TinjauAds
Mas GunturTinjau

Di Balik Pintu Istana

Dibaca dalam waktu4 Menit, 31 Detik

TINJAU – Pagi itu, langit kota mulai memerah. Bukan pertanda hujan, melainkan panas yang semakin menyengat. Di dalam gedung parlemen, perbincangan mulai menggeliat sejak dini hari, seakan tak sabar menanti hari pelantikan Presiden terpilih, Rendra Wiratama. Suara bisik-bisik terdengar di sepanjang koridor, seperti aliran sungai yang tersembunyi di balik semak-semak.

Rendra sedang duduk sendirian di ruang tamunya, di depan secangkir kopi yang sudah mulai mendingin. Pikirannya berlarian tak tentu arah. Ia memikirkan rakyat yang memilihnya, juga janji-janji yang terucap selama kampanye. Namun, di sela itu, ada hal lain yang jauh lebih mengganggu: keluarganya sendiri.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Darmawan, adik Rendra, melangkah masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Ia mengenakan setelan yang begitu rapi, seolah-olah dirinya yang akan dilantik, bukan kakaknya.

“Bang, kita harus bicara,” Darmawan memulai tanpa basa-basi.

Rendra menatap adiknya dengan mata letih. “Apa lagi sekarang, Dar?”

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Kita sudah bicarakan soal ini. Aku ingin posisi di Kementerian Pekerjaan Umum. Aku dan timku siap menangani proyek-proyek besar,” kata Darmawan, nadanya penuh kepastian.

Rendra mendesah panjang. “Aku sudah bilang, aku tak mau keluarga terlibat terlalu dalam.”

Darmawan tersenyum tipis, sinis. “Kau pikir negara ini berjalan tanpa sedikit ‘bantuan’ dari dalam? Semua presiden sebelum kamu juga melibatkan keluarganya. Kau bukan pengecualian.”

“Aku berbeda,” potong Rendra cepat. “Aku menang karena janji bahwa aku akan memutus lingkaran itu. Lingkaran korupsi, nepotisme. Jika aku mulai dengan memberikan jabatan ke keluargaku sendiri, bagaimana bisa aku dipercaya?”

Darmawan menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengamati kakaknya sejenak sebelum melanjutkan. “Bang, ini bukan soal kepercayaan atau integritas yang kamu elu-elukan. Ini soal bertahan di puncak kekuasaan. Kau bisa jadi presiden karena aku dan orang-orang yang aku kerahkan. Semua ini ada harganya, dan aku hanya meminta jatahku.”

Rendra diam. Kata-kata Darmawan benar-benar menusuknya. Ia tak bisa memungkiri, selama kampanye, Darmawan memainkan peran besar, dari mengumpulkan dukungan hingga bernegosiasi di balik layar. Namun, di sisi lain, Rendra tak ingin mengawali pemerintahannya dengan langkah yang keliru.

“Dar, aku tak bisa memberimu posisi menteri,” kata Rendra tegas. “Tapi kita bisa bicarakan opsi lain. Kau bisa tetap terlibat dalam proyek-proyek itu, tapi tanpa jabatan formal. Aku ingin rakyat melihat bahwa pemerintahanku benar-benar bekerja untuk mereka, bukan untuk keluarga kita.”

Darmawan tertawa kecil. “Tanpa jabatan formal? Kau pikir aku mau hanya jadi bayang-bayang? Tidak, Bang. Aku mau kuasa. Kalau bukan aku, orang lain akan dapat. Jangan lupa, orang-orang yang mendukungmu juga menginginkan hal yang sama. Kalau kau mulai menolak mereka, kau hanya akan mengundang bencana.”

Rendra menatap keluar jendela. Di luar, orang-orang bersiap untuk perayaan besar di alun-alun, menanti hari pelantikannya. Tapi di dalam hatinya, pergolakan itu terasa lebih nyata daripada pesta yang akan digelar.

“Aku tidak akan menyerah pada permainan ini, Dar. Aku akan memimpin dengan caraku sendiri,” kata Rendra akhirnya. “Jika kau tak bisa menerimanya, kau bebas untuk pergi.”

Keheningan menyergap. Darmawan menatap kakaknya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. “Kau memang keras kepala, Bang. Tapi kita lihat saja nanti, apa kau bisa bertahan di puncak tanpa bantuan siapa pun.”

Darmawan bangkit dari kursi, menyelipkan tangan ke saku jasnya. “Kalau kau berubah pikiran, kau tahu di mana menemukanku.”

Rendra hanya mengangguk lemah, matanya kembali menatap ke luar jendela. Darmawan pun berlalu, meninggalkan keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya.

Di Balik Pintu Istana

Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Persiapan pelantikan berjalan semakin intens, dan suasana di dalam istana penuh ketegangan. Di balik pintu-pintu rapat yang tertutup rapat, banyak keputusan penting yang sedang dinegosiasikan. Seperti biasa, Rendra harus menghadiri salah satu pertemuan bersama para petinggi partai yang mendukungnya.

Di dalam ruangan itu, Guntur Wibowo, ketua partai koalisi terbesar, duduk di ujung meja panjang. Wajahnya yang selalu tersenyum kini tampak serius.

“Presiden Rendra,” Guntur memulai dengan nada berat, “kami mendukungmu selama kampanye bukan tanpa alasan. Ada janji-janji yang harus ditepati. Sebagian orang-orang kami sudah mengincar beberapa posisi strategis. Kalau janji ini tidak dipenuhi, aku tidak bisa jamin kelangsungan koalisi ini.”

Rendra merasa perutnya mual mendengar kalimat itu. “Aku tahu kita punya kesepakatan, Pak Guntur. Tapi aku juga harus memastikan bahwa pemerintahan ini bekerja untuk rakyat, bukan untuk orang-orang yang menginginkan kuasa semata.”

Guntur menatap Rendra dalam-dalam, lalu meletakkan tangan di meja, mengetukkan jarinya perlahan. “Rakyat? Kau masih percaya bahwa rakyat peduli pada siapa yang duduk di kementerian? Yang mereka pedulikan adalah hasil. Selama pembangunan berjalan, ekonomi membaik, mereka tidak akan peduli siapa di baliknya. Kami hanya meminta jatah yang memang sudah seharusnya jadi milik kami.”

Rendra menggeleng. “Aku tidak bisa menyerah begitu saja pada permainan ini.”

Guntur tersenyum dingin. “Kalau begitu, kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan. Di dunia politik, presiden yang terlalu idealis biasanya tidak lama hidupnya.”

Rendra terdiam. Suara Guntur terdengar seperti ancaman yang tidak tersamar. Tapi Rendra juga tahu, ia telah memilih jalan ini. Sebuah jalan yang mungkin akan menjebaknya di antara loyalitas kepada rakyat dan tuntutan kekuasaan.

Sebelum pertemuan itu berakhir, Guntur meninggalkan satu kalimat terakhir, penuh makna dan peringatan.

“Kekuasaan itu seperti api, Rendra. Kau bisa menggunakannya untuk menerangi, atau kau akan terbakar olehnya. Hati-hati memilih.”

Rendra duduk diam di kursinya, tenggelam dalam pemikiran yang lebih berat dari sebelumnya. Di luar, gemuruh suara rakyat semakin keras. Pelantikan tinggal menghitung hari, dan ia tahu, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai.


Penulis: Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button