TinjauAds
Lintas BatasPilihan Redaksi

Perang Meluas, Infrastruktur Energi Iran Jadi Sasaran Israel

Dibaca dalam waktu2 Menit, 39 Detik

TINJAU, Jakarta – Krisis yang tengah berlangsung di Timur Tengah kini merembet ke sektor energi Iran. Israel melancarkan serangan ke ladang gas raksasa di Teluk Persia, meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan baru di pasar global.

Serangan Israel pada Sabtu (14/6/2025) memicu ledakan besar dan kebakaran di fasilitas pengolahan gas alam yang terhubung dengan ladang South Pars, salah satu ladang gas terbesar dunia yang dimiliki Iran. Serangan di fasilitas darat Phase 14 ini memaksa penghentian produksi di salah satu platform lepas pantai, menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim.

Penargetan aset energi ini membuka babak baru dalam konflik yang mulai pecah pada Jumat, ketika Israel menggempur fasilitas nuklir Iran. Meski kerusakan pada fasilitas gas tersebut sebagian besar mempengaruhi pasokan energi domestik Iran, namun eskalasi konflik ini tetap berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia saat perdagangan dibuka kembali setelah akhir pekan.

Serangan ini meningkatkan risiko gangguan terhadap infrastruktur minyak Iran, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, serta mengancam pengiriman minyak dari kawasan sekitarnya. Harga minyak AS sempat melonjak hingga 14% pada Jumat sebelum stabil di kisaran US$73 per barel.

“Hal ini akan menjadi cukup signifikan,” kata Richard Bronze, Kepala Geopolitik di Energy Aspects Ltd. “Kita tampaknya memasuki siklus eskalasi, dan muncul pertanyaan apakah Israel akan terus menyasar infrastruktur energi Iran lainnya,” tambahnya.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Ladang South Pars merupakan ladang gas terbesar dunia, dan berlokasi di Iran serta Qatar. Ladang ini dikenal sebagai North Field. Gas dari South Pars sebagian besar digunakan untuk kebutuhan domestik Iran dan tidak banyak diekspor. South Pars sendiri menyumbang sekitar dua pertiga pasokan gas negara tersebut.

Kebakaran di fasilitas Fase 14 menghentikan produksi dari salah satu platform lepas pantainya, yang memproduksi sekitar 12 juta meter kubik per hari. Petugas pemadam berhasil mencegah penyebaran api ke unit lain.

Di saat yang sama, kebakaran lain juga terjadi di pabrik gas Fajr Jam, salah satu fasilitas pengolahan terbesar di Iran yang memproses gas dari South Pars serta ladang Nar dan Kangan.

Serangan ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi industri energi Iran yang memang sudah goyah. Negara kaya energi ini tengah mengalami pemadaman listrik terparah dalam beberapa dekade terakhir, yang memukul berbagai sektor ekonomi. Menurut Kamar Dagang Iran, pemadaman listrik ini menyebabkan kerugian sekitar US$250 juta per hari.

“Israel tengah mencari target-target ekonomi, namun untuk saat ini masih berupaya membatasi dampak lanjutan terhadap pasar internasional agar tidak kehilangan dukungan dari sekutu-sekutunya,” ujar Bronze.

Penyebab pasti kebakaran di Fajr Jam belum diumumkan, namun dugaan awal mengarah pada serangan drone, menurut laporan Tasnim.

Iran telah membangun jaringan besar fasilitas pengolahan gas dan petrokimia di sekitar Pelabuhan Assaluyeh di pesisir selatan negara itu. Fasilitas-fasilitas ini juga penting untuk ekspor kondensat, yaitu cairan ringan mirip minyak yang biasanya dihasilkan bersamaan dengan gas. Kondensat Iran sebagian besar dikirim ke China.

Selain itu, Iran juga mengekspor gas ke Irak dan pernah mengirimkan pasokan ke Turki. Namun, Iran belum mampu mengamankan investasi untuk membangun terminal LNG yang memadai agar bisa mengekspor gas secara luas ke pasar global.

“Ini merupakan eskalasi yang sangat signifikan,” kata Jorge Leon, analis Rystad Energy A/S sekaligus mantan pejabat di sekretariat OPEC.

“Ini mungkin serangan paling penting terhadap infrastruktur minyak dan gas sejak serangan ke fasilitas Abqaiq milik Saudi pada 2019,” tegasnya.

Back to top button