TinjauAds
Inspirasi

Film Dear David dan Belajar Mengenai Proses Menerima Diri

Dibaca dalam waktu3 Menit, 7 Detik

Film Dear David, kini tayang di Netflix. Proses menerima diri menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Proses ini memerlukan waktu yang lama, karena terkadang kita hanya hanyut dalam pemikiran pribadi. Misalnya kurang bisa menerima kritikan dari orang lain.

Jakarta, tinjau.idFilm Dear David yang tayang di Netflix, menjadi salah satu film yang mungkin perlu untuk masuk daftar wajib tonton. Terutama bagi para remaja yang masih mencari jati diri dan proses menerima diri.

Dear David tak hanya hadir dengan kisah remaja biasa, tetapi juga akan memberikan pengalaman berbeda untuk penontonnya.

Cinta segitiga, krisis identitas, dan fantasi seks menjadi bagian yang menarik dari film yang bintangnya adalah Shenina Cinnamon (Laras), Emir Mahira (David), dan Caitlyn North Lewis (Dilla).

Laras sebagai siswi SMA teladan, pintar, yang juga Ketua OSIS. Dia juga ambisius dan sayang keluarga.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Tokoh David adalah remaja pria yang sensitif, tidak suka sorotan, dan merasa biasa saja.

Sedangkan, karakter Dilla digambarkan pendiam, tidak suka bergosip, penyayang, dan sedang mencari jati diri.

Ide dari kehidupan Pribadi

Produser film ini, Muhammad Zaidy, menyatakan bahwa ide film ini datang dari penulis perempuan bernama Winnie Benjamin. Dia merupakan jebolan Universitas Binus program film.

“Awalnya ide cerita ini datang dari penulis muda, Winnie Benjamin yang memang cukup terinspirasi personal life (kehidupan pribadi). Dia penulis skenario, punya blog, dan fun fiction. Menurut saya, (cerita) ini cukup unik dan menarik untuk dieksplor. Sangat relevan dengan anak muda masa kini,” tutur Zaidy.

Mengenal dan mencintai diri menjadi nilai yang ditonjolkan dari film ini. Menurut Lucky Kuswandi, Sutradara film ini,  dua hal tersebut menjadi hal penting di masa sekarang, karena remaja terus dituntut lebih dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain lewat media sosial.

Self love dan self compassion. Aku merasa sekarang kita hidup pada zaman ketika kita dituntut lebih, ekstra dalam segala hal, karena remaja dengan social media mereka, mereka selalu mengkomparasi diri dengan orang lain. Menurut saya esensi tentang mencintai siapa kita, dengan segala kompleksitas kita, buat saya itu penting banget untuk dibahas,” tutur sang sutradara dalam konferensi pers, Rabu (8/2/23).

Bercerita tentang Laras yang fantasi nakalnya tersebar hingga membuatnya harus berani menghadapi berbagai konsekuensi, termasuk menerima penilaian negatif dari banyak orang. Dear David pun mengajak para penontonnya untuk kembali menemukan dan menerima diri yang sebelumnya.

“Kami merasa ini unik dan menarik untuk dieksplorasi serta relevan dengan anak muda saat ini, juga cocok bagi mereka yang sudah melewati fase itu dan menemukan diri kembali,” tutur Zaidy.

Shenina Cinnamon mencoba mencurahkan pengalaman dan apa yang ia lalui ke dalam diri Laras. Lewat kisah Laras, penonton pun akan menyadari bahwa setiap orang membutuhkan proses yang panjang untuk menerima dan mencintai dirinya.

“Saya pernah di posisi Laras, melalui perjalanan tersendiri dan proses panjang untuk bisa menerima dan mencintai diri sendiri. Maka saya ingin menumpahkan apa yang saya lewati melalui Laras,” ujar Shenina.

Proses menerima diri, termasuk jangan takut gagal

Di akhir cerita, Laras dengan keberaniannya melawan setiap bentuk ketidakadilan di sekolah. Setelah proses menerima diri itu, Laras berani melawan Kepala Sekolah, dan rela dikeluarkan dari sekolah.

“Film ini keren, pertama karena diksi Laras di akhir saat ia pidato, yang seharusnya meminta maaf malah membeberkan rentetan ketidakadilan dalam sekolah. Diksi yang dipakai hebat,” kata Zoza, mahasiswi di sebuah kampus di Surabaya.

Menurut Zoza, film ini agak erotis, namun tidak bisa melihatnya parsial.

“Makna di dalamnya bagus dan ini keseharian dunia kita: perundungan, kelancangan memasuki privasi orang lain, dan ya itu tadi yang mas bilang, bagaimana keberanian itu muncul. Wah, saya mungkin sudah dipecat sebagai anak kalau umur segitu cari gara-gara di sekolah dan keluar dari sekolah. Itu poinnya. Hari ini takut gagal karena tekanan? Janganlah. Ayo terbang bebas, bertanggungjawab,” tutup Zoza dalam percakapan daring dengan Redaksi Tinjau.

Back to top button