TinjauAds
InspirasiLouder With CarlosPilihan Redaksi

Terlalu Banyak Luka, Mencari Jalan Menuju Roma

Dibaca dalam waktu6 Menit, 0 Detik

TINJAU, Polandia | Bukanlah jalan mudah bagi saya untuk keluar dari Indonesia. Awalnya, pada tahun 2019, saya memutuskan untuk mencari jalan untuk pindah ke negara lain. Waktu itu, Amerika Serikat atau setidaknya satu di antara negara Eropa. Alasan saya, Indonesia memiliki situasi politik yang aneh, lingkungan pergaulan di sekitar saya (menurut saya) toxic, saya juga tidak merasa memiliki ikatan batin dengan Indonesia (saya kehilangan orang tua karena meninggal dunia pada tahun 2013 dan 2015, saya memiliki kakak-kakak kandung, tetapi tidak terlalu dekat, dan terakhir saya memiliki kekasih, tetapi kami punya cita-cita yang sama untuk pindah negara).

Selasa, 17 Februari 2026, pukul 12.52 WIB, pesawat Citilink membawa saya dari Pontianak menuju Jakarta, lalu pada pukul 21.05 WIB, Turkish Airlines menerbangkan saya ke Roma, Italia. Akhirnya saya bisa keluar dari Indonesia.

Selain perjalanan ke Singapura dan Malaysia untuk tujuan wisata sejak tahun 2012, pada tahun 2014, untuk pertama kalinya saya keluar negeri sebagai jurnalis untuk meliput Konferensi Perubahan Iklim ke-20 di Lima, Peru. Itu pertama kalinya saya keluar negeri melalui Malaysia lalu transit di Belanda. Waktu itu selama tiga pekan. Pada 2019, selepas bekerja di Berita Satu, saya merencanakan perjalanan ke Amerika Serikat, namun permohonan visa saya ditolak. Baru kemudian pada tahun 2021, saat pandemi COVID-19, saya melakukan perjalanan ke Prancis dengan visa Schengen. Waktu itu mengunjungi Lourdes dan Paris. Mulanya ingin berkelana ke seluruh wilayah Schengen, namun virus Delta membuat banyak perbatasan di sekitar Prancis ditutup. Saya tidak bisa ke mana-mana. Saya menghabiskan dua pekan hanya di Prancis. Tetapi waktu itulah keinginan yang besar untuk pindah negara dimulai. Saya memutuskan pulang ke Indonesia untuk segera menyelesaikan kuliah Magister Filsafat di STF Driyarkara Jakarta. Waktu itu dalam tahapan penulisan tesis.

Tahun 2022, setelah lulus dari Program Magister, sambil mengurus pendirian Tinjau, saya mencoba mendaftar visa kerja ke Kanada. Ditolak. Entah, dengar-dengar karena ada hubungannya dengan pernah ditolaknya visa Amerika Serikat. Ya sudah. Bukan Amerika!

Michael Carlos Kodoati
Pendiri Tinjau, Michael Carlos Kodoati, di Bandara Internasional Istanbul, Turki, (18/02/2026) – Foto: Carlos

Setelah kasus visa Kanada itu, sibuk mengurus Tinjau dan beberapa pekerjaan di Jakarta, keinginan untuk pindah negara terjeda. Tahun 2023, sesuatu terjadi. Proposal pengumpulan investasi untuk permodalan usaha Tinjau ditipu oleh beberapa oknum yang datang dengan niat menggebu-gebu untuk memberikan investasinya. Ternyata, beberapa oknum ini memanfaatkan saya untuk “mencuri” contoh proposal pendirian media. Dan itu berhasil. Sejak itu, saya mengubur dalam-dalam relasi apa pun yang bicara tentang investasi usaha di Tinjau. Tinjau berjalan lambat hingga kini. Tak apa. Yang penting idealismenya terawat. Pada tahun 2023 itu, karena tersendatnya Tinjau, banyaknya dana yang hilang karena operasionalnya yang tidak sedikit, dan tidak adanya investasi, saya ikut terpuruk. Akhir tahun itu saya menyepi di Meikarta, apartemen kosong yang saya miliki. Saya isi senyaman mungkin. Di situ, saya “bertapa” selama tiga bulan! Dari hasil bertapa itu, saya menulis buku-buku, yang semuanya saya terbitkan melalui Penerbitan Tinjau. Unit penerbitan yang saya dirikan dalam bentuk badan hukum di bawah Tinjau. Hasil bertapa itu melahirkan Penerbitan Tinjau!

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sambil mengurus Tinjau, sejak 2022, setelah lulus Program Magister, saya mulai mengajar di universitas, menjadi konsultan humas di beberapa perusahaan, lalu membantu mendirikan beberapa media di Jakarta. Tahun 2023, ada sebuah situasi yang sangat toxic. Saya memutuskan tidak berhubungan dengan beberapa teman yang saya kenal di kelas Program Magister. Ini adalah lingkaran intelektual yang sejak lama saya pikir akan menjadi pertemanan wajar yang tidak toxic. Saya salah dalam hal itu. Tak lama setelahnya, saya berjumpa dengan sebuah postingan TikTok mengenai bekerja di Polandia. Berbiaya. Tidak murah. Saya mendaftar. Dalam tiga bulan pertama, pada awal tahun 2024, saya mendapatkan dokumen Work Permit. Pada waktu itu, saya melakukan pendaftaran visa kerja. Prosesnya lama. Pengurusan visa kerja Polandia menganut sistem drawing. Artinya, saya harus menunggu, paling cepat enam bulan, paling lama bisa dua tahun.

