TinjauAds
HeadlineMas GunturTinjau

Pidato yang Tak Pernah Usai

Dibaca dalam waktu5 Menit, 37 Detik

TINJAU – Di sebuah negara yang baru saja mengalami pergantian presiden, rakyat sedang menunggu-nunggu kapan perubahan akan tiba. Presiden baru, Harjo Bakti, adalah tokoh yang penuh karisma, terkenal dengan pidato-pidato menggelegar yang menggugah rakyat. Wajahnya selalu tersenyum lebar di setiap baliho yang dipasang sepanjang jalan. Tapi, seiring berjalannya waktu, kehadiran presiden baru itu mulai memunculkan banyak tanda tanya di kalangan rakyat.

Pada hari kedua puluh pemerintahannya, Presiden Harjo kembali membuat acara selebrasi di istana. Karpet merah digelar, lampu-lampu kristal dinyalakan, dan tamu-tamu penting berjejer menunggu salam hangat dari sang presiden. Di dalam ruangan istana, para pejabat tampak sibuk berbincang sambil menikmati makanan lezat yang disediakan.

Di sebuah sudut ruangan, seorang menteri bernama Farid yang masih baru diangkat mendesah pelan sambil memandang hamparan makanan di atas meja.

“Pak, apakah ini yang akan terus kita lakukan?” tanya Farid sambil memandang sang presiden yang duduk di dekatnya.

Presiden Harjo tertawa ringan sambil menepuk pundak Farid. “Ah, Farid, ini baru awal, pemanasan saja. Kalau bukan kita yang menjaga citra pemerintahan ini, siapa lagi?”

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Farid mengangguk ragu. Ia tahu betul bahwa di luar sana, banyak warga yang sedang berjuang hanya untuk bisa makan sehari sekali.

Di samping mereka, menteri lain bernama Lestari, seorang mantan aktivis, menyela, “Pak Harjo, bagaimana dengan rencana pembangunan di desa-desa? Bukankah itu janji kita selama kampanye?”

Harjo tersenyum dan mengangkat gelasnya. “Sabar, sabar. Kita tidak bisa melakukan semuanya sekaligus, kan? Setiap langkah harus direncanakan dengan matang. Lagipula, membangun jaringan diplomasi itu juga penting. Bulan depan, saya akan mengunjungi beberapa negara untuk memperkuat hubungan internasional.”

Lestari tampak semakin resah. “Tapi, Pak, rakyat sudah menunggu perubahan sejak lama.”

Harjo menatap Lestari sejenak, lalu tersenyum santai. “Lestari, ada alasan mengapa orang sepertimu perlu duduk di sini, agar kau tahu bahwa memerintah itu tidak segampang berorasi di jalanan.”

Keesokan harinya, kabar tentang acara selebrasi itu menyebar ke berbagai penjuru negeri. Rakyat yang sebelumnya terpesona dengan pidato-pidato Harjo mulai bergumam, merasa ada yang ganjil dengan gaya kepemimpinan barunya. Salah satunya adalah Pak Amir, seorang petani dari desa Seruni yang mendengarkan berita itu melalui radio tua di warung kopi.

“Setiap hari pidato, pidato terus. Kapan kerjanya, ya?” Pak Amir menggeleng pelan sambil menyeruput kopinya. Di sampingnya, Bu Siti, seorang ibu rumah tangga, menimpali dengan tawa lirih.

“Iya, Pak. Kemarin saya lihat di televisi, presidennya jalan-jalan ke luar negeri. Katanya sih buat diplomasi. Padahal kita di sini tiap hari cuma makan nasi jagung,” ujar Bu Siti sambil terkekeh, setengah geli setengah prihatin.

Di sisi lain, Farid masih terus resah. Di sebuah pertemuan terbatas dengan Harjo, Farid memberanikan diri berbicara lebih serius.

“Pak Presiden, saya tahu Anda ingin menunjukkan citra negara kita di mata dunia. Tapi, bukankah rakyat kita juga butuh perhatian?”

Harjo tersenyum tipis, kemudian menatapnya dengan mata yang tajam. “Farid, kau masih baru. Politik itu seni, bukan sekadar aksi. Diplomasi internasional adalah investasi jangka panjang. Dan rakyat kita, mereka harus belajar bersabar. Negara besar ini tidak bisa dibangun dalam sehari.”

Farid tak bisa membalas. Ia hanya menunduk, merasa campuran kesal dan bingung.

***

Waktu terus berlalu, dan kegiatan selebrasi, makan malam bersama pejabat, serta kunjungan ke luar negeri semakin sering terjadi. Harjo bahkan meresmikan proyek besar berupa “Pelatihan Kepemimpinan untuk Para Menteri,” sebuah pelatihan yang dilangsungkan selama seminggu di resor mewah di pinggir pantai.

