TinjauAds
Lintas Batas

Bom Bunuh Diri Menewaskan 59 Orang di Masjid Peshawar

Dibaca dalam waktu2 Menit, 23 Detik

Bom bunuh diri meledak di sebuah masjid di Kota Peshawar, Pakistan, pada Senin (30/1/23). Ledakan ini telah membunuh sedikitnya 59 orang dan 150 orang luka-luka. Pihak berwenang mengatakan 27 orang yang tewas adalah petugas polisi.

Peshawar— Seseorang masuk ke dalam masjid di Peshawar dan melakukan bom bunuh diri. Ia duduk di barisan depan saat sholat berjamaah berlangsung, dan ledakan itu membunuh setidaknya 59 orang dan 157 lainnya luka-luka.

Pengeboman terjadi di masjid yang terletak di zona merah, tempat sejumlah instansi pemerintah berada, termasuk Gedung Menteri Utama, Gedung Gubernur, dan Gedung Majelis. Maka, kebanyakan korban yang meninggal dan luka-luka adalah orang yang bekerja di instansi pemerintahan. Pihak berwenang mengatakan sebagian bangunan runtuh dan banyak orang kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan

Kepala Polisi Peshawar, Muhammad Ijaz Khan, mengatakan dalam siaran di sebuah televisi bahwa kapasitas aula utama masjid hampir penuh saat ledakan terjadi.

Shahid Ali, seorang polisi yang selamat dari serangan itu, mengatakan kepada jurnalis AlJazeera bahwa ledakan itu terjadi beberapa detik setelah Sholat dimulai.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Saya melihat asap hitam membumbung ke langit. Saya berlari keluar untuk menyelamatkan hidup saya,” kata pria berusia 47 tahun itu kepada kantor berita AFP.

“Jeritan orang-orang masih bergema di benak saya,” tambahnya. “Orang-orang berteriak minta tolong.”

Perdana Menteri Shahbaz Sharif mengutuk pemboman itu sebagai ‘serangan terhadap Pakistan’. Dia menjanjikan “‘tindakan tegas’ terhadap mereka yang berada di balik serangan tersebut.

Siapa yang bertanggung jawab atas ledakan ini?

Dalam cuitan di Twitter, Sarbakaf Mohmand, seorang komandan Taliban Pakistan (Tehreek-e-Taliban, atau TTP), awalnya mengaku bertanggung jawab atas serangan pengeboman di Peshawar. Namun, beberapa jam kemudian, juru bicara TTP, Mohammad Khurasani, menyangkal bahwa pengeboman tersebut adalah tindakan kelompok itu. Ia mengatakan serangan mereka tidak menyasar masjid dan rumah-rumah ibadah.

“Tehreek-e-Taliban tidak ada hubungannya dengan serangan ini,” kata pernyataan TTP, melansir Aljazeera.

Pakistan mengalami lonjakan kekerasan selama setahun terakhir, dengan banyak serangan terhadap aparat penegak hukum, khususnya di provinsi Khyber Pakhtunkhwa serta provinsi selatan Balochistan. Pada tahun 2022 saja, badan pemantau Pakistan mencatat lebih dari 150 serangan yang diluncurkan oleh TTP.

TTP adalah kelompok pemberontak yang dekat dengan Taliban, Afghanistan. Meskipun ideologi TTP berbeda dengan Taliban, tetapi naiknya Taliban sebagai penguasa di Kabul telah mendorong pihak ini untuk memperkuat kelompok TTP di negara tetangga Taliban. Mereka telah memberontak melawan Pakistan selama lebih dari satu dekade. Meskipun November tahun lalu ada agenda gencatan senjat oleh TTP, tetapi perjanjian itu gagal.

Kelompok TTP menuntut penerapan ajaran yang sangat ketat dalam hukum Islam. Namun, mereka juga mendesak pemerintah Pakistan untuk membebaskan anggota mereka yang telah berada di penjara, dan pembalikan penggabungan wilayah kesukuan Pakistan dengan provinsi Khyber Pakhtunkhwa.

Bulan Maret lalu, ada juga pelaku bom bunuh diri yang menargetkan sebuah masjid di sana, menewaskan 64 orang dalam serangan paling mematikan di Pakistan sejak 2018. Tetapi serangan ini dilakukan oleh kelompok Islam di Provinsi Khorasan, ISKP (ISIS-K).

Editor: Michael Ckow

Back to top button