Gelar di Ujung Lidah

TINJAU – Di negara yang jauh dari hingar-bingar peradaban dunia, sebutlah namanya Muntala, seorang politikus muda bernama Rangga Wibowo tengah meniti karier dengan kecepatan yang memecah rekor. Wajahnya keras, posturnya tegap, dan suaranya membahana. Rangga adalah figur “preman” dalam politik Muntala. Bukan preman dalam arti kekerasan, tapi ia membawa gaya urakan dan lugas khas jalanan ke panggung politik—sikap yang membuatnya disukai kalangan tertentu dan dicibir kalangan lainnya.
Keberuntungan Rangga memang luar biasa. Hanya dalam lima tahun, ia naik dari posisi staf di partai menjadi ketua partai di provinsi, lalu menjabat sebagai menteri muda. Ambisinya seakan tak mengenal batas. Namun, semakin tinggi posisinya, semakin besar pula sorotan publik terhadapnya. Rangga, yang tak pernah menyentuh bangku perguruan tinggi di masa mudanya, merasa perlu “melengkapi” prestasinya dengan gelar akademis yang tinggi.
“Pak Rangga, gelar doktor itu perlu. Nanti biar lengkap,” ujar salah satu penasehat politiknya dengan nada sungguh-sungguh.
Rangga mengangguk. “Betul juga. Biar orang-orang tahu kita bukan cuma bisa ngomong di depan mikrofon, tapi juga punya ilmu.”
Akhirnya, Rangga memutuskan untuk menempuh program doktoral di Universitas Hawa Kencana, universitas paling bergengsi di Muntala. Ia tidak akan mengambil jurusan apa saja, melainkan kebijakan publik—bidang yang akan semakin melambungkan namanya. Namun, Rangga, yang memiliki sedikit waktu luang dan bakat akademis seadanya, sadar ini akan menjadi perjalanan berat.
Dan di sinilah masuk peran si “joki”. Rangga merekrut seorang penulis bayangan, sebut saja bernama Bima, seorang akademisi yang mencari tambahan penghasilan.
“Bima, pokoknya bikin disertasinya yang bagus,” perintah Rangga dalam salah satu pertemuan mereka di sebuah kafe.
“Topiknya apa, Pak?” tanya Bima, mencoba memahami keinginan kliennya.
“Ya, terserah kamu lah. Yang penting ada kata ‘pembangunan’, ‘keberlanjutan’, pokoknya tema besar yang kedengerannya keren. Itu kan yang penting, biar semua mikir saya mikirin rakyat.”
Bima tersenyum kecut. Rangga memang terkenal dengan kepiawaiannya memoles kata-kata, tetapi isi dari kata-kata itu seringkali tidak jelas arahnya.
Bima kemudian menyusun disertasi dengan judul megah, “Model Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan dalam Dinamika Ekonomi Kontemporer Muntala.” Disertasi itu tebalnya 500 halaman, penuh dengan teori-teori yang kompleks, data statistik, analisis kasus, dan berbagai rekomendasi kebijakan yang tampak mengesankan. Rangga tentu saja tidak membaca satu halaman pun.
Hari ujian terbuka akhirnya tiba. Aula besar universitas penuh sesak dengan undangan. Rangga hadir dengan senyum lebar dan jas mahalnya, seolah siap menaklukkan ujian ini dengan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan. Di depan para profesor, akademisi, dan pejabat pemerintahan, ia akan mempertanggungjawabkan “hasil kerja kerasnya.”
Di podium, Rangga membuka presentasi dengan gaya khasnya—nada suara penuh wibawa, sesekali melirik audiens untuk mencari tanda kekaguman. Namun, tatapan kagum mulai menghilang ketika sesi tanya jawab dimulai.
“Pak Rangga, boleh jelaskan sedikit mengenai konsep pembangunan berkelanjutan yang Anda usulkan?” tanya salah seorang penguji, Profesor Indra.
Rangga terdiam. Ia hanya ingat kata-kata itu tercantum di halaman pertama disertasinya, tetapi tidak tahu betul maksudnya. “Ehm… tentu, Prof. Konsep itu penting ya, karena… ya pembangunan itu harus berkelanjutan. Kalau enggak berkelanjutan, nanti pembangunan bisa berhenti, kan? Jadi, ya intinya harus berkelanjutan.”
Ruangan hening. Beberapa orang saling bertukar pandang, berusaha mencerna jawaban Rangga yang terdengar aneh. Professor Indra menaikkan alis, merasa perlu melanjutkan.
