Pelantikan di Gedung Para Wakil

TINJAU – Di suatu negeri antah berantah, pelantikan anggota parlemen berlangsung dengan megah di gedung putih yang besar. Rakyat berkumpul di lapangan, menyaksikan upacara penuh janji. Para wakil rakyat baru ini, mengenakan jas terbaik mereka, berdiri berbaris di depan mimbar, di mana Ketua Parlemen Tua, Pak Soliman, memimpin upacara.
Pak Soliman, pria dengan rambut putih tersisir rapi, memegang tongkat kehormatan dan menatap para wakil muda dengan tatapan tajam. Di belakangnya, spanduk besar terpampang: “Untuk Rakyat, Bukan Kantong Sendiri!”
Ketua Soliman melangkah maju, suaranya menggema di seluruh ruangan. “Saudara-saudara sekalian, hari ini kalian dilantik sebagai wakil rakyat. Ingatlah, kalian berdiri di sini bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk bekerja demi kepentingan rakyat!”
Para wakil tersenyum kecil, beberapa tampak ragu. Salah satunya adalah Pak Bambang, seorang wakil yang terpilih karena slogan kampanyenya yang bombastis: “Bambang Bersama Rakyat, Bukan Kantor Pajak!” Namun, di benaknya, Pak Bambang sudah mulai menghitung berapa banyak yang bisa ia dapat dari kursinya.
Tiba-tiba, Ketua Soliman mengarahkan tongkatnya pada Pak Bambang.
“Pak Bambang! Apa yang akan Anda lakukan begitu kursi empuk itu menyambut pantat Anda?” tanya Soliman dengan suara lantang.
Pak Bambang terkejut. “Eh, tentu, bekerja keras untuk rakyat, Pak Ketua!” jawabnya dengan setengah tergagap.
“Benarkah?” Soliman menyipitkan matanya. “Karena menurut catatan saya, kursi empuk itu sering membuat wakil-wakil sebelumnya lupa pada rakyat. Anda tidak akan berubah menjadi salah satu dari mereka, kan?”
Pak Bambang menelan ludah. Ia tahu, dia tidak bisa berbohong di depan pria tua yang sudah berpengalaman berpolitik ini.
“Eh, ya, tentu saja tidak, Pak Ketua. Saya… Saya berjanji!”
Di sebelahnya, Bu Yuni, wakil yang terpilih dari daerah terpencil, tertawa kecil.
“Janji lagi, janji terus. Lihatlah, kalian seperti anak kecil yang bilang tidak akan curi permen lagi,” katanya sinis.
Pak Bambang tersenyum malu, sementara yang lain mulai gelisah. Suasana menjadi tegang ketika Ketua Soliman memukul-mukul tongkatnya ke lantai.
“Baiklah, cukup bercanda!” kata Soliman sambil menghela napas panjang. “Kalian semua tahu apa yang terjadi pada wakil-wakil sebelumnya yang lupa pada rakyat, bukan?”
Semua anggota terdiam. Mereka tahu cerita-cerita mengerikan tentang mantan anggota yang terlibat korupsi dan akhirnya jatuh dari kursi kehormatan mereka, beberapa bahkan masuk penjara.
“Bu Yuni, Anda terkenal sebagai wakil yang dekat dengan rakyat. Apa yang akan Anda lakukan untuk memastikan janji-janji Anda terpenuhi?” tanya Soliman, kali ini dengan lebih lembut.
Bu Yuni, seorang ibu yang sudah matang dengan pengalaman sebagai aktivis, menatap Ketua Soliman dengan tegas. “Saya akan terus tinggal di desa saya, Pak Ketua. Setiap bulan saya akan kembali ke kampung halaman saya dan berdiskusi dengan warga tentang apa yang perlu dilakukan. Tidak ada kursi empuk yang akan membuat saya lupa tanah yang saya injak.”
Pak Soliman mengangguk dengan puas. “Nah, itulah yang seharusnya dilakukan oleh wakil rakyat. Hidup bersama rakyat, bukan di atas mereka!”
Pak Bambang, yang mulai merasa tertampar oleh pernyataan Bu Yuni, bergumam pada dirinya sendiri. “Hmm, mungkin aku harus belajar dari Bu Yuni… setidaknya untuk beberapa bulan pertama.”
Di akhir pelantikan, Soliman mengajak semua anggota yang baru dilantik untuk bersumpah. Suara mereka terdengar lantang:
“Kami berjanji, demi kehormatan dan keadilan, kami akan melayani rakyat dengan sepenuh hati. Kami tidak akan mengambil hak rakyat untuk keuntungan pribadi. Kami adalah pelayan rakyat, bukan penguasa mereka!”
Setelah pelantikan selesai, rakyat yang menonton di luar gedung bersorak sorai. Namun di dalam gedung, beberapa wakil masih tampak ragu dengan janji mereka sendiri. Ketua Soliman hanya tersenyum tipis, ia tahu, tugas berat baru saja dimulai.
“Yah, kita lihat saja seberapa lama mereka bisa menepati janji itu,” gumam Soliman sambil meninggalkan gedung.
Sementara itu, di luar gedung, Bu Yuni menepuk bahu Pak Bambang.
“Pak, kalau Anda ingin benar-benar bekerja untuk rakyat, ikut saya minggu depan ke desa. Biar tahu rasanya duduk di kursi bambu, bukan di kursi empuk!”
Pak Bambang tertawa kecut, tapi entah kenapa ajakan itu membuatnya berpikir. Mungkin, kursi empuk di gedung parlemen tidak senyaman yang ia bayangkan.
Penulis: Guntur
Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









