TinjauAds
Mas GunturPilihan Redaksi

Di Antara Takhta dan Cermin Retak

Dibaca dalam waktu5 Menit, 30 Detik

TINJAU – Senja mulai turun di atas ibu kota. Di balik jendela istana, Presiden Gautama Ranuwijaya duduk termenung, tangannya menggenggam cangkir kopi yang isinya tinggal setengah. Angin sore yang dingin tak mampu menyentuh kulitnya, terhalang kaca tebal yang melindungi ruang kerjanya dari luar. Ia menatap ke langit yang perlahan memudar, namun di dalam pikirannya, segala rencana telah tersusun rapi. Kekuasaan yang ia genggam bertahun-tahun, terasa semakin erat di tangannya. Dan kali ini, ia tidak akan melepaskannya.

“Ayah…” suara lembut dari belakang mengagetkannya. Seorang pria muda, dengan jas mahal yang terjahit sempurna di tubuhnya, berdiri di ambang pintu. Senyum tipis terukir di wajahnya, tapi ada keraguan di balik tatapan itu.

“Ragil,” sahut Gautama dengan suara berat. Ia meletakkan cangkirnya di meja. “Sudah waktunya kau bersiap. Hari pelantikan semakin dekat. Aku ingin kau menjadi wakil presiden dengan mulus. Tak ada ruang untuk kesalahan.”

Ragil, putra bungsunya, tampak tak nyaman. Ia mendekat, duduk di sofa di depan meja ayahnya. “Ayah, aku… aku bukan seperti Andini atau Mas Bayu. Aku tidak paham politik seperti mereka. Kau tahu aku tak pernah tertarik dengan ini semua.”

Gautama tertawa kecil, tapi tawa itu dingin, tanpa sedikit pun kehangatan. “Ragil, tidak perlu paham politik. Yang kau butuhkan hanyalah taat pada apa yang kukatakan. Dunia ini bukan tentang kepandaian, melainkan tentang loyalitas dan kekuatan. Kau sudah terpilih karena aku membuatmu terpilih.”

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sang anak hanya bisa menunduk. Di balik senyum Gautama, Ragil tahu, tak ada ruang untuk menolak. Kehidupannya telah diatur sejak lahir, bahkan sebelum ia sadar apa yang sedang terjadi. Jabatan wakil presiden itu, bagi ayahnya, bukan lagi sekadar simbol regenerasi, melainkan langkah menuju tahta tertinggi yang akan ia wariskan. Semua sudah dirancang.

“Andini sudah jadi Menteri Luar Negeri, Mas Bayu mengendalikan parlemen. Sekarang giliranmu, Ragil. Kalian bertiga adalah masa depan dinasti ini. Jangan membuatku kecewa.”

Suara Gautama seperti palu yang memukul lantai pengadilan. Tidak ada bantahan yang bisa diberikan oleh Ragil. Ia hanya bisa mengangguk.

Gautama berdiri, berjalan ke arah jendela yang menghadap taman istana. Pikirannya sudah jauh melesat ke depan, ke masa di mana ia akan turun, tetapi hanya untuk naik lagi, kali ini melalui anak-anaknya. Segala aturan konstitusi yang pernah menjadi penopang demokrasi, sudah diubah dengan tangan besinya. Tak ada batasan masa jabatan yang bisa menghentikan langkahnya. Semua direkayasa, agar kekuasaan tetap dalam genggaman keluarga Ranuwijaya.

“Semua berjalan sesuai rencana, Pak,” sebuah suara lain masuk ke ruangan. Aryo, Kepala Staf Kepresidenan, melangkah masuk tanpa diundang. Pria tua itu telah setia melayani Gautama selama bertahun-tahun, seperti bayangan yang tak pernah lepas. “Peleburan undang-undang baru sudah disetujui parlemen. Tidak ada yang berani melawan.”

Gautama mengangguk pelan, wajahnya tersenyum puas. “Bagus. Kuatkan pengamanan di media. Aku tak mau satu pun berita buruk tentang keluargaku keluar ke publik. Andini cukup lemah dalam mengendalikan narasi internasional. Aku tak mau ada pemberontak kecil yang mencari-cari celah.”

Aryo mengangguk patuh. “Sudah saya atur, Pak. Setiap suara sumbang akan dibereskan.”

Gautama menatap Aryo tajam. “Jangan buat kesalahan.”

Aryo membungkuk hormat. “Tidak akan, Pak.”

Ketika Aryo pergi, Ragil masih duduk di sana, tenggelam dalam pikirannya. “Ayah,” panggilnya perlahan. “Kau yakin ini benar? Apa yang kita lakukan? Mengubah undang-undang… menempatkan kami semua dalam posisi ini… Apa itu keadilan bagi rakyat?”

