TinjauAds
Inspirasi

Film A Man Called Otto Inspirasi Keluarga

Dibaca dalam waktu1 Menit, 45 Detik

Film ‘A Man Called Otto’ bisa menjadi inspirasi bagi keluarga. Film ini sangat cocok untuk situasi remaja Indonesia, terlebih soal pelajaran mengasihi sesama manusia.

Jakarta, tinjau.idFilm A Man Called Otto merupakan adaptasi dari novel yang berjudul “A Man Called Ove”. Film ini merupakan film kedua yang mengadaptasi novel tersebut, sebelumnya sineas Swedia membuat film A Man Called Ove pada 2015.

A Man Called Otto bercerita tentang laki-laki tua pemarah bernama Otto Anderson, yang hidupnya sangat disiplin.

Otto Anderson adalah seorang mantan calon tentara yang gagal karena memiliki hati yang sangat besar. Membuat hidupnya sempat down karena merasa gagal dalam menjalani kehidupan setelah kehilangan orang yang berpengaruh dalam hidupnya, ayahnya.

Perubahan hidup Otto

Semua berubah ketika ia bertemu dengan perempuan di sebuah stasiun, ketika perempuan itu secara tidak sengaja menjatuhkan buku yang ia bawa. Otto, menyadari hal itu, mengambil buku dan berusaha mengembalikan buku itu.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Singkat cerita mereka menjadi keluarga, dan Otto sangat mempercayakan semuanya kepada istrinya. Setelah istrinya meninggal, Otto merasa hidupnya sudah berakhir. Tetangga yang memiliki watak sama sepertinya juga menghilang setelah terjadi ‘cekcok’ yang sebenarnya didasari dari sakit hati.

Bahkan Otto berusaha mengakhiri hidupnya dengan beberapa kali percobaan, tetapi selalu gagal karena kedatangan tetangga baru. Tetangga ini berusaha ramah kepada Otto yang sangat dingin.

Kedisplinan Otto membuatnya senantiasa memikirkan hal-hal yang eksternal, seperti aturan-aturan. Pada dirinya, Otto memiliki sakit hepatomegali yaitu hati yang membesar dari ukuran seharusnya.

Film komedi ini, mendapatkan rating 7.6 di Internet Movie Database (IMDb). David Magee (nominator Oscar lewat Life of Pi) mendapat kepercayaan untuk menulis skrip film ini. Melalui skripnya, ia mampu mengajak penonton untuk mencari tahu, apa yang membuat Otto menjadi seperti itu.

David Magee membawa penonton melihat adegan-adegan yang terjadi sebelumnya dengan kacamata yang baru setiap kali kita melihat informasi baru yang ia terima.

Sutradara film ini, Marc Forster, berhasil membuat film ini menyentuh tanpa membuatnya menjadi melankolis. Selain itu, Forster berhasil menyeimbangkan tone drama dan black comedy yang ada sehingga film ini menjadi sebuah suguhan yang spesial.

Back to top button