TinjauAds
Lintas Batas

Pindah Negara? Berikut Beberapa Alasan WNI Pindah ke Luar Negeri

Dibaca dalam waktu6 Menit, 36 Detik

Pindah negara sedang hangat ketika data Imigrasi Indonesia menyebut ribuan WNI terpelajar pindah ke Singapura dan menjadi warga negara di sana. Tentu bukan hanya ke Singapura. Banyak WNI merasa lebih nyaman di negeri lain. Apa saja alasannya dan negara mana saja?

Jakarta, tinjau.id Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham Silmy Karim buka-bukaan terkait data warga negara Indonesia (WNI) yang pindah jadi warga negara Singapura. Rata-rata mereka yang pindah berusia produktif yakni 25-35 tahun.

“Sekitar 1.000 orang per tahun (masyarakat Indonesia pindah jadi warga negara Singapura). Rata-rata ini usia produktif 25-35 tahun,” kata Silmy, Minggu (7/7/2023).

Berdasarkan data yang diterima detikcom, warga negara Indonesia yang pindah jadi warga negara Singapura paling banyak selama 2022 yakni mencapai 1.091 orang. Sedangkan selama 2021 mencapai 1.070 orang.

Jumlah itu jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pada 2020 jumlah warga negara Indonesia yang pindah jadi warga negara Singapura mencapai 811 orang. Jumlah itu sempat turun dibanding 2019 yang mencapai 940 orang.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Khusus di 2023, sampai April sudah ada 329 orang warga negara Indonesia yang pindah jadi warga negara Singapura. Jumlah itu lebih banyak dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 286 orang.

“Ini suatu realita bahwa banyak warga negara Indonesia yang tertarik pindah menjadi WNA negara tertentu. Ini baru data WNI yang jadi warga negara Singapura,” beber Silmy.

Sebelumnya Silmy menyebut Indonesia bersaing dengan negara lain untuk merebut orang-orang pintar. Pasalnya banyak mahasiswa yang pindah kewarganegaraan salah satunya ke Singapura.

“Dalam hal menentukan nasib bersama, harus bersatu. Pemerintah kasih beasiswa LPDP, memperjuangkan, kasih informasi supaya Gen Z generasi yang unggul dan berdaya saing,” imbuhnya dalam Festival Gen Z 2023 by CentennialZ, Sabtu (8/7/2023).

Mengapa pindah ke Singapura?

Director Political Economy & Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan secara umum penghasilan di Singapura jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Hal itu diduga kuat mendorong mahasiswa Indonesia di Singapura ingin melanjutkan kerja di sana hingga pindah kewarganegaraan.

“Penghasilan di Singapura jauh lebih tinggi dari di Indonesia sehingga biaya hidup yang juga relatif tinggi tidak menjadi masalah. Bekerja di Singapura memberi kepastian masa depan,” kata Anthony saat dihubungi.

Singapura juga dinilai serba efisien dan tertib. Dari segi sektor kesehatan dianggap sangat baik, transportasi publik mudah, hingga lingkungan yang terjaga.

“Bagi yang suka hidup damai dan tentram, Singapura menjadi pilihan utama. Bukan hanya bagi orang Indonesia, tetapi juga bagi orang Barat,” jelas Anthony.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal juga menilai gaji di Singapura yang lebih tinggi menjadi alasan banyak mahasiswa Indonesia pindah kewarganegaraan.

“Ada beberapa manfaat yang dikejar oleh anak muda pada umumnya. Yaitu para pencari kerja mencari standar gaji yang lebih tinggi dan itu memang kita lihat standar gaji di Singapura memang lebih besar,” ucap Faisal.

Selain itu, peluang kesempatan kerja di sektor formal lebih banyak di Singapura ketimbang di Indonesia. Faisal mencontohkan, di satu bidang keilmuwan tertentu misalkan sains, dari sisi peralatan laboratorium di Indonesia punya gap cukup tinggi dibandingkan dengan di luar.

“Banyak sekali lulusan sains warga Indonesia di luar negeri itu menyoroti ini sebagai satu tantangan kalau bekerja di Indonesia. Sementara kalau di luar sudah jauh lebih bagus dari sisi fasilitas untuk menjalankan bidang keilmuwan dia,” bebernya.

WNI pindah ke Australia

Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan Australia pada 2016, warga Indonesia paling banyak tinggal di dua kota utama Australia, yaitu Sydney dan Melbourne.

Melbourne adalah kota terbesar kedua di Australia dengan populasi 4,2 juta orang. Kota ini juga menjadi rumah bagi 8 lembaga pendidikan yang diakui secara global yang dapat menampung hingga 300 ribu siswa, di mana dua pertiganya adalah siswa dari luar negeri.

Menurut situs Study Melbourne, setiap tahunnya terdapat 200 ribu siswa dari 170 negara yang datang ke Victoria untuk melanjutkan studinya. Monash, Melbourne University dan RMIT adalah tiga intitusi pendidikan yang paling diminati oleh siswa Indonesia di Melbourne.

Rupanya, bukan hanya untuk menimba ilmu saja alasan banyak orang Indonesia yang tertarik tinggal di Australia. Tetapi juga karena harga hunian atau properti di sana, cenderung lebih rendah karena ada kebijakan baru yang ditetapkan Pemerintah di sana.