Lestari yang ikut dalam pelatihan tersebut merasa semakin muak. Pada malam terakhir pelatihan, ia menemui Farid di balkon resor itu. Di bawah langit malam yang berhiaskan bintang, ia mengeluarkan unek-uneknya.

“Farid, kita ini seperti boneka,” katanya sambil menghela napas. “Kita bilang peduli rakyat, tapi kenyataannya malah menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tak ada hubungannya dengan mereka.”

Farid mengangguk. “Aku tahu, Lestari. Aku juga merasa tidak nyaman. Tapi, bagaimana? Setiap kali kita mencoba bicara, Harjo hanya bilang bahwa ini semua bagian dari strategi besar.”

Mereka terdiam. Suara ombak terdengar lembut di kejauhan, mengiringi keheningan di antara mereka.

***

Di hari ke-100 pemerintahannya, Harjo akhirnya mengadakan konferensi pers besar-besaran untuk melaporkan capaian pemerintahannya. Di podium, ia kembali dengan pidato penuh semangat, berbicara tentang pentingnya kerja sama internasional, pencitraan, dan visi besar membangun bangsa.

Namun, di tengah pidatonya, dari kerumunan pers, seorang wartawan muda bernama Aris mengangkat tangannya.

“Maaf, Pak Presiden,” kata Aris dengan nada sopan namun tegas. “Apakah kita sudah melihat hasil nyata dari semua perjalanan ini? Karena, di luar sana, masih banyak rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.”

Harjo terdiam sejenak, kemudian tersenyum kecil. “Saudara Aris, pembangunan itu memerlukan proses. Kita perlu membangun pondasi yang kuat, termasuk melalui hubungan diplomasi. Seiring waktu, hasilnya akan terlihat.”

Namun, Aris tak menyerah. “Tapi, Pak, bukankah Anda dulu berjanji untuk langsung fokus pada kesejahteraan rakyat? Apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi janji itu?”

Di antara pejabat-pejabat yang duduk di kursi belakang, Lestari tampak tersenyum tipis. Pertanyaan Aris adalah pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan sendiri kepada Harjo.

Merasa sedikit terpojok, Harjo tetap mempertahankan senyumannya. “Saudara Aris, saya sangat menghargai pertanyaan Anda. Rakyat adalah prioritas kami, dan semua yang kami lakukan ini, pada akhirnya, adalah demi mereka.”

Aris hanya mengangguk, sementara para wartawan lainnya tampak membisu. Pidato berapi-api Harjo pun kembali berlanjut, namun suara tepuk tangan yang biasa meriah kini terdengar datar dan tak semangat.

***

Setelah acara itu selesai, Harjo duduk sendirian di ruang pribadinya. Ia tampak termenung, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Di sudut ruang, Farid memasuki ruangan dengan wajah ragu.

“Pak, bolehkah saya bicara jujur?” tanyanya.

Harjo hanya menatapnya dengan datar, lalu mengangguk. “Silakan, Farid.”

“Saya paham Anda punya visi besar, tapi bukankah kita juga perlu mendengar langsung suara rakyat? Mereka bukan sekadar angka dalam laporan. Mereka butuh tindakan nyata, bukan hanya janji.”

Harjo tertawa kecil, namun matanya tak menyiratkan kebahagiaan. “Farid, kau mungkin benar. Mungkin aku terlalu sibuk dengan citra dan ambisi pribadi.”

Farid menatapnya serius. “Pak, mungkin sudah saatnya kita turun ke bawah. Melihat dan merasakan langsung kesulitan mereka. Pidato itu bagus, tapi tindakan nyata lebih penting.”

Harjo terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa tak bisa membantah.

***

Di suatu pagi yang tenang, Harjo, Farid, dan Lestari akhirnya memutuskan turun ke desa-desa, tanpa acara formal, tanpa karpet merah. Saat melihat langsung kesulitan rakyat, mata Harjo terbuka. Wajah-wajah kurus dan tangan-tangan kasar mereka adalah kenyataan yang selama ini terabaikan di balik kilau diplomasi dan selebrasi.

“Selama ini aku terlalu jauh dari mereka,” gumam Harjo pada diri sendiri, merasa getir.

“Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya, Pak,” ujar Lestari, lembut namun penuh arti.

Harjo mengangguk, seolah baru sadar bahwa kekuasaan yang sebenarnya bukan terletak pada pidato-pidato atau acara besar, tetapi pada keberanian untuk bekerja demi rakyat yang sesungguhnya.


Penulis: Mas Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button