TinjauAds
BisnisInspirasi

Berkebun: Dari Hobi Jadi Cuan

Dibaca dalam waktu2 Menit, 51 Detik

Berkebun bisa menjadi kegiatan positif yang dilakukan siapa saja dan kapan saja. Selain menyalurkan hobi dan refreshing, berkebun pun juga bisa jadi sumber cuan lho! Menariknya, kita tak harus punya kebun yang luas untuk memulai menanam dan menghijaukan lahan. 

Cilacap – Tak perlu bingung menentukan hendak memelihara jenis tanaman seperti apa. Tinggal menyesuaikan antara kebutuhan dengan kemampuan kita merawat tanaman, kita bisa memulai berkebun kapan saja. Baik di beranda rumah maupun di balkon sempit pun berkebun dapat dilakukan. Bahkan, di dalam rumah pun tidak masalah.

Seperti yang dilakukan Yuni Permana (43), perempuan warga Cilacap, Jawa Tengah ini. Di rumahnya, Yuni menanam beragam jenis tanaman hias, sayur-mayur dan buah. Koleksinya antara lain; anggrek, aglonema, monstera, kaktus, dan keladi.

Di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan organisasi, setiap hari Yuni menyempatkan diri untuk berkebun. Tanaman hijau itu pun menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia merawat ”anak-anak hijau”-nya, begitu ia menyebut koleksi tanamannya, seperti anak sendiri.

Siasati Keterbatasan Lahan

Tak hanya menyiram secara rutin, tapi ibu dengan tiga orang putra ini juga melakukan perawatan khusus. Seperti memberikan pupuk dan anti jamur, mengganti media tanam, serta memangkas daun yang sudah tua. Yuni juga mempercantik sejumlah koleksinya dengan menempatkan tanaman tersebut pada pot-pot lucu dan rak khusus. Tanaman koleksinya jadi terlihat mewah.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Yuni yang hobi menata rumah ini juga menjadikan koleksi tanamannya sebagai elemen dekorasi. Selain menatanya di beranda rumah dan halaman, ia meletakkan aneka tanaman di ruang tamu, ruang keluarga dan kamar tidur.

”Pastinya, tanaman yang saya letakkan di dalam rumah akan secara rutin saya jemur supaya terkena sinar matahari dan sehat,” urai Yuni.

Yuni menuturkan, ia suka berkebun sejak masih SD. Ia rutin membantu ibunya menanam dan merawat bunga. Setelah menikah, ia melanjutkan hobinya itu dengan berkebun di  beranda belakang rumahnya yang sempit. Ia menanam bunga dan apotik hidup.

Yuni menyiasati keterbatasan lahan dengan menanam tanaman gantung, seperti aneka sirih-sirihan. Serta bunga anggrek yang ia tempel di dinding.

”Bunga pertama yang saya punya itu dua pot bonsai kamboja, pemberian tetangga, “ kenang Yuni.

Yuni makin leluasa menyalurkan hobinya setelah kembali ke kampung halaman dan membangun rumah lebih luas. Semakin banyak jenis tanaman yang ia budidayakan dengan sistem perbanyak. Ada sygonium, tanaman bambu-bambuan, bromelia, calathea dan episcia. Ia juga menanam pohon buah-buahan dan sayur di halaman depan dan samping rumahnya.  Membuat area rumahnya kian menghijau.

Dari Hobi Jadi Bisnis

Rupa-rupanya koleksi tanamannya itu membuat banyak orang kepincut ingin membelinya. Tak terkecuali pedagang bunga langganan Yuni yang mengajaknya barter tanaman. Pembeli lain ia dapatkan media sosial. Itu setelah Yuni rajin memotret dan mengunggah koleksi tanamannya ke akun Facebook dan Instagram.

”Ternyata, hasil jualan bunga lumayan. Keuntungannya bisa saya belikan tanaman yang saya belum punya,” terangnya dengan raut senang.

Memang, lanjut Yuni, hanya tanaman tertentu saja yang ia jual. Terutama tanaman yang punya lebih dari satu koleksi. Tapi jika hanya punya satu pot, ia tidak akan melepasnya meski ditawar harga tinggi. Yuni pun mengakui, meski berkebun itu menyenangkan, ada kalanya ia merasa sedih. Itu kalau melihat koleksinya mati.

”Tapi itu tidak membuat saya trauma, ikhlaskan saja dan tetap lanjut menanam,” papar perempuan yang juga hobi piknik ini.

Bagi pemula yang belajar berkebun, Yuni berpesan  agar konsisten merawat tanaman. Serta mau rajin menimba ilmu baik dari sesama penghobi bunga dan penjual bunga.

”Tidak usah terlalu banyak jenis tanaman. Pelajari dulu karakter masing-masing tanaman. Karena kalau kita sudah memutuskan membeli tanaman, berarti mau bertanggungjawab merawatnya,” tutupnya ramah.

Penulis: Yeti Kartikasari
Editor: Stebby Julionatan

Back to top button