TinjauAds
Bisnis

Pemkot Surabaya Jalin KAD Tekan Harga Bahan Pokok

Dibaca dalam waktu1 Menit, 44 Detik

Pemkot Surabaya menjalin KAD dengan sejumlah daerah untuk menekan harga bahan pokok. Kerja sama  ini melalui skema bisnis to bisnis (B2B) dengan cara mempertemukan langsung produsen dan pedagang.

Surabaya, tinjau.id – Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Kota Surabaya, Dewi Wahyu Wardani menyebutkan, pihaknya melakukan kerja sama    di antaranya dengan Nganjuk, Mojokerto dan Blitar.

“Kita sudah melakukan KAD dengan Nganjuk, Mojokerto, Blitar. Produk komoditinya ada  bawang merah, cabai, dan beras,” kata Dewi Wahyu Wardani di kantor eks Bagian Humas Pemkot Surabaya, Rabu (8/3/23) lalu.

Dewi menjelaskan, kerja sama ini bertujuan untuk mempertemukan antara pedagang Surabaya dengan produsen di daerah.

Sedangkan untuk mekanisme kerja sama saat ini merujuk B2B atau pemkot mempertemukan langsung pedagang dengan produsen.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Legalnya masih dalam pembahasan  di Bagian Hukum, kalau B2B nya sudah. Karena langsung bisnis to bisnis antara pedagang dengan yang di sana (produsen),” jelasnya.

Ia juga menerangkan bahwa menjelang Ramadan sejumlah komoditas bahan pokok rentan mengalami kenaikan harga.

Sejumlah bahan pokok yang rentan mengalami kenaikan itu di antaranya adalah bawang merah, cabai, tepung, daging, dan telur.

“Itu ya (rentan mengalami kenaikan harga). Soalnya kan orang biasanya kalau mau lebaran buat kue dan rendang,” sebutnya.

Meski demikian, Dewi memastikan Pemkot Surabaya terus berupaya menekan harga bahan pokok dan menangani inflasi.

Salah satu upaya itu melalui operasi pasar oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil, dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag).

“Penanganan inflasi itu yang sering kita lakukan dengan Dinkopdag melalui operasi pasar,” jelas Dewi.

Pemkot Surabaya Fasilitasi Para Pedagang

Bahkan untuk memangkas biaya transportasi, Dewi menyebut jika Pemkot Surabaya juga memfasilitasi para pedagang. Di mana pemkot menyediakan kendaraan untuk mendistribusikan beras dari gudang Bulog ke pedagang di pasar-pasar tradisional.

“Jadi transpor dari pemkot ambil ke Bulog, sehingga pedagang tidak terbebani oleh biaya transpor. Sehingga dia (pedagang) tetap jual ke masyarakat dengan harga di bawah HET (harga eceran tertinggi),” ungkapnya.

Selain beras, Dewi menyatakan, sebelumnya Pemkot Surabaya juga memfasilitasi pedagang terkait dengan komoditas minyak goreng.

Di mana pemkot membantu suplai kebutuhan Minyakita kepada pedagang di pasar-pasar tradisional.

“Jadi kemarin kita sudah bantu juga untuk pedagang di pasar-pasar untuk Minyakita” pungkasnya.

Back to top button