TinjauAds
Mas GunturPilihan Redaksi

Sang Jenderal dan Pertaruhan Takdir

Dibaca dalam waktu6 Menit, 4 Detik

TINJAU – Masa depan itu kelabu, serupa debu yang mengaburkan langit. Teknologi membungkus segala aspek kehidupan, namun di balik kemajuan itu, kekuasaan tetap menjadi inti pertempuran manusia. Jenderal Arman Wijaya, pria tegap berusia 56 tahun, kini berdiri di ambang kekuasaan puncak. Pemilu baru saja usai, dan dia menang dengan selisih yang tipis, seakan kehendak nasib tak ingin terlalu jelas memilih antara kekuasaan yang lama atau harapan yang baru.

Di ruang kerjanya yang dingin, layar-layar hologram memamerkan hasil pemilihan, dengan nama Arman terpampang besar, dielu-elukan oleh media. Namun di sudut ruangan, ada sebuah foto yang selalu menarik matanya: wajah keras mantan presiden Anton Wiryawan, yang selama dua dekade menguasai negeri dengan tangan besi. Dialah ayah mertua Arman, sosok yang dulu dipuja sebagai “penjaga ketertiban,” tapi juga dihantui oleh sejarah kelam kekerasan dan penghilangan paksa.

Arman menatap foto itu lama, tenggelam dalam ingatan kelam. Ia tahu apa yang disaksikannya selama dua puluh lima tahun terakhir, tak bisa dihapus begitu saja. Kala itu, ia bersama pasukan khusus menyerbu asrama mahasiswa, menculik pemimpin-pemimpin protes, membungkam suara-suara perlawanan dengan brutal. Ia hanyalah alat—kaki tangan kekuasaan Anton. Namun malam ini, meskipun waktu telah berlalu, ia masih bisa mendengar teriakan putus asa para mahasiswa itu.

Arman kini bukan lagi sekadar alat. Tapi apakah ia sudah benar-benar menjadi penguasa? Ataukah masih terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu?


Di malam yang hening, di tengah kedamaian yang terasa rapuh, Shinta, istrinya, datang mendekatinya. Wajahnya penuh kekhawatiran. “Kau tampak gelisah, Mas. Apa yang kau pikirkan?” tanyanya pelan, duduk di sofa besar yang terletak di sebelah meja kerja Arman.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Aku memikirkan protes yang mulai merebak lagi,” jawab Arman, suaranya dalam namun sarat dengan beban. “Mereka ingin kebebasan. Mereka lelah hidup dalam ketenangan yang dibuat-buat, Shinta.”

Shinta memandang suaminya dalam diam, sebelum akhirnya bicara, “Kau tahu mereka akan selalu ada, bukan? Tak peduli seberapa banyak yang kau lakukan untuk mereka, akan selalu ada yang tidak puas. Bukankah Ayah selalu berkata begitu?”

Arman mengangguk. “Iya, aku ingat. Ayah selalu berkata, ‘Rakyat tidak tahu apa yang terbaik untuk mereka. Itu tugas kita, para penguasa, untuk memastikan negeri ini tetap stabil, tak peduli berapa nyawa yang harus dikorbankan.’ Tapi… aku mulai berpikir, apa benar itu cara satu-satunya? Apakah aku harus menjadi seperti Ayah?”

“Ayah hanya melakukan apa yang diperlukan, Arman,” Shinta berkata dengan nada tegas, meski ada ketakutan terselubung di balik suaranya. “Negeri ini, rakyat ini… mereka butuh pemimpin yang kuat. Kau tidak bisa ragu sekarang.”

Arman berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kota. Lampu-lampu holografik berkedip-kedip di kejauhan, seperti nyala api yang rapuh. “Aku tidak ingin mengulang sejarah, Shinta,” katanya dengan suara rendah. “Aku tidak ingin tangan-tanganku terus berlumuran darah. Aku tak bisa lari dari kenangan masa lalu—dari teriakan mahasiswa yang kutangkap, dari mayat-mayat yang hilang tanpa jejak. Setiap malam mereka datang dalam mimpiku. Apakah aku benar-benar tak bisa menjadi pemimpin yang berbeda?”

Shinta mendekat, menggenggam tangannya. “Arman, kau melakukan ini untuk kita. Untuk anak-anak kita. Kau tahu, jika kau lemah, jika kau membiarkan mereka menghancurkan apa yang kau bangun, mereka akan datang merebut semuanya. Kita tidak bisa kembali ke masa itu—masa di mana keluarga kita diburu.”

“Apakah harga untuk mempertahankan ini semua harus begitu tinggi, Shinta?” suara Arman pecah, lebih lemah dari biasanya. “Aku takut, jika aku meneruskan apa yang Ayah lakukan, aku akan kehilangan diriku sendiri. Apa kau pernah berpikir soal itu?”

Shinta terdiam sejenak, wajahnya menegang. “Apakah kau ragu, Mas? Kau ragu untuk menjadi pemimpin yang kuat? Kalau kau tidak bisa… kalau kau tidak bisa menjaga keluarga kita, mungkin kau tidak pantas berada di sini.”