Saya tidak mau gila menunggu visa. Biarkan mengalir. Pada proses itu, waktu saya isi dengan tetap mengajar, menjadi konsultan komunikasi, dan mengurus Tinjau. Mei 2024 saya pindah ke Pontianak. Sudah sejak Februari 2024 saya mengajar jarak jauh untuk sebuah universitas di Kalimantan Barat. Visa Polandia tidak ada kabarnya. Hidup di Pontianak diisi dengan banyak pekerjaan: mendirikan dan membina sebuah unit humaniora di universitas tempat saya mengajar, menemukan beberapa pertemanan, tetapi mencoba menjaga jarak agar tidak jatuh pada relasi toxic yang pernah dialami di masa lalu. Usaha itu berjalan, meskipun akhirnya tetap dijumpai meski sedikit.

Sejak 2020, bersamaan dengan kuliah Program Magister, saya memutuskan mendaftar kuliah daring di bidang hukum. Desember 2025, setelah melalui berbagai kesulitan, sempat ingin berhenti, akhirnya saya diwisuda. Resmi menjadi Sarjana Filsafat, Sarjana Hukum, dan Magister Filsafat. Mengajar, mengurus Tinjau, mengurus unit humaniora universitas, mendapat gelar baru sebagai sarjana hukum, mengikuti kursus profesi advokat, semuanya lalu tidak berarti apa-apa; Januari 2026, dua pekan setelah wisuda Sarjana Hukum, akun surel saya mendapat kiriman pemberitahuan appointment visa kerja Polandia!

Saya bertolak dari Pontianak ke Jakarta untuk membawa berkas ke Kedutaan Besar Polandia di Kuningan, Jakarta Selatan. Hanya lima menit! Ada apa? Kenapa cepat sekali?

Sore harinya saya pulang ke Pontianak. Saya harus bekerja. Sehari setelahnya saya mendapat informasi bahwa paspor saya sudah di pos keamanan Kedutaan. Itu berarti keputusan visa sudah keluar. Cepat sekali! Ditolakkah?

Hanya berselang satu hari di Pontianak, saya kembali terbang ke Jakarta. Langsung ke Kedutaan. Dan, visa kerja saya disetujui! Di dalam paspor, pada sebuah halaman, terpampang dokumen visa!

Saya pulang ke apartemen Meikarta. Mengemasi barang-barang untuk ke Polandia! Langsung mengemas! Lalu kembali ke Pontianak.

Jalan saya menuju Eropa, keluar dari Indonesia, bukan jalan yang dirintis sehari dua hari. Di Pontianak, saya pernah sekali berpikir, karier mengajar ini baik sekali, tampaknya kehidupan Eropa tidak akan pernah saya capai.

Di Pontianak, ada sebuah kondisi yang tidak bisa dikatakan. Jika bisa mengatakannya singkat: tidak pas dan cenderung toxic pula!

Inilah yang mempercepat keberangkatan saya ke Polandia.

Turkish Airlines mendarat mulus di Istanbul, Turki, pada Rabu, 18 Februari 2026, pukul 06.04 waktu Turki. Saya transit selama dua jam untuk naik pesawat maskapai yang sama menuju Roma. Ya, Roma! Kenapa Roma? Bukan hanya karena tiket pesawatnya yang sedang promo. Haha. Tapi saya ingin menulis tulisan pertama saya mengenai migrasi ke Eropa ini dengan embel-embel: banyak jalan menuju Roma!

Ya, terlalu banyak jalan yang sudah saya lalui! Yang terakhir, mengetahui politik pemerintahan bangsa saya yang semakin tidak berpihak pada kehidupan rakyat seperti saya.

Setelah mandi di kamar mandi Bandara Istanbul, makan satu porsi burger dan kentang, serta minum satu cangkir teh hitam, saya menuju ke ruang tunggu penerbangan ke Roma. Pukul 08.34 waktu Turki, saya naik pesawat Turkish Airlines, melintasi langit Eropa yang menyajikan panorama deretan pegunungan di bawah yang masih ditutupi salju sisa-sisa musim dingin.

Pukul 09.35 waktu Italia, pesawat yang saya tumpangi mulai terbang rendah ke daratan yang sangat rapi hutannya. Saya tiba di Fiumicino Airport, Roma.

Banyak jalan menuju Roma. Dan saya tiba di Roma.

Ikuti perjalanan yang ditulis ini di Instagram dan TikTok.


Penulis: Michael Carlos Kodoati, Founder Tinjau.id.

Louder With Carlos adalah rubrik khusus TINJAU.ID yang ditulis oleh Pendiri Tinjau, Michael Carlos Kodoati atau Carlos. Carlos mendirikan Tinjau pada November 2022. Kini Carlos menetap di Polandia dan tetap menulis catatan-catatannya dan banyak hal tentang perjalanannya untuk Tinjau.

Back to top button