China Sedang Lakukan Perombakan Militer Besar-besaran, Mau Perang?

TINJAU.ID – Pekan lalu, Presiden China Xi Jinping memerintahkan reorganisasi besar-besaran terhadap Tentara Pembebasan China (People’s Liberation Army/PLA), yang paling luas sejak 2015. Perombakan ini dilakukan dengan tujuan memenangkan perang di masa depan.
Dilaporkan kantor berita Xinhua, China membubarkan Pasukan Dukungan Strategis (Strategic Support Force/SSF), yang dibentuk lebih dari delapan tahun lalu untuk meningkatkan kemampuan di bidang ruang angkasa, dunia maya, perang politik, dan elektronik.
Sebagai gantinya, Kementerian Pertahanan China dalam sebuah pernyataan mengatakan Xi akan membentuk cabang baru yang disebut Pasukan Dukungan Informasi (Information Support Force/ISF). Unit kedirgantaraan dan dunia maya yang sebelumnya berada di bawah Pasukan Dukungan Strategis kini secara organisasi sejajar dengan Pasukan Dukungan Informasi yang baru dibentuk.
“Ini merupakan cabang strategis baru PLA dan penopang utama pengembangan dan penerapan sistem informasi jaringan yang terkoordinasi,” ungkap Xi Jinping dalam sebuah upacara pada Jumat (19/04/2024) pekan lalu seperti diberitakan CNN.
Pasukan baru ini akan memainkan perang penting dalam membantu militer China “bertempur dan menang dalam peperangan modern.”
Pada jumpa pers di hari yang sama, juru bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian mengatakan SSF secara efektif dipecah menjadi tiga unit, yaitu Pasukan Pendukung Informasi, Pasukan Dirgantara, dan Pasukan Dunia Maya. Mereka akan bertanggung jawab langsung kepada Komisi Militer Pusat, badan di bagian atas rantai komando militer yang dikepalai oleh Xi Jinping.
Sementara itu di bawah struktur baru, PLA sekarang terdiri dari empat angkatan. Yaitu angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, dan angkatan roket. Ditambah dengan empat pasukan lain yaitu tiga unit pecahan SSF, yaitu ISF, Pasukan Ruang Angkasa, dan Pasukan Ruang Siber, dan satu lagi adalah Pasukan Pendukung Logistik Gabungan.
Berdasarkan laporan televisi pemerintah CCTV, Li Wei, Komisaris politik dari Pasukan Dukungan Strategis yang sekarang sudah tidak ada lagi, akan mengambil peran yang sama di Pasukan Dukungan Informasi. Dia berjanji akan mendengarkan instruksi Xi. Sementara komandan baru Pasukan Pendukung Informasi adalah Bi Yi.
Restrukturisasi terjadi ketika China berhadapan dengan Amerika Serikat (AS) dalam perebutan pengaruh global. Perang siber diketahui muncul sebagai medan pertempuran utama. AS, Inggris, dan Selandia Baru bulan lalu menuduh China mensponsori aktivitas siber jahat yang menargetkan lembaga-lembaga demokrasi.









