Prabowo, Ingat, Berpolitik Harus Jelas Beri Bridging
Prabowo Subianto dalam rangka Pemilu 2019 pernah bicara mengenai bubarnya Indonesia di Tahun 2030. Mengutip Kompas di tahun 2018 sebelum Pemilu bergulir, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan, Indonesia tidak ada lagi tahun 2030 didasarkan pada scenario writing pihak asing. Dalam berpolitik, Prabowo diminta memberi bridging serta sedikit penjelasan mengenai mengapa pernyataannya berubah di 2024.
Jakarta, tinjau.id – Dalam rangka Pemilu 2024, Prabowo Subianto tidak lagi bicara soal bubarnya Indonesia di tahun 2030. Pernyataan bubar itu kini berubah menjadi sebaliknya, bahwa Indonesia negara kuat. Pernyataan ini tentu berbalik dari semacam pesimisme Prabowo di 2018 bahwa Indonesia akan bubar di 2030. Semacam tidak ada harapan bagi bangsa yang pada 2023 ini disebutnya justru sebagai negara kuat.
Ada apa Prabowo? Berpolitik jelang Pemilu dengan mencari jargon yang menarik hati pemilih?
Sekedar memori di tahun 2018, dalam rangka Pemilu 2019, Prabowo pernah mengatakan Indonesia akan bubar.
“Jadi di luar negeri itu ada scenario writing, yang nulis itu ahli-ahli intelijen strategis. Dibuka dong, baca dong,” ujar Prabowo di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (22/3/2018). Prabowo ingin menyampaikan skenario tersebut sebagai sebuah peringatan bagi Pemerintah Indonesia untuk tidak menganggap enteng berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia, seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, penguasaan sumber daya, hingga persoalan lingkungan.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
“Sesudah perang kemerdekaan mereka tetap Indonesia mau dipecah dari dulu selalu. Nah ini sekarang masih ada tulisan seperti itu bahwa Indonesia ini oleh ahli masih dianggap tahun 2030 sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemerintah Indonesia jangan terlalu lugu akan ancaman pihak luar terhadap kedaulatan Indonesia. Sebab, berbagai kekayaan manusia, sumber daya alam, hingga kebudayaan menjadi sasaran perebutan pihak asing.
Berbanding terbalik dari pesimisme itu, kini dalam rangka Pemilu 2024 Prabowo mengatakan lain.
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengatakan, Indonesia sangatlah kaya akan sumber daya sekaligus negara besar, sehingga negara lain iri.
Hal tersebut Prabowo sampaikan dalam acara The 1st DEFEND ID’s Day di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/6/2023). “Tadi saya katakan, bangsa kita sangat kaya, sangat besar. Dan karena itu, bangsa kita di-iriin oleh bangsa lain,” ujar Prabowo.
Ada apa?
Prabowo, Pemilu 2024 dan perubahan sikap
Pegiat media sosial Eko Kuntadhi menjelaskan perubahan sikap drastis pada Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Menurut Eko, dahulu saat menjadi lawan Presiden Jokowi, Prabowo tak segan-segan menyerang dengan kata-kata yang kasar, tapi kini Ketua Gerindra itu tak malu-malu lagi memuji Jokowi.
“Perhatiin ya sekarang strategi komunikasinya Pak Prabowo, coba bandingin dengan Prabowo di 2019 dan 2014,” kata dia melansir dari Cokro TV, Rabu (24/05/23).
“Kesannya sekarang apa? Ya Prabowo itu jauh lebih baik, jauh lebih komunikatif, jauh lebih sabar, jauh lebih apa namanya menghargai orang,” tambahnya.
“Dan dia tidak meledak-ledak lagi, tidak menyerang menyerang orang dengan keras padahal pada 2019-2014 kita tahu bagaimana serangan dahsyat Prabowo ke Jokowi, bagaimana dia melakukan tindakan yang ofensif,” jelasnya.
Strategi komunikasi Prabowo yang dulu kata Eko langsung menyerang ke jantung pertahanan lawan, tapi sekarang sudah tidak digunakan lagi.
“Tapi yang paling penting Apakah karakter seseorang itu sesuai dengan apa yang diomongin atau sesuai dengan yang ditampilkan di brosur hari ini?,” kata dia.
“Apakah misalnya Pak Prabowo sudah sedemikian berubah total ketika dia nanti berkuasa misalnya?”
“Apakah perubahan ini jadi permanen, dia jadi jauh lebih baik, jauh lebih merangkul? Jauh tidak akan melakukan serangan terhadap orang lain misalnya,” tanyanya lagi.
Menurut Eko, dalam teori psikologi orang yang sudah berumur sifatnya akan sulit berubah.
“Kalau gua sih ngeliatnya dalam teori psikologi agak susah ya orang yang udah usianya cukup matang kayak Pak Prabowo itu,” katanya.
“Usianya 70-an tahun lebih itu, nggak bisa tiba-tiba karakternya berubah begitu saja. Karakter dia sudah terbentuk dari kecil sebagai anggota militer, sebagai keluarga Cendana dan kemudian sebagai ketua partai yang mungkin di partainya penguasa tunggal,” jelasnya.
“Karakter terbentuk dari berbagai perjalanan itu dan kita tahu karakter-karakter itu tumbuh ketika dia misalnya pada saat peristiwa 98 pada saat terjadinya suasana keos di Indonesia,” ungkapnya.
Kemana Prabowo yang berapi-api dan temperamen? Perubahan sikap politik?
