Rupiah Lesu, Terlemah sejak November Tahun lalu

TINJAU.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah hari ini, tertutup di kisaran Rp 15.800/US$. Rupiah pada hari Rabu (27/3/2024) berada pada level Rp 15.858 per dolar AS saat penutupan perdagangan pasar spot. Ini merupakan pelemahan sebesar 0,41% dibandingkan dengan hari sebelumnya, menjadi yang terlemah sejak November tahun lalu atau 4 bulan terakhir.
Dalam sepekan terakhir, rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,89% secara point-to-point, sedangkan dalam satu bulan terakhir, depresiasi mencapai 1,08%.
Selain rupiah, mata uang utama Asia juga mengalami pelemahan. Yuan China, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura turun masing-masing sebesar 0,06%, 0,55%, 0,4%, 0,33%, dan 0,14%.
Dolar AS terus menunjukkan kekuatan yang signifikan. Pada pukul 16:39 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback terhadap 6 mata uang utama dunia) menguat 0,1%.
Dalam sepekan terakhir, indeks ini naik 0,55% secara point-to-point.
Di sisi lain, ekonomi AS terus menunjukkan performa yang solid. Malam sebelumnya, ada 2 data ekonomi penting yang dirilis dari AS. Pertama, indeks harga rumah yang dikeluarkan oleh S&P CoreLogic Case-Shiller pada Januari melonjak 6,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak November 2022. Kedua, pemesanan barang tahan lama (durable goods). Menurut laporan dari US Census Bureau, pemesanan pada bulan Februari naik 1,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pemulihan yang signifikan setelah penurunan sebesar 6,9% pada bulan sebelumnya.
Kedua data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS masih dalam kondisi yang kuat. Permintaan yang stabil menimbulkan tekanan inflasi yang masih relevan.
Dengan kondisi ekonomi yang kuat, Federal Reserve (bank sentral AS) mungkin akan kesulitan menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Bahkan, Gubernur The Fed Atlanta, Raphael Bostic, menyatakan bahwa bank sentral hanya mungkin menurunkan suku bunga acuan sekali pada tahun ini.
“Saya tidak lebih yakin dibandingkan Desember bahwa inflasi akan terus turun menuju target 2%. Tekanan harga bisa membuat penurunan suku bunga acuan mundur dari perkiraan sebelumnya. Saya tidak terburu-buru. Jika perkembangan berjalan sesuai harapan, maka saya sudah puas,” papar Bostic.
Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga Federal Reserve membuat dolar AS tetap berada di posisi yang kuat. Hasilnya, mata uang ini terus menunjukkan keunggulan di Asia, termasuk dalam pertukaran dengan rupiah.