Guna mempercepat pemulihan ekonomi khususnya di sektor properti, pemerintah negara bagian Victoria mengeluarkan kebijakan khusus bagi para pembeli hunian pertama termasuk para pembeli dari luar negeri. Pemerintah Victoria memberikan potongan hingga 50 persen untuk stamp duty bagi para First Home Buyers untuk proyek hunian off-the-plan hingga Juli 2022.

Hal ini tentu saja membuat sektor properti di negara bagian Victoria, khususnya Melbourne semakin menggeliat. Menyikapi hal tersebut, Direktur Penjualan dan Pemasaran Crown Group Indonesia, Tyas Sudaryomo, mengungkapkan antusiasmenya menatap tahun 2022.

“Tentu saja hal ini merupakan berita yang menggembirakan khususnya bagi para calon pembeli dari Indonesia yang sedang mencari investasi properti di Melbourne dengan potensi imbal hasil yang besar,” ujar Tyas.

Tyas menambahkan, hampir 60 persen mereka yang tinggal di kawasan inner suburb Melbourne seperti Southbank adalah penyewa.

“Tidaklah mengherankan apabila Melbourne selain dikenal sebagai kota universitas terbesar di Australia tapi juga sebagai destinasi investasi properti di Kawasan Asia Pasifik,” ujar Tyas  Mengutip Theurbandeveloper, bank-bank besar Australia memprediksi harga hunian di Kota Melbourne tahun 2022, tumbuh dengan sangat positif. ANZ memperkirakan pertumbuhan hunian mencapai 7 persen, sementara CBA dan Westpac memprediksi pertumbuhan harga mencapai 8 persen.

Saat ini, Crown Group juga sedang membangun hunian mid-rise pertamanya di kota Melbourne, yaitu ARTIS. Terletak di area sudut seluas 2,070 meter persegi di 175 Sturt Street, bangunan ini akan menampung 153 unit apartemen dan dengan satu, dua dan tiga kamar tidur yang mewah serta griya tawang.

Pergi untuk Hidup yang Lebih Baik?

Nadya Karima Melati dalam opini yang dimuat di DW menulis, mengapa banyak orang Indonesia yang pintar dan punya hak istimewa lebih suka mencari pendidikan, bekerja dan tinggal di luar negeri?

“Indonesia telah gagal memenuhi kebutuhan mereka. Nasionalisme yang sekadar mengagungkan tentara dan negara harusnya menjadi paham yang usang karena globalisasi dan teknologi membuat batas-batas negara semakin menipis,” tulis Nadya.

Menurut Nadya, migrasi menjadi salah satu pilihan populer untuk bertahan hidup di dunia yang bundar ini. Migrasi punya faktor penarik dan pendorong (pull and push factors) antara lain seperti perang, bencana alam dan upaya untuk mencari hidup yang lebih baik.

“Migrasi dengan alasan perang yang sempat menjadi momok yang ditakutkan Uni Eropa adalah dampak perang Suriah. Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat menjadi tujuan sebab menjanjikan kebebasan dan peluang untuk berkembang. Sementara itu, di Indonesia alasan utamanya memang mencari hidup yang lebih baik sebab negara tidak memenuhi kebutuhan hidup mereka,” papar Nadya.

Nadya berbincang dengan Ferdi yang sedang mengajukan asylum ke Inggris sebab identitas seksualnya sebagai gay membuatnya tidak nyaman tinggal di Indonesia. Tren kebencian terhadap LGBTIQ memang membuat banyak warga negara menjadi tidak merasa aman dan nyaman lagi tinggal di negara ini karena mereka rentan dipersekusi. Selain itu, warga negara LGBTIQ tahu bahwa ketika terjadi persekusi, mereka tidak mendapat perlindungan dari negara.

Rani, usia 30 tahun, lulusan Universitas Indonesia yang sedang gencar mencari sekolah master dan berharap bisa pindah selamanya dari Jakarta. Dia berargumen bahwa kualitas udara di Jakarta sangat buruk dan dia berkali-kali terkena penyakit paru-paru sebab menghirup udara yang kotor dan penanggulangan pencemaran lingkungan tidak pernah jadi bahasan oleh politik Indonesia.

Ada pula Fahri, lulusan bisnis ITB yang sengaja belajar pemrograman komputer supaya bisa pindah dan memboyong serta istri barunya keluar Indonesia. Ia ingin anaknya kelak mendapat pendidikan yang layak. Fahri sadar dengan kerja sama dalam bidang pendidikan antara pak menteri dengan TNI tentu akan semakin menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Mereka bertiga adalah contoh orang-orang yang sedang berusaha mengajukan diri dan menetap di negeri lain. Tuduhan bahwa banyak orang Indonesia yang pintar kabur ke luar negeri adalah benar. Pindah negara menjadi opsi bertahan hidup untuk nasib yang lebih baik. Orang-orang ini merasa tidak adil untuk terus hidup dengan kesempatan dan kebebasan yang terbatas. Bagi warga negara Indonesia biasa yang beruntung masih punya pilihan untuk bisa bermigrasi digunakanlah kesempatan tersebut.

Back to top button