Zcveloi Sani, Pengamat Politik Indonesia, Centre of Indonesia Studies, Belanda mengatakan Prabowo Subianto tampaknya semakin mengubah sikap politiknya. Terutama setelah berkolaborasi dengan mantan rivalnya di 2014 dan 2019, Joko Widodo, dalam kabinet pimpinan Jokowi itu. Bagaimana perubahan sikap ini berpengaruh pada peluangnya di 2024?
Tetapi menurut Sani, Prabowo harus beri bridging alias menjelaskan jembatan mengapa berubah soal pesimismenya di 2018 dan menjadi optimis di 2023.
Prabowo dinilai harus jujur menyebut dirinya keliru soal prediksi 2018. Ini menjadi momentum untuk merebut hati rakyat di 2024.
“Ada hal yang menarik dari pidato pengarahan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, beberapa hari lalu, Sabtu (4/2/23). Prabowo menyapa satu per satu seluruh pengurus DPD partai pimpinannya melalui sambungan gambar satelit,” analisa Sani.
Gerakan Prabowo begitu luwes, menyapa dengan sangat ramah.
“Kamu jaga Sulawesi Utara ya. Itu kampung Ibu saya,” ucap Prabowo kepada DPD Partai Gerindra Sulawesi Utara.
Berbeda dengan partai besar lain yang melaksanakan ulang tahun secara besar-besaran di gedung yang mewah. Prabowo memilih beracara di tenda yang didirikan di samping Kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan.
“Saya minta maaf, karena acara kita, mobilitas warga terganggu. Lain kali kita coba pikirkan, supaya tidak beracara di jam seperti ini,” ujar Prabowo.
Banyak Pengurus DPD Partai Gerindra melalui sambungan gambar satelit melaporkan telah selesai membangun kantor pengurusnya masing-masing.
“Saya berjanji akan mengunjungi dan meresmikan kantor kalian satu per satu. Semua. Saya janji,” ucap Prabowo merespon laporan pengurus daerah partai pimpinannya itu.
Banyak yang terkejut ketika seorang Prabowo Subianto memutuskan berkoalisi dengan pemerintahan mantan rivalnya pada dua kali pemilu, Joko Widodo.
Itulah akhir yang sunyi bahkan hampir tidak berbekas sama sekali soal polarisasi antara cebong dan kampret. Polarisasi yang tercipta selama dua kali pemilu dan dibahasakan secara lumrah oleh dua pendukung sebelah menyebelah.
“Saudara-saudara. Saya tidak mau bicara lama-lama. Kalau diizinkan sebenarnya saya seperti biasa ingin bicara tiga jam. Tapi saya beberapa tahun ini lihat pemimpin saya, panglima saya, Presiden Joko Widodo. Beliau itu seperlunya. Saya juga sejak bersama beliau merasakan bagaimana duduk sebagai anak buah dan ada pimpinan bicara. Kalau terlalu lama, waduh bosan juga. Makanya tidak usah lama-lama ya,” ujar Prabowo.
Prabowo tampaknya telah menginstruksikan pengurus partai yang lain untuk menyiapkan beberapa kursi di atasnya terdapat seragam khas partai.
“Kita ingat orang-orang yang berjasa. Ibu Rachmawati, Bapak Suhardi. Mereka itu kstaria partai. Terima kasih untuk mereka,” ujar Prabowo mengenang.
Gerak tubuh Prabowo tanpa berbeda kini. Ia berapi-api malah mengarah ke sikap marah-marah jika kita mengingat masa-masa menjelang pertarungan demokrasi pada dua kali pemilu sebelumnya.
“Saya sudah belajar. Pelajarannya, kita tidak boleh menyerah karena pernah gagal. Tapi saya melihat bagaimana pemimpin lurus. Ya itu Presiden saya sekarang,” ucap Prabowo.
Tampak lebih sederhana, kekuatan baru?
“Jadi pemimpin itu tidak boleh mudah terpengaruh. Lurus. Saya lihat langsung bagaimana Pak Jokowi sangat tangguh bertahan, memasang strategi bagaimana masyarakat bisa tetap eksis waktu pandemi,” kata Prabowo.
Kata Sani, cara bicara Prabowo tampak santai. Tenda seremoni ulang tahun partainya juga sederhana. Tidak ada mimbar otoritatif di mana seorang Ketua Umum berpidato sambil perintah-perintah di atas panggung. Prabowo yang agak ‘angkuh’ juga tampaknya sudah hilang. Terlihat agak sederhana dan manusiawi, santai meminum kopi sambil berpidato.
Jelang Pemilu 2024, masih kabur, seperti apa peta politik nasional. Sudah ada koalisi-koalisi kecil-kecilan yang coba digagas. Tapi semuanya belum jelas. Bahkan bagi Prabowo.
“Jangan kalian, saya saja belum tahu siapa Cawapresnya,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Terlepas dari gesture yang berubah: lebih sederhana, lebih luwes, Prabowo tetap membutuhkan ekstra strategi menghadapi pertarungan politik 2024.
“Setahu saya, terlepas dari rekam militernya yang dicatat buruk dalam sejarah, orangnya baik, orangnya lurus, seorang ksatria yang misinya tidak neko-neko, hanya untuk mengabdi bagi bangsa. Dia tentara sejati,” kata Sani.
Bukan tidak mungkin, Prabowo memang memiliki gaya otentik seperti itu. Bisa jadi, gaya otentik Prabowo justru lahir kembali, karena belajar dari lingkaran kesederhanaan oknum pemimpin yang sekarang menjadi bosnya. Berulang-ulang dalam setiap kesempatan, Prabowo memuji Jokowi. Seakan lupa bahwa pernah ada dua pertandingan luar biasa di masa lalu.
“Sederhana, masih menjadi kekuatan?” tanya Sani menutup.







