Setelah G20 Bali, Rakyat Indonesia Dapat Apa?
G20 Summit di Bali sudah berlalu. Tema Recover Together, Recover Stronger yang diusung gelaran itu telah membuahkan Deklarasi Pemimpin G20 Bali. Bagaimana dampaknya terhadap rakyat Indonesia?
Bali, tinjau.id – G20 Summit di Bali sudah berlalu. Tema Recover Together, Recover Stronger yang diusung gelaran itu telah membuahkan Deklarasi Pemimpin G20 Bali. Di media sosial beredar luas kemegahan dan gengsi mahal gelaran yang mengumpulkan pimpinan negara-negara hebat kekuatan ekonominya di dunia, tetapi lalu muncul pertanyaan: bagaimana dampaknya terhadap rakyat Indonesia?
Tema Recover Together, Recover Stronger bahkan menjadi semboyan yang hidup lekat diberbagai komunitas Indonesia, bukan saja karena selama setahun belakangan semua umbul-umbul maupun spanduk memasang itu, tetapi juga karena memang di waktu ini, tema tersebut rasanya begitu tepat mengingat dunia baru saja mengalami kemerosotan ekonomi yang sangat tajam pada 2020 lalu akibat pandemi Covid-19 yang sampai saat ini pun masih menghantui negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.
Dengan tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama, serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Dalam catatan tinjau.id setidaknya ada 438 rangkaian kegiatan Presidensi G20 Indonesia yang diselenggarakan di 25 kota di seluruh Indonesia.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Di tengah bergengsinya acara G20 yang terlaksana di Bali pemerintah memang mendapatkan gengsi yang luar biasa. Terpilihnya Indonesia sebagai Presidensi G20 merupakan kepercayaan sekaligus tanggung jawab yang besar bagi bangsa Indonesia.
Hari ini, semestinya setelah acara ini ditutup, sudah mulai harus ada evaluasi. Apakah G20 Summit dengan biaya mahal itu telah mendukung strategi prioritas nasional?
Pasca pandemi, Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas. Dunia butuh membangun ekonomi dunia yang tangguh dan stabil. Masyarakat perlu didorong pada pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kemitraan antar pemangku kepentingan dan memperkuat kepemimpinan kolektif global. Sudahkah itu semua?
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati pernah menyinggung adanya tujuh agenda soal percepatan pemulihan keuangan global.
Pertama, terkait bagaimana negara-negara G20 berkoordinasi untuk memulihkan ekonomi global. Agenda kedua, terkait bagaimana semua negara melihat dampak Covid-19 serta mengenai productivity dan pemulihan ekonomi. Agenda ketiga, berhubungan dengan Central Bank Digital Currency. Keempat, mengenai sustainable finance, antara lain terkait green finance facility, termasuk bagaimana stimulus atau dukungan di bidang fiskal untuk menciptakan transformasi ekonomi menuju ekonomi yang hijau dan berkelanjutan. Kelima, terkait cross border payment. Keenam, financial inclusion, antara lain pengembangan kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta transformasi digital untuk usaha kecil dan menengah. Agenda ketujuh, terkait kemajuan dan pelaksanaan dari persetujuan dan perkembangan international taxation, antara lain membahas insentif pajak, tax and digitalization, praktik-praktik penghindaran pajak, tax transparency, tax and development, serta tax certainty.
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menyebut perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 diperkirakan meningkatkan konsumsi domestik hingga Rp 1,7 triliun. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers jelang KTT G20, Sabtu (12/11/2022).
Dengan konsumsi ini, Luhut menuturkan KTT G20 ini bahkan bisa menciptakan 33.000 lapangan kerja.
“KTT G20 ini memberikan manfaat positif terutama pada transportasi, UMKM dan exhibition,” kata Luhut.
Lalu kapankah rakyat ketularan berkah dari pelaksanaan G20 ini?
Kita tunggu saja. Semoga.








