TinjauAds
HabitusPilihan Redaksi

Buka MTQ XXXI, Menag: Tumbuhkan Sikap Qurani

Dibaca dalam waktu2 Menit, 50 Detik

TINJAU, Semarang – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berharap Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Jawa Tengah menjadi momentum untuk menumbuhkan sikap Qurani di tengah masyarakat. Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya.

Hal itu disampaikannya saat membuka MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima, Semarang, Sabtu (12/9/2026) malam.

MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11–20 September 2026 dan diikuti 2.242 peserta. Jumlah tersebut terdiri atas 1.751 peserta inti dan 491 peserta cadangan yang berkompetisi dalam delapan cabang, 24 golongan lomba, dan 48 kategori.

Nasaruddin mengatakan sikap Qurani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat diwujudkan dengan menegakkan keadilan, menjaga persatuan, melindungi kelompok lemah, menghormati kemajemukan, serta mendahulukan kepentingan bersama.

“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” ujar Nasaruddin.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Ia menjelaskan, dalam keluarga, sikap Qurani tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan kemampuan menjaga kehormatan satu sama lain.

“Tidak ada kekerasan, penghinaan, ataupun kesewenang-wenangan yang dapat dibenarkan mengatasnamakan agama,” katanya.

Sementara di lingkungan kerja, sikap Qurani diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil.

“Al-Qur’an tidak boleh hanya terdengar pada pembukaan acara, tetapi kehilangan daya pengaruhnya ketika kita mengelola anggaran, menggunakan kewenangan, memberikan pelayanan, dan mengambil keputusan,” tegasnya.

Menurut Nasaruddin, orang yang dekat dengan Al-Qur’an harus menjadi pribadi yang dapat dipercaya, bersungguh-sungguh dalam bekerja, serta menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Di tengah masyarakat, sikap Qurani juga diwujudkan melalui ta’aruf, ta’awun, dan tabayyun, yakni saling mengenal, saling menolong dalam kebaikan, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

“Sikap Qurani menolak fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan segala tindakan yang merusak kehormatan serta persaudaraan,” katanya.

Pawai Ta’aruf

Rangkaian MTQ Nasional XXXI turut dimeriahkan Pawai Ta’aruf yang diikuti sekitar 46 defile dari berbagai provinsi, kabupaten/kota, instansi, dan lembaga di Jawa Tengah.

Pawai tersebut menempuh rute sekitar 2,5 kilometer dari Balai Kota Semarang hingga halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. Beragam pakaian adat, ornamen budaya, musik, dan atraksi drumband menghiasi pawai yang menjadi bagian dari rangkaian MTQ Nasional XXXI.

Pawai diawali penampilan drumband dari Korps Musik Taruna (Korsiktar) Universitas Maritim AMNI (Unimar AMNI) Semarang. Setelah itu, satu per satu defile menampilkan identitas daerah masing-masing melalui pakaian adat dan simbol budaya dari berbagai penjuru Indonesia.

Sejumlah daerah dan lembaga di Jawa Tengah juga turut memeriahkan pawai. Salah satunya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang yang menampilkan perwakilan dari berbagai agama.

Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya warga yang memenuhi sejumlah titik di sepanjang rute. Mereka menyaksikan iring-iringan peserta, mengabadikan penampilan defile, dan memberikan sambutan ketika rombongan melintas.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Menag Nasaruddin Umar menyambut peserta dan mengapresiasi antusiasme provinsi serta kabupaten/kota yang ikut dalam Pawai Ta’aruf MTQ Nasional.

Taj Yasin juga menyampaikan terima kasih kepada 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang mengirimkan defile untuk memeriahkan pawai tersebut.

Menurut Taj Yasin, Pawai Ta’aruf menjadi ruang untuk memperlihatkan kebudayaan dan adat dari berbagai daerah sekaligus mempertemukan keberagaman dalam satu momentum MTQ Nasional.

“Kita ingin menampilkan kebudayaan-kebudayaan dari berbagai daerah untuk bersatu padu membangun Indonesia melalui MTQ Nasional,” kata Taj Yasin.

Ia menambahkan, kemeriahan pawai menunjukkan bahwa MTQ dapat menjadi ruang kebersamaan tanpa melihat perbedaan suku, ras, maupun agama.

“Ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama. Tidak melihat suku, ras, agama, semuanya berkumpul, kita bersatu,” pungkasnya.

Back to top button