TinjauAds
BisnisLintas Batas

Flu Burung Brasil, Waspada!

Dibaca dalam waktu1 Menit, 36 Detik

Flu Burung mewabah di Brasil, setelah pemerintah setempat mengumumkan keadaan darurat kesehatan hewan selama 180 hari sebagai tanggapan atas deteksi pertama virus flu burung H5N1 yang sangat menular pada unggas liar.

Brasilia, tinjau.id Brasil yang merupakan pengekspor daging ayam terbesar di dunia dengan penjualan 9,7 miliar dollar AS pada 2022, sejauh ini mengonfirmasi delapan kasus H5N1 pada burung liar, termasuk tujuh di negara bagian Espirito Santo dan satu di negara bagian Rio de Janeiro.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Pertanian Brasil mengatakan pada hari Senin (22/5/2023) bahwa pihaknya telah membentuk pusat operasi darurat untuk mengoordinasikan, merencanakan dan mengevaluasi aksi nasional terkait flu burung.

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Melansir Guardian, informasi mengenai infeksi H5N1 pada burung liar tidak memicu larangan perdagangan, berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WHO). Meski begitu kasus flu burung di peternakan biasanya mengakibatkan seluruh kawanan mati dan dapat memicu pembatasan perdagangan dari negara pengimpor.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Meskipun negara bagian penghasil daging utama Brasil berada di selatan, pemerintah waspada setelah kasus yang dikonfirmasi, karena flu burung pada unggas liar telah diikuti oleh penularan ke ternak komersial di beberapa negara.

Terkait wabah ini, saham BRF SA yang berbasis di Brasil, eksportir ayam terbesar dunia, naik 3,6 persen sebelum pengumuman pemerintah, tetapi mengakhiri hari dengan 0,5 persen lebih rendah.

Selama akhir pekan, Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan sampel dari 33 kasus dugaan flu burung pada manusia di Espirito Santo, di mana Brasil mengkonfirmasi kasus pertama pada burung liar minggu lalu, semuanya kembali negatif.

Wabah flu burung awalnya dimulai di Kanada dan menyebar ke Amerika. Sementara dunia telah mengalami wabah terburuk sejak Oktober 2021, menyebabkan lebih banyak kematian burung liar daripada sebelumnya. Beberapa mamalia juga terjangkit penyakit tersebut.

Para ilmuwan tetap tidak yakin mengapa wabah ini terbukti jauh lebih buruk daripada yang lain, tetapi Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) telah melaporkan dampak yang menghancurkan kesehatan dan kesejahteraan hewan.

Back to top button