Minyak Busuk di Negeri Siaindone

TINJAU – Di Negeri Siaindone, rakyat tak henti-hentinya mengeluh. Kendaraan yang baru berusia setahun sudah mogok, mesin-mesin produksi cepat rusak, dan asap hitam pekat mengepul dari knalpot di setiap jalanan kota. Semua itu berawal dari keputusan licik di sebuah gedung tinggi dengan kaca mengkilap bernama PT Energi Rakyat.
Direktur utama PT Energi Rakyat, Ganda Sakti, adalah seorang pria dengan setelan jas mahal dan senyum licik yang menawan. Bersama para direksinya, ia menemukan cara ‘cerdas’ untuk mengurangi biaya produksi bahan bakar yang dijual kepada rakyat. Dengan dalih efisiensi dan kemandirian energi, mereka mencampurkan bahan bakar dengan aditif murah yang membuatnya lebih cepat terbakar—dan lebih cepat merusak mesin kendaraan.
Setiap bulannya, keuntungan PT Energi Rakyat melonjak tajam. Ganda dan koleganya berpesta di hotel-hotel bintang lima, membangun vila di pegunungan, serta membeli properti di luar negeri. Sementara itu, di sisi lain negeri, para sopir angkot harus merogoh kocek lebih dalam untuk memperbaiki kendaraan mereka yang kerap mogok. Petani yang menggunakan mesin pompa air mengeluh karena alat-alat mereka tak lagi bertahan lama.
Adalah Dimas, seorang jurnalis muda dari harian kecil bernama Suara Rakyat, yang pertama kali mencium bau busuk korupsi ini. Melalui informan dari dalam perusahaan, ia mendapatkan dokumen rahasia tentang manipulasi bahan bakar. Dimas berusaha menerbitkan laporan investigatifnya, tetapi tak ada media besar yang berani mengangkatnya. Para pemilik media sudah kenyang dengan suapan dari PT Energi Rakyat.
Tak menyerah, Dimas menyebarkan berita itu melalui media sosial. Publik mulai marah. Tagar #MinyakOplosan menjadi trending, dan ribuan orang turun ke jalan menuntut keadilan. Pemerintah terdesak. Menteri Energi, yang selama ini menutup mata karena jatah bulanan dari PT Energi Rakyat, akhirnya dipaksa mengadakan investigasi.
Namun, seperti yang sudah diduga, hasil investigasi itu hanya formalitas. Tidak ada satu pun petinggi PT Energi Rakyat yang ditangkap. Ganda Sakti dengan santai muncul di televisi, mengatakan bahwa semua tuduhan itu hanyalah propaganda untuk menjatuhkan perusahaan yang ‘berjasa’ bagi negara.
Rakyat marah, tapi mereka tahu betul, ini bukan pertama kalinya ketidakadilan menang. Mereka hanya bisa terus mengeluh di warung kopi, menyumpahi pemerintah yang korup, dan berharap ada keajaiban yang bisa meruntuhkan oligarki minyak di Negeri Siaindone.
Dimas tak berhenti. Ia tahu pertempuran ini masih panjang. Suatu hari, kebenaran akan menang—meski mungkin tidak hari ini.
Siaindone, negeri kaya minyak, kini berbau busuk. Bukan hanya karena asap kendaraan yang semakin pekat, tapi juga lantaran minyak yang dikonsumsi rakyatnya ternyata oplosan.
Boris Santaka, seorang sopir angkot yang sudah bertahun-tahun mengaspal di jalanan ibu kota, merasa ada yang aneh sejak tiga bulan terakhir. Mobilnya yang biasanya kuat menanjak, kini mendadak batuk-batuk. Di bengkel, mekanik menggeleng-geleng.
“Pak Boris, ini bukan soal mesin. Ini soal bensinnya. Oktannya nggak jelas, kayak dicampur solar murahan.”
Kabar itu semakin santer. Bus-bus mogok di tengah jalan. Motor-motor berasap tebal. Bahkan truk pengangkut logistik banyak yang tumbang sebelum sampai tujuan. Lalu muncul laporan dari wartawan investigasi yang berani: minyak negeri ini ternyata dioplos!
Lina Rajagukguk, jurnalis dari media kecil Tilik Bangsa, membongkar laporan bahwa PT Minyak Siaindone, perusahaan negara yang memonopoli distribusi BBM, telah mencampur bahan bakar rakyat dengan zat kimia murah yang seharusnya hanya digunakan untuk pelarut industri.
Para pejabat pun berebut menyangkal.
“Berita hoaks! Kami sudah menjalankan prosedur ketat!” seru Menteri Energi dengan suara bergetar.
Namun, rakyat sudah muak. Jalanan ibu kota penuh demonstran. Mereka membawa jeriken kosong sebagai simbol pengkhianatan.
Di balik skandal ini, Direktur Utama PT Minyak Siaindone, Patra Ginting, diam-diam telah menyelundupkan miliaran ke rekening offshore. Uangnya mengalir ke properti mewah di luar negeri, ke yacht, ke berlian yang tak pernah menyentuh tangan rakyat.
Ketika akhirnya ia ditangkap, banyak yang pesimis. “Paling dihukum ringan. Lalu bebas dan menikmati hasil jarahannya,” kata Boris.
Tapi Lina tak menyerah. Ia terus menulis, membongkar jaringan mafia minyak hingga ke akar.
Siaindone, negeri kaya minyak yang rakyatnya tetap susah. Negeri yang tak kekurangan sumber daya, hanya kelebihan tikus-tikus rakus yang menghisapnya hingga kering.
Penulis: Mas Guntur
Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









