Helikopter Black Hawk Tabrak Pesawat, Trump Salahkan Kebijakan Biden dan Obama

TINJAU, Jakarta – Presiden AS Donald Trump menyalahkan kebijakan pendahulunya, Barack Obama dan Joe Biden dari Partai Demokrat, atas insiden tabrakan pesawat American Airlines dan helikopter Black Hawk di Washington, yang menewaskan 67 orang.
Menyitir CNN, Jumat (31/1/2025), investigasi masih dalam tahap awal, tetapi spekulasi Trump tidak demikian.
“Saya punya akal sehat, oke?” kata Trump saat didesak untuk memberi bukti yang dia miliki atas kesalahan yang dia limpahkan pada pemerintahan Biden dan Obama. “Sayangnya, banyak orang tidak punya [bukti].”
Trump menyalahkan rival politik lamanya, tak lama setelah mengumumkan “tidak ada [korban] yang selamat.” Ia menuding bahwa inisiatif keberagaman dari Partai Demokrat menyebabkan standar penerbangan longgar yang berkontribusi pada kecelakaan tersebut.
Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Transportasi Sean Duffy juga menyuarakan pandangan yang sama.
“Kita harus memiliki standar tertinggi bagi mereka yang bekerja dalam sistem penerbangan,” kata Trump. “Saya mengubah standar Obama dari yang sangat biasa-biasa saja menjadi luar biasa, Anda ingat itu. Hanya orang dengan kemampuan tertinggi, mereka harus memiliki kecerdasan tertinggi dan secara psikologis lebih unggul, yang diizinkan untuk memenuhi syarat sebagai pengatur lalu lintas udara.”
Ia juga mengecam mantan Menteri Transportasi Pete Buttigieg, yang menjabat sebagai satu-satunya anggota kabinet Biden yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay, dengan sarkas menyebutnya sebagai “pemenang sejati.”
“Tahukah Anda betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi sejak ia memimpin Departemen Transportasi?” kata Trump. “Ia adalah bencana. Ia adalah bencana sebagai wali kota, ia menghancurkan kotanya, dan ia adalah bencana — sekarang ia hanya banyak omong kosong.”
Trump menyebut peringatan tabrakan di udara dari pengawas lalu lintas udara “sangat terlambat” dan para prajurit yang menerbangkan helikopter Black Hawk Angkatan Darat AS “seharusnya memutuskan ke mana mereka akan pergi.”
“Analisisnya, berdasarkan pada visi,” kata Trump, ketika ditanya tentang siapa yang salah. “Ada banyak orang yang melihat apa yang terjadi. Ada beberapa orang yang tahu apa yang terjadi. Ada beberapa peringatan, tetapi peringatan itu diberikan sangat, sangat terlambat.”
Trump tidak menyebutkan siapa yang ia maksud, tetapi tampaknya merujuk pada pengawas lalu lintas udara. Ia juga mempertanyakan ketinggian helikopter pada saat kecelakaan.
Presiden itu melontarkan pandangannya, meski faktanya belum ada penyelidikan yang menyalahkan pengawas lalu lintas udara yang bekerja pada Rabu malam atas kecelakaan itu. Juga tidak jelas lembaga mana yang mempekerjakan pengawas tersebut.
“Ketika saya menjabat pada tahun 2016, saya membuat perubahan itu sejak awal karena saya selalu merasa bahwa pekerjaan ini dan pekerjaan lainnya juga, harus memiliki kecerdasan yang unggul, dan kami tidak benar-benar memilikinya,” kata Trump.
“Dan kami memilikinya. Dan kemudian ketika saya meninggalkan jabatan dan Biden mengambil alih, ia mengubahnya kembali menjadi lebih rendah dari sebelumnya.”
Trump mengeluarkan memorandum presiden pada Kamis (30/1/2025) yang memerintahkan peninjauan kebijakan penerbangan dan yang disebut Gedung Putih sebagai “kerusakan yang terjadi” pada keselamatan penerbangan di bawah pemerintahan Biden.
Memo tersebut secara khusus menyerukan penilaian ulang secara menyeluruh terhadap praktik perekrutan DEI (keanekaragaman, kesetaraan, dan inklusi) yang diterapkan selama pemerintahan sebelumnya.
“Meningkatkan kompetensi di atas segalanya, alih-alih kebijakan DEI yang ditempuh oleh pemerintahan Biden,” kata Trump. “Dan Obama, ya. Tetapi Biden, jauh lebih buruk,” imbuh Trump.
Penyelidikan terhadap salah satu bencana penerbangan paling mematikan di AS dalam sejarah modern baru saja dimulai. Otoritas federal yang ditugaskan untuk menyelidiki ialah bagian dari tenaga kerja pemerintah yang ingin dirombak Trump.