Kata-kata itu menampar Arman. Dia menatap istrinya, yang kini tak lagi terlihat sebagai pendamping setia, tetapi sebagai bayangan dari ayahnya sendiri. Ketakutan yang membelit hati Shinta telah merusak keyakinannya pada suaminya sendiri.


Beberapa hari kemudian, protes mulai membesar. Rakyat yang bosan dengan ketenangan yang terkendali mulai turun ke jalan. Mereka menuntut lebih banyak kebebasan, menolak kendali teknologi yang mengatur setiap aspek kehidupan mereka. Di bawah tekanan yang semakin intens, Arman dipanggil oleh para penasihat militernya.

“Pak, kita harus bertindak tegas,” kata Kolonel Hartono, yang sudah lama menjadi tangan kanan Arman. “Jika kita biarkan ini berlarut-larut, mereka akan semakin kuat. Kita harus mengerahkan pasukan, seperti dulu. Kita hancurkan mereka sebelum situasi semakin buruk.”

Arman menatapnya dengan tatapan dingin. “Apakah kita selalu harus menyelesaikan masalah dengan kekerasan, Hartono? Apakah tidak ada cara lain?”

“Pak, ini bukan soal cara lain. Ini soal stabilitas. Jika kita biarkan mereka berkumpul, mereka akan membuat kekacauan yang lebih besar. Kau ingat bagaimana Ayah Mertua Anda menangani ini dulu. Itu cara yang berhasil.”

“Tapi aku bukan Anton!” Arman berteriak, nadanya menggema di ruangan. “Aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku… aku ingin sesuatu yang lebih baik.”

Hartono menundukkan kepala, terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara lagi. “Terserah Anda, Pak. Tapi ingat, sejarah tidak akan menunggu.”


Di malam yang menentukan, ribuan pendukungnya berkumpul di alun-alun utama. Arman berdiri di podium, menatap kerumunan di hadapannya. Di belakangnya, layar hologram memproyeksikan gambarnya—seorang pemimpin yang agung dan tegas. Tapi di dalam hatinya, dia hanya pria yang penuh kebimbangan.

“Saudara-saudara…” Arman memulai pidatonya, suaranya serak. “Aku pernah menjadi bagian dari kekuasaan yang menindas, dari rezim yang merampas suara kalian. Tapi hari ini, aku berdiri di sini bukan untuk melanjutkan kegelapan itu.”

Kerumunan mulai bergemuruh, beberapa orang berteriak menyetujui, namun sebagian tampak ragu.

“Aku tahu kalian lelah,” lanjut Arman. “Kalian ingin kebebasan, kalian ingin hidup di dunia di mana suara kalian tidak ditenggelamkan. Aku tidak akan memerintah dengan rasa takut. Aku memilih untuk menjadi pemimpin yang mendengarkan, yang membawa kalian maju bukan dengan kekuatan senjata, tapi dengan hati dan pikiran.”

Suasana menjadi semakin tegang. Di kejauhan, ledakan tiba-tiba mengguncang malam. Para demonstran yang protes berhadapan dengan pasukan militer, dan situasi mulai tak terkendali.

Shinta, yang berdiri di dekat podium, menatap suaminya dengan marah. “Apa yang kau lakukan, Arman? Mereka menghancurkan semuanya!”

Arman menatap Shinta dengan tatapan yang penuh kesedihan. “Aku tidak bisa lagi, Shinta. Aku tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi Anton yang lain.”

Shinta mendekat, wajahnya penuh dengan amarah. “Kau lemah, Arman! Kau akan kehilangan segalanya!”

Namun sebelum Arman bisa menjawab, suara tembakan terdengar. Sebuah peluru menembus dadanya. Tubuhnya terhuyung, darah mengalir membasahi seragamnya. Arman jatuh ke tanah, pandangannya mulai mengabur. Di tengah kerumunan yang panik, dia melihat Shinta berlari ke arahnya, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.

Sebelum gelap menelan segalanya, Arman sempat berpikir—mungkin inilah akhirnya. Akhir dari kekuasaan, akhir dari penebusan yang tak pernah bisa sepenuhnya ia capai. Dan dengan tarikan napas terakhirnya, dia berharap, di dunia yang akan datang, dia bisa menjadi seseorang yang berbeda.


Arman meninggal di atas panggung kekuasaan yang dia perjuangkan, meninggalkan negeri dalam kekacauan. Kekerasan yang dia tolak kembali menggulung negara itu. Rakyat yang dulu memujanya kini terpecah, tak tahu apakah pemimpin mereka adalah pahlawan atau pecundang. Dalam sekejap, semua yang dia bangun hancur, tenggelam dalam kerusuhan dan darah—warisan tragis seorang pria yang ingin lari dari masa lalunya, tapi tak pernah benar-benar bisa melepaskannya.


Penulis: Guntur

Mas Guntur adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button