
TINJAU, Kualalumpur – Para pemimpin Asia Tenggara mengecam tindakan perdagangan sepihak melalui pernyataan bersama pada Selasa (27/5/2025) malam, tanpa secara khusus menyebut AS—pelanggan ekspor terbesar kawasan ini.
“Kami mencatat aksi-aksi unilateral yang berkaitan dengan tarif dan pembatasan perdagangan dan investasi lainnya, serta risiko fragmentasi global terus meningkat,” kata para pemimpin Assocation of Southeast Asian Nations (ASEAN) dalam pernyataan tersebut. Mereka telah mengadakan pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Anggota ASEAN Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Kamboja, semuanya masuk dalam daftar 20 besar negara dengan defisit perdagangan bilateral AS.
Presiden Donald Trump mengancam mereka dengan tarif “resiprokal” yang berkisar antara 24% hingga 49% bulan lalu. Tarif tersebut saat ini ditangguhkan sambil menunggu pembicaraan perdagangan, di mana tarif dasar universal sebesar 10% saat ini tetap berlaku.
Trump juga memukul China, mitra dagang utama Asia Tenggara, dengan tarif lebih dari 100% sebelum tarif tersebut juga dihentikan sementara. Tantangan utama bagi para pejabat perdagangan AS adalah mencegah barang-barang China disalurkan melalui negara-negara ketiga, seperti Asia Tenggara, ke AS.
“ASEAN menggarisbawahi bahwa tindakan perdagangan sepihak dan pembalasan bersifat kontraproduktif dan berisiko memperburuk fragmentasi ekonomi global, terutama ketika tindakan ini menciptakan dampak tidak langsung terhadap ASEAN,” bunyi pernyataan bersama para pemimpin tersebut.
Para pemimpin Asia Tenggara juga menyampaikan secara terselubung kekhawatiran akan pasar mereka yang dibanjiri barang-barang China yang awalnya ditujukan untuk ekspor ke AS.
“Kami menginstruksikan para pejabat terkait untuk memantau potensi risiko pengalihan perdagangan dan bekerja sama dengan para mitra melalui platform yang sudah ada untuk mencari solusi konstruktif,” ujar para pemimpin ASEAN.









