Menjaga Wajah Lokal Kalimantan Lewat Budaya dan Komunikasi
TINJAU, Pontianak | Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII tidak hanya menjadi ruang belajar tentang media dan teknologi komunikasi, tetapi juga ajang merawat semangat keberagaman. Pada Jumat (29/5/2026), ratusan peserta PKSN XIII diajak mengunjungi rumah-rumah budaya etnis Dayak, Melayu, dan Hakka di Kota Pontianak.
Kegiatan tersebut diikuti delegasi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan di Indonesia. Mereka mengunjungi Rumah Betang sebagai simbol budaya Dayak, Kampung Caping dan Rumah Melayu sebagai representasi budaya Melayu, serta Rumah Hakka Kalimantan Barat yang merepresentasikan komunitas Tionghoa Hakka.
Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, mengatakan kunjungan budaya ini menjadi kesempatan memperlihatkan wajah lokal Kalimantan yang hidup dalam persaudaraan dan harmoni.
“Kami ingin peserta mengalami langsung bagaimana masyarakat di Kalimantan menjaga kebersamaan dalam keberagaman budaya,” ujarnya.
Menurut Paulus, pendekatan budaya menjadi bagian penting dalam komunikasi sosial Gereja, karena menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata.

Menyatu dengan Tradisi Lokal
Di setiap lokasi, peserta mendapat sambutan hangat berupa tarian tradisional, ritual adat, hingga sajian makanan khas daerah.
Salah satu lokasi yang dikunjungi ialah Kampung Caping di tepian Sungai Kapuas. Kawasan wisata budaya Melayu tersebut dikenal dengan rumah panggung tua berbahan kayu ulin yang kini difungsikan sebagai ruang edukasi masyarakat.
Pendamping masyarakat Kampung Caping, Sinta Devianti, menjelaskan bahwa kawasan itu tidak hanya menjaga tradisi Melayu, tetapi juga mengembangkan kerajinan lokal, perpustakaan kampung, dan kampanye pengurangan sampah plastik.
“Kami mencoba menghidupkan budaya sekaligus membangun kesadaran lingkungan,” katanya.
Nuansa tradisional tampak dalam penyajian makanan ringan kepada rombongan. Seluruh sajian menggunakan daun pisang, bambu, dan rotan sebagai wadah ramah lingkungan.
Artis senior Lisa A. Riyanto yang ikut dalam kunjungan mengatakan budaya lokal memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kerajinan tradisional sekarang berkembang menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Filosofi Kebersamaan
Di Rumah Hakka Kalimantan Barat, peserta dikenalkan pada semangat persatuan masyarakat Hakka. Dewan Pengawas Perkumpulan Hakka, Antonius Kadir, menyebut Rumah Hakka sebagai simbol kesatuan hati.
“Kami berharap semangat satu hati ini bisa menginspirasi semua orang,” katanya.
Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, RD Stephanus Jemmy Fantaw, menilai kunjungan budaya tersebut memberi pengalaman berharga mengenai pentingnya merawat nilai kebersamaan.
“Rumah budaya bukan sekadar tempat wisata, tetapi ruang hidup yang menjaga spiritualitas dan persaudaraan,” ujarnya.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Rumah Betang di Jalan Sutoyo. Di lokasi itu, peserta disambut tabuhan musik tradisional Dayak dan ritual penaburan beras kuning sebagai simbol penerimaan tamu.
Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat (Sekberkesda), Eugene Yohanes Palaoensuka, menjelaskan bahwa Rumah Betang merupakan simbol kehidupan komunal masyarakat Dayak yang diwariskan turun-temurun.
“Rumah Betang mengajarkan hidup bersama dalam kebersamaan dan penghormatan terhadap sesama maupun alam,” katanya.
Kunjungan ditutup di Rumah Melayu dengan prosesi adat “bepapas”. Ritual tersebut dijalani pimpinan rombongan sebelum memasuki balairungsari sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.
Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, M. Rustam, menjelaskan salah satu nilai penting budaya Melayu adalah tradisi “saprahan”, yakni menyelesaikan persoalan sambil duduk dan makan bersama.
“Ketika orang duduk bersama dalam suasana tenang, persoalan biasanya lebih mudah diselesaikan melalui musyawarah,” jelasnya. (*)









