TINJAU, Jakarta | Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin meluas sepanjang 2026. Jika sebelumnya perhatian pasar lebih banyak tertuju pada penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kini pelemahan rupiah juga terlihat terhadap sejumlah mata uang regional seperti dolar Singapura dan ringgit Malaysia.
Dalam laporannya di Investortrust.id, jurnalis ekonomi Primus Dorimulu mencatat bahwa pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dolar AS bergerak di kisaran Rp17.864 hingga Rp17.900 per US$. Di sejumlah money changer, harga jual bahkan dilaporkan mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Namun tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Singapura tercatat berada di sekitar Rp14.000 per SGD, sementara ringgit Malaysia menembus kisaran Rp4.500 per MYR. Kedua level tersebut menjadi titik terlemah rupiah terhadap masing-masing mata uang sepanjang sejarah.
Data Datatrust yang dipublikasikan Investortrust.id menunjukkan rupiah termasuk salah satu mata uang dengan kinerja terburuk terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Secara year-to-date (YTD), rupiah telah melemah sekitar 6,7%. Dalam satu bulan terakhir depresiasinya mencapai 3,1%, sedangkan dalam periode satu tahun pelemahannya mencapai 8,8%.
Kondisi tersebut menempatkan rupiah di kelompok mata uang yang mengalami tekanan cukup besar dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya. Pelemahan rupiah tercatat lebih dalam dibandingkan won Korea Selatan, peso Filipina, yen Jepang, maupun dolar Taiwan. Sementara itu, dong Vietnam menjadi salah satu mata uang yang relatif stabil sepanjang tahun ini.
Menurut Primus, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian terkait Iran, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama telah meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Situasi tersebut mendorong arus keluar modal dari sejumlah negara berkembang. Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat investor global cenderung mempertahankan eksposur terhadap aset berbasis dolar.
Meski demikian, penguatan dolar AS tidak terjadi secara merata terhadap seluruh mata uang dunia. Beberapa mata uang utama, terutama di Eropa, justru mampu menunjukkan ketahanan lebih baik. Sejumlah lembaga keuangan internasional bahkan mulai menyoroti risiko jangka panjang terhadap dolar akibat meningkatnya utang dan defisit fiskal Amerika Serikat.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Kekhawatiran terhadap prospek defisit fiskal, kebutuhan impor yang tinggi, pembayaran utang luar negeri, serta tingginya permintaan dolar untuk aktivitas perdagangan dan korporasi menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan mata uang nasional.
Pelemahan rupiah memang memberikan manfaat bagi sektor-sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan nilai pendapatan berbasis dolar. Industri komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan mineral berpotensi memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut.
Namun di sisi lain, depresiasi yang terlalu dalam berisiko meningkatkan biaya impor, mendorong inflasi yang berasal dari barang impor, memperbesar beban pembayaran utang luar negeri, serta menambah tekanan terhadap anggaran subsidi energi.
Dengan dolar AS mendekati level Rp17.900, dolar Singapura berada di sekitar Rp14.000, dan ringgit Malaysia menembus Rp4.500, pasar saat ini tidak hanya menyoroti kekuatan dolar global. Perhatian investor juga tertuju pada kemampuan fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia yang semakin tinggi.









