The Courage To Be Disliked: Belajar Dari Alfred Adler
1. Amat berbahaya bagi kita jika meyakini bahwa masa lalu pasti menentukan masa depan
Adler mempertahankan gagasan bahwa kita dapat mengubah diri kita pada saat tertentu. Bukan merupakan suatu masalah jika kita memiliki kekurangan di masa lalu, sebab kita dapat memperbaikinya di masa sekarang. Kita harus percaya bahwa sesuatu yang berbeda dapat terjadi untuk mematahkan pola lama, dan kita dapat memilih pandangan baru kapan saja.
Tinjauan Terkait: Pendidikan Dan Filsafat Sebagai Lentera Budi
2. Jika kita fokus hanya pada apa yang salah pada diri kita, kita akan membenci diri sendiri.
Dalam dialog, sang filsuf menangkap bahwa pemuda terburu-buru mengidentifikasi sesuatu dalam dirinya sebagai sebuah kekurangan. Padahal kekurangan itu tidaklah nyata. Dengan demikian, kita dapat membenci diri sendiri dan mengisolasi diri dari orang lain, sehingga dapat menghindari luka. Sedangkan, kesengsaraan yang terjasi setelahnya bukanlah karena ‘kekurangan’ tadi, melainkan kesepian.
3. Sebagian besar dari apa yang kita anggap sebagai persaingan hanya merupakan sesuatu yang kita buat-buat dan merusak kebahagiaan
Adler melihat masyarakat yang kompetitif cenderung merugikan kesehatan mental dan kebahagiaan diri mereka sendiri. Masalahnya adalah, jika kita percaya bahwa untuk menjadi bahagia kita perlu memiliki uang lebih banyak dari orang lain, lebih memiliki banyak orang yang menyukai daripada orang lain, atau lebih memiliki banyak teman daripada orang lain, bagaimana pun juga, kita akan tetap dapat merasa sedih. Adler menawarkan sesuatu yang lebih produktif: membantu manusia menjadi berani. Begitu kita melepaskan pola pikir yang sempit dan kompetitif, kita tak akan pernah merasa ada orang atau sesuatu yang menahan kita. Kita bisa ciptakan kebahagiaan kita sendiri lewat hal-hal sederhana di sekeliling kita.








