TinjauAds
HeadlineLintas Batas

Jelang Pemilu AS, Kamala Harris Komitmen Akhiri Perang di Gaza

Dibaca dalam waktu1 Menit, 45 Detik

TINJAU, Jakarta – Kamala Harris dari Partai Demokrat menyampaikan pidato penutup kampanyenya untuk pemilihan presiden AS pada Minggu (03/11/2024). Dia bertemu dengan komunitas keturunan Arab-Amerika di Michigan, hingga berbicara mengenai kemungkinan gencatan senjata di Gaza.

Dalam sebuah kampanye di East Lansing, Michigan, di hadapan sekitar 200.000 warga keturunan Arab di negara bagian itu, Harris mengawali pidatonya dengan menyoroti korban sipil akibat perang di Gaza dan Lebanon.

“Tahun ini sangat sulit, mengingat skala kematian dan kehancuran di Gaza serta penderitaan akibat korban sipil dan pengungsian di Lebanon. Ini sangat menghancurkan. Dan sebagai presiden, saya akan melakukan segala daya untuk mengakhiri perang di Gaza,” kata Harris, yang disambut tepuk tangan meriah seperti dilaporkan Reuters.

Banyak warga Arab-Amerika, Muslim, serta kelompok aktivis antiperang, mengecam dukungan AS terhadap Israel, menyusul puluhan ribu korban jiwa di Gaza dan Lebanon, serta pengungsian jutaan orang. Israel menyatakan bahwa mereka menargetkan kelompok militan Hamas dan Hizbullah.

Sebelumnya, Donald Trump mengunjungi Dearborn, Michigan, pusat komunitas Arab-Amerika, pada Jumat (01/11/2024). Ia juga berjanji akan mengakhiri konflik di Timur Tengah, meskipun tidak menjelaskan bagaimana rencananya.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sementara itu, jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat antara kedua kandidat. Harris (60 tahun) mendapatkan dukungan kuat dari pemilih perempuan, sedangkan Trump (78 tahun) mendapat banyak dukungan dari pemilih Hispanik, terutama laki-laki.

Menurut Election Lab dari Universitas Florida, lebih dari 78 juta warga Amerika telah memberikan suara sebelum Hari Pemilihan, hampir setengah dari total 160 juta suara yang diberikan pada tahun 2020, yang merupakan jumlah pemilih tertinggi di AS dalam lebih dari satu abad.

Pilpres pada Selasa (05/11/2024) akan menentukan kontrol atas Kongres. Partai Republik difavoritkan untuk mengamankan mayoritas di Senat, sementara Partai Demokrat berharap bisa merebut kembali kendali DPR, yang saat ini dipegang oleh Partai Republik dengan mayoritas tipis. Presiden yang partainya tidak menguasai kedua majelis Kongres biasanya menghadapi tantangan besar dalam meloloskan undang-undang utama.

“Hanya dalam dua hari, kita memiliki kekuatan untuk memutuskan nasib bangsa kita untuk generasi mendatang,” kata Harris di hadapan jemaat di Greater Emmanuel Institutional Church of God in Christ di Detroit. “Kita harus bertindak. Tidak cukup hanya berdoa; tidak cukup hanya berbicara.”

Back to top button