Menikmati Hidup Ala Ichigo Ichie
Setiap momen dalam hidup kita hanya terjadi sekali. Itu sebabnya jika kita membiarkannya berlalu, maka kita akan kehilangan selamanya.
Jakarta, tinjau.id – Dalam ungkapan Jepang itu terkenal dengan “Ichigo Ichie” yang bermakna sebagai “Once, a meeting”.
Ichigo Ichie mengajak kita bersyukur atas setiap waktu bersama orang tua tersayang, keluarga terkasih, pasangan tercinta, dan sahabat dekat.
Hector Garcia dan Francesco Miralles penulis buku itu menyebut, di era penuh berbagai gangguan dan budaya gratifikasi instan. Seringkali kita lalai menjadi pendengar yang baik, dan tidak memperhatikan sekeliling.
Padahal, kata penulis buku laris Ikigai ini. Setiap orang memegang kunci yang bisa membuka kembali pintu menuju perhatian, keselarasan dan kecintaan terhadap hidup. Kunci itu disebut Ichigo Ichie.
Penulis menemukan contoh tulisan Ichigo Ichie kali pertama dalam sebuah buku catatan master teh, Yamanote Soji, pada tahun 1588.
Dalam catatannya, ia menulis “Perlakukan orang yang mengundang Anda seolah-olah pertemuan tersebut hanya akan terjadi satu kali seumur hidup”.
Artinya, setiap upacara minum teh harus memberi perhatian penuh karena itulah Ichigo Ichie. Meskipun tuan rumah dan tamunya berjumpa setiap hari, pertemuan tersebut tidak akan pernah bisa terulang dengan cara yang persis sama.
Delapan Ajaran Zen untuk Hidup Ichigo-ichie
Dalam buku setebal 208 halaman ini, penulis memaparkan delapan ajaran Zen untuk hidup ala Ichigo Ichie.
Disebutkan, ajaran Buddha versi Jepang ini memiliki kekuatan luar biasa bagi siapa saja untuk menerapkan hal itu di dalam kehidupan sehari-hari.
Apa saja?
Duduk saja, dan lihat apa yang terjadi. Zen mengajarkan kita cukup duduk dan menikmati momen saat itu tanpa ambisi lain. Jika kita bersama orang lain, kita sebaiknya menikmati keberadaan mereka sebagai hadiah.
Nikmati momen ini seakan-akan merupakan tarikan nafas terakhir. Jangan menunda-nunda kebahagiaan. Momen terbaik hidup kita adalah saat ini.
Hindari gangguan. Misalnya, tidak melakukan beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan. Seperti berbincang dengan seseorang atau membaca buku sekaligus mmemeriksa telepon genggam.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Zen mengajarkan kita melakukan sesuatu satu demi satu, seolah-olah yang kita lakukan saat ini hal terpenting di dunia.
Bebaskan diri dari hal yang tidak penting. Hidup adalah petualangan mendebarkan, sehingga baiknya tidak membawa banyak barang saat bepergian.
Jadilah teman bagi diri sendiri. Daripada membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan mengkhawatirkan pendapat orang lain terhadap diri kita, anggap saja diri kita unik di dunia.
Ketidaksempurnaan merupakan hal lumrah. Singkatnya, setiap kekurangan merupakan isyarat untuk mengasah sebutir berlian.
Jika kita punya keinginan memperbaiki diri, maka ketidaksempurnaan itu merupakan kesempurnaan tersendiri.
Selalu mencoba berempati. Menurut perspektif Buddha, bersimpati kepada seseorang tidak sama dengan rasa iba. Tetapi lebih pada empati mendalam yang memungkinkan kita menyelami situasi orang lain sehingga dapat memotivasi mereka dan jika perlu, kesalahan mereka.
Melupakan semua ekspektasi. Karena dengan membuat prediksi, menunggu hal-hal tertentu terjadi, menjadi cara yang dijamin akan merusak suatu momen.
Buku Ichigo Ichie ini secara keseluruhan memberikan pencerahan kepada pembaca bagaimana menikmati setiap detik-detik waktu.
Ichigo-ichie cocok dinikmati sembari ngopi. Selamat membaca!









