihan aset (asset recovery). Tidak boleh ada batas wilayah yang melindungi mereka yang meraup keuntungan dari membakar hutan kita,” ujar Arrmanatha.

Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat upaya penegakan hukum terhadap perusahaan yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran hutan. Pemerintah Indonesia juga menyambut tawaran Singapura untuk berbagi data mengenai perusahaan yang berkaitan dengan kebakaran.

Menurut Arrmanatha, penelusuran aliran dana menjadi salah satu langkah penting untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat.

“Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama dengan Singapura dan pihak lainnya demi membawa mereka yang bertanggung jawab ke meja hijau. Asap dapat melintasi batas negara, begitu pula aliran dana,” katanya.

Ia menambahkan, kedua negara perlu menelusuri jejak keuangan perusahaan yang diduga terlibat agar proses hukum dapat dilakukan secara lebih efektif.

Warga Terdampak Menjadi Perhatian Utama

Di balik upaya diplomatik dan penegakan hukum tersebut, dampak karhutla terhadap masyarakat menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia.

Arrmanatha menegaskan bahwa masyarakat di wilayah terdampak, terutama Sumatera dan Kalimantan, menjadi kelompok yang lebih dahulu merasakan dampak kabut asap.

“Izinkan saya menegaskan hal ini. Korban pertama dari kebakaran ini adalah rakyat Indonesia sendiri,” ujarnya.

Ia menyebut petani, anak-anak, dan keluarga yang tinggal di wilayah terdampak sebagai kelompok yang harus menghadapi paparan asap secara langsung. Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Arrmanatha juga mengatakan bahwa Presiden Prabowo telah menjadikan penanganan kebakaran hutan dan lahan sebagai salah satu prioritas utama nasional.

Sementara itu, Vivian Balakrishnan menegaskan bahwa meskipun El Nino merupakan fenomena alam, kebakaran hutan dan lahan juga dipicu oleh tindakan manusia.

“El Nino adalah fenomena yang semula jadi, tetapi kebakaran hutan dan lahan disebabkan aksi manusia,” kata Vivian.

Ia menilai Indonesia dan Singapura memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi kesehatan masyarakat dari dampak kabut asap.

Vivian juga menyatakan solidaritas Singapura terhadap Indonesia, terutama bagi masyarakat di Sumatera dan Kalimantan yang terdampak lebih awal. Menurutnya, persoalan lintas batas tersebut perlu ditangani melalui kerja sama kedua negara.

“Singapura berdiri dalam solidaritas bersama Indonesia. Ini adalah masalah bersama, dan merupakan masalah yang paling baik kita selesaikan secara kolektif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura selama ini dibangun atas dasar kepercayaan, saling menghormati, dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Dengan rencana pertemuan di Istana Kepresidenan, perhatian kini tertuju pada pembahasan lanjutan antara Prabowo dan Vivian.

Kerja sama penegakan hukum terhadap korporasi pembakar hutan menjadi salah satu isu penting dalam hubungan kedua negara, seiring upaya melindungi masyarakat dari dampak karhutla dan kabut asap.

Back to top button