Gautama berbalik, tatapannya dingin. “Keadilan, Ragil? Keadilan adalah milik yang berkuasa. Kau takkan pernah memahami itu jika terus berpikir seperti orang awam. Ini bukan tentang benar atau salah. Ini tentang kekuasaan. Jika kau tidak memegangnya, orang lain akan mengambilnya darimu. Itulah hukum kehidupan.”

Ragil terdiam. Apa yang bisa ia katakan? Ayahnya bukanlah sosok yang mudah dibantah. Di balik tatapan tajam itu, Ragil melihat bayangan seorang pria yang terlalu lama berada di puncak kekuasaan, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa. Segala hal di mata Gautama hanyalah strategi, kekuasaan yang harus diperpanjang, diperkuat, dan diwariskan.

Di luar sana, senja sudah hampir sepenuhnya berubah menjadi malam. Lampu-lampu kota menyala, namun dalam kegelapan yang semakin pekat, bayangan kekuasaan Gautama Ranuwijaya terasa lebih menakutkan dari sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, langkah terakhir dari rencana Gautama terkuak. Sebuah isu besar menggemparkan: tanah di wilayah perbatasan akan dijual ke negara tetangga. Wilayah itu adalah bagian dari sumber daya alam negara, kaya akan tambang emas dan minyak. Namun, alih-alih menjaga kedaulatan, Gautama mengarahkan para pejabatnya untuk menandatangani perjanjian penjualan tanah itu.

“Kita membutuhkan uang untuk memperkuat ekonomi nasional,” katanya dalam sebuah rapat kabinet. “Ini langkah yang berani, tapi hanya ini yang bisa menjaga kestabilan negara kita.”

Andini, yang biasanya diam, akhirnya angkat bicara. “Ayah, ini tidak benar. Menjual tanah negara ke asing? Ini pengkhianatan pada kedaulatan kita.”

“Pengkhianatan?” Gautama menatap putrinya dengan amarah yang meledak. “Pengkhianatan adalah membiarkan negara ini runtuh! Kalian terlalu banyak membaca buku sejarah, tapi tak tahu apa yang terjadi di dunia nyata! Aku tidak akan membiarkan negara ini bangkrut hanya karena sentimentalisme semu tentang tanah dan batas wilayah!”

Di luar ruang rapat, rakyat semakin gelisah. Kabar tentang penjualan tanah itu bocor ke media. Demonstrasi mulai bermunculan di ibu kota. Ribuan orang turun ke jalan, menuntut pembatalan perjanjian itu. “Tanah ini milik kita!” teriak para demonstran. “Kita bukan komoditas untuk dijual!”

Namun, seperti biasa, suara-suara itu dibungkam. Aparat kepolisian dengan cepat menghalau massa. Dalam sekejap, protes itu mereda, atau setidaknya tampak mereda di permukaan. Namun, di balik layar, api pemberontakan semakin berkobar.

Di malam terakhir sebelum perjanjian tanah itu ditandatangani, Gautama duduk sendirian di ruang kerjanya. Bayangan cahayanya terpantul di cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Namun, cermin itu kini tampak retak di beberapa bagian, membuat bayangan Gautama terpecah-pecah, seperti simbol dari kekuasaannya yang mulai runtuh. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasakan ketakutan.

“Bagas!” teriaknya pada ajudan yang berdiri di pintu. “Kumpulkan semua. Aku tak mau ada kesalahan besok.”

Namun saat ajudannya keluar, Gautama menatap cermin itu lagi. Wajahnya yang dulu tampak berwibawa, kini mulai menua, dengan keriput dan lingkaran hitam di bawah matanya. Ia menatap bayangannya yang terpecah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bertanya-tanya: Apakah semua ini akan bertahan?

Keesokan harinya, saat langkah terakhir dari kekuasaannya hendak dijalankan, suara rakyat tidak lagi bisa dibendung. Sebuah pemberontakan yang tak pernah ia duga meletus. Pasukan yang biasanya setia kepadanya mulai goyah. Aparat keamanan tak mampu menahan lautan manusia yang telah terlalu lama ditindas. Istana yang selama ini tak tergoyahkan, akhirnya dikepung oleh rakyatnya sendiri.

Di dalam ruangan itu, Gautama hanya bisa menatap cermin yang kini sepenuhnya retak. Cerminnya, yang dulu memantulkan kekuasaan mutlak, kini hancur—seperti tahtanya yang tak lagi bisa ia genggam.


Penulis: Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button