“Bisa Anda jelaskan pendekatan analitis yang Anda gunakan? Saya lihat di bab tiga, Anda membahas model ekonomi, tapi tidak ada sumber spesifik yang mendukung argumen tersebut.”
Rangga menghela napas, merasa seperti orang terpojok. “Begini, Prof. Saya kan bukan akademisi tulen. Saya politisi yang sehari-hari di lapangan. Saya percaya, ilmu itu enggak bisa dipisah dari praktik nyata. Jadi pendekatannya, ya praktis-praktis saja, Prof. Orang-orang kan mau lihat hasil.”
Salah satu penguji lainnya, Profesor Dewi, akhirnya angkat bicara dengan nada hati-hati. “Pak Rangga, sepertinya ada ketidaksesuaian antara bagian analisis data dan beberapa referensi utama dalam penelitian ini. Apakah Anda yang menyusun semua ini sendiri?”
Dengan ketenangan yang luar biasa, Rangga menjawab, “Tentu saya melibatkan tim, Prof. Ini kerja sama. Ya, mungkin ada bagian yang dikembangkan oleh para asisten, tapi semua ide besarnya dari saya.”
Namun, alih-alih berakhir di situ, diskusi semakin memanas. Para profesor semakin kritis, bahkan ada yang terang-terangan mempertanyakan validitas seluruh disertasi. Rangga mulai gelisah, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Di akhir sesi, ketika sudah jelas bahwa para penguji meragukan keaslian disertasi itu, Rangga merasa perlu membuat pernyataan yang menutup perdebatan.
“Dengar,” ujarnya lantang. “Buat apa kita membedakan antara kerja akademis dan kerja nyata? Saya tidak perlu duduk sepanjang hari membaca buku-buku tebal itu untuk paham masalah rakyat. Pendidikan dan pengalaman lapangan itu sejalan. Dan saya sudah membuktikan diri lewat tindakan, bukan hanya tulisan!”
Suasana aula langsung menjadi riuh. Pernyataan itu terdengar arogan dan menghina para akademisi yang hadir. Beberapa orang terkejut, yang lainnya bahkan menahan tawa, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Malamnya, berita kegagalan ujian terbuka Rangga menjadi sorotan utama. Media, para pengamat politik, hingga masyarakat di media sosial ramai-ramai mengomentari peristiwa itu. Komentar beragam, mulai dari kritik tajam hingga lelucon sarkastis.
“Kalau Pak Rangga punya buku pedoman soal keberlanjutan, isinya mungkin cuma ‘yang penting jalan terus’,” tulis salah satu akun satir politik di media sosial.
Seorang kolumnis menulis artikel panjang yang intinya mempertanyakan, “Apakah ini wajah baru politik di Muntala? Gelar hanya untuk gaya, tanpa substansi?”
Di tengah badai kritik, Rangga tidak tinggal diam. Dalam wawancara televisi, ia kembali membela diri dengan nada tegas.
“Orang-orang mungkin tidak suka dengan cara saya, tapi mereka harus akui saya membawa perubahan. Gelar itu hanya simbol. Apa pentingnya gelar tanpa pemahaman lapangan?”
Namun, kali ini, usaha Rangga untuk mempertahankan posisinya sia-sia. Partainya mulai mengambil jarak darinya, para pejabat yang pernah menjadi pendukungnya menghilang satu per satu. Ia ditinggalkan, terkucil dalam ambisinya yang belum selesai.
Bima, si penulis bayangan, tersenyum kecil mendengar nasib mantan kliennya. “Kadang-kadang, orang seperti Rangga memang harus tersandung untuk belajar bahwa pendidikan bukan sekadar simbol,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Rangga akhirnya sadar bahwa di dunia yang kompleks ini, karisma jalanan dan gaya preman saja tak cukup untuk menaklukkan dunia akademis yang penuh dengan integritas dan kejujuran. Dia kehilangan segalanya: kepercayaan publik, dukungan partai, dan tentunya, gelar doktor yang nyaris disandangnya.
Cerita ini pun tersebar ke seluruh penjuru Muntala, menjadi pelajaran tentang betapa tingginya harga sebuah integritas yang tak bisa dibeli dengan ambisi atau uang. Bagi Rangga, pengalaman itu menjadi bab yang tak akan pernah selesai, dan diingat sebagai tragedi politikus yang terjebak dalam ilusi gelar yang diidamkan.
Penulis: Mas Guntur
